Jumat Prapakah V, 30 Maret 2012

Yer 20: 10-13  +  Mzm 18  +  Yoh 10: 31-42

 

 

 

 

Lectio :

Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: "Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?"

Jawab orang-orang Yahudi itu: "Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah." Kata Yesus kepada mereka: "Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah -- sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan --, masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah? Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa."

Sekali lagi mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia luput dari tangan mereka. Kemudian Yesus pergi lagi ke seberang Yordan, ke tempat Yohanes membaptis dahulu, lalu Ia tinggal di situ. Dan banyak orang datang kepada-Nya dan berkata: "Yohanes memang tidak membuat satu tanda pun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar." Dan banyak orang di situ percaya kepada-Nya.

 

Meditatio :

'Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diriMu dengan Allah'.

Inilah alasan mendasar mengapa orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Memang menyakitkan kata-kata Yesus didengar oleh mereka.  Seperti yang kita renungkan kemarin: 'Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hariKu dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita' (Yoh 8: 56). Yesus lebih agung dan mulia daripada Abraham, bapa bangsa itu.

Yesus memang seorang yang hebat, tetapi menyamakan diri dengan Allah inilah yang membuat hati dan telinga banyak orang Israel panas dan meradang.  Yesus menimpali mereka: 'ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: kamu adalah allah; jikalau sebagian kamu saja disebut allah', karena tugasnya sebagai hakim, 'masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutusNya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah, karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?'. Ada kebiasaan Israel memanggil para hakim sebagai allah, karena memang adalah hak Allah saja yang berhak menghakimi umatNya (Yak 4: 12).  Karena itu, sebutan allah sebenarnya tidak terlalu asing bagi telinga orang-orang Israel. Karena pekerjaannya mereka dipanggil allah, seharusnya orang-orang pada waktu itu tidaklah salah, dan malahan harus berani mengamini segala perkataan dan pekerjaan Yesus, yang memang mampu melakukan segala pekerjaan yang dikehendaki Bapa.  'Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan BapaKu, janganlah percaya kepadaKu, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepadaKu, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa'.

Sekali lagi, mereka semua sulit untuk menerima keberadaan Yesus yang menyatakan diriNya seperti itu. Mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia luput dari tangan mereka, karena mamang saatNya belum tiba (Yoh 7: 30).

Apakah segala pernyataan Yesus selama itu dilihat sebagai kesombongan seorang Guru? Bukankah Dia itu orang Nazaret. 'Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibuNya bernama Maria dan saudara-saudaraNya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita?' (Mat 13: 55-56). Apakah Yesus itu seorang Guru yang tidak tahu diri? Orang satu ini memang nggak nyebut!

Apakah memang kedatangan Yesus itu tidak tepat waktunya? Tidak ada peperangan dan pergolakan social pada waktu itu? Tidak dapat disangkal mereka memang mengharapkan seorang pahlawan yang diharapkan membebaskan bangsa dari pendudukan Romawi. Sepertinya, kesadaran mereka akan datangnya mesias memang sebatas pahlawan nasional, dan bukanlah seorang Pahlawan yang memberi kehidupan baru, sebagaimana dikatakan dalam bacaan pertama. 'TUHAN menyertai aku seperti pahlawan yang gagah, sebab itu orang-orang yang mengejar aku akan tersandung jatuh dan mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka akan menjadi malu sekali, sebab mereka tidak berhasil, suatu noda yang selama-lamanya tidak terlupakan! Ya TUHAN semesta alam, yang menguji orang benar, yang melihat batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasanMu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku. Menyanyilah untuk TUHAN, pujilah TUHAN! Sebab ia telah melepaskan nyawa orang miskin dari tangan orang-orang yang berbuat jahat'.

Seruan semacam ini belum mampu terlontar dari mulud orang-orang Israel pada waktu itu. Bagaimana dengan kita sendiri? Sejauhmana kita mendambahkan bantuan dan pendampingan Yesus Kristus? Sebatas  Dia seorang Pemberi rejeki? Dia yang mendampingi kita dalam bekerja? Penjaga rumah kita? Seorang yang suka menjamah orang sakit sehingga beroleh kesembuhan? Sang Pemberi mukjizat? Prapaskah mengajak kita untuk berani memandang Yesus Kritus sang Penebus dan Penyelamat seluruh umat manusia.

'Yohanes memang tidak membuat satu tanda pun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar'

Itulah kesimpulan orang-orang yang datang dan berjumpa, yang mendengarkan dan memberi perhatian kepada Yesus. Dia ini sungguh Mesias Putera Allah yang hidup; dan memang selama ini Yesus tidak pernah memberitahukan siapakah diriNya. 'Sekalipun Aku mengatakannya kepada kamu, namun kamu tidak akan percaya; dan sekalipun Aku bertanya sesuatu kepada kamu, namun kamu tidak akan menjawab' (Luk 22: 67-68). Nama bukanlah soal sebutan atau panggilan, melainkan kepercayaan dan pengakuan. Kalau pun sekarang kita telah mengenal dan memanggilNya Kristus, tidaklah terlambat bagi kita untuk selalu datang dan berjumpa, mendengarkan dan memberi hati kepadaNya.

 

 

 

Oratio :

 

Yesus Kristus, tumbuhkembangkanlah pengenalan kami akan Engkau; dan ajarilah kami untuk berani datang dan berbicara dengan Mu, mendengarkan dan memberi hati kepadaMu. Semoga kerinduan kami tidak sebatas kepentingan kami yang sesaat ini. Amin.

 

Contemplatio :

          Engkaulah Kristus Putera Allah yang hidup.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening