Jumat Prapaskah II, 9 Maret 2012

Kej 37: 3-4  +  Mzm 105  +  Mat 21: 33-43.45-46

 

 

 

 

Lectio :

Berkatalah Yesus kepada imam-imam kepala dan tua-tua-tua bangsa: "Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain pula dengan batu. Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak dari pada yang semula, tetapi mereka pun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka.

Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya. Maka apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?" Kata mereka kepada-Nya: "Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya."

Kata Yesus kepada mereka: "Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu".

Ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus, mereka mengerti, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya. Dan mereka berusaha untuk menangkap Dia, tetapi mereka takut kepada orang banyak, karena orang banyak itu menganggap Dia nabi.

 

 

Meditatio :

'Hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita'.

Amat jelas dan begitu gamblang perumpamaan yang diberikan Yesus kepada para murid dan semua orang yang mengikutiNya. Dia menyorot penggarap-penggarap kebun anggur yang kurang dan bahkan tidak tahu berterima kasih itu. Tidak ada kesulitan dalam perawatan kebun, tanahnya juga begitu produktif; pekerjaan mereka begitu memberikan penghasilan yang menyenangkan. Kemapanan membuat mereka lupa daratan, sepertinya. Dan sungguh, mereka hanya mengalami kesulitan dalam berbagi hasil, sebagaimana kesepakatan yang tentunya telah diberikan kepada mereka. Kerakusan  dan keserakahan diri menguasai diri mereka, para penggarap kebun anggur. Egoisme memang selalu merusak komunikasi dalam hidup bersama; dan itulah yang dilakukan oleh para penggarap. Egoisme berlawanan sungguh dengan cinta kasih. Cinta membuat seseorang berani keluar dari dirinya sendiri,  dan bahkan memberikan diri kepada orang lain, sebaliknya egoisme menarik semua orang masuk dalam dirinya, seseorang menuntut semua orang yang ada di sekitarnya memperhatikan dan melayaninya.

Perumpamaaan yang begitu umum langsung diarahkan dan dikenakan kepada mereka para imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi, kata Yesus kepada mereka: 'Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu'. Tanpa segan-segan Yesus menegaskan bahwa para penggarap kebun anggur yang tidak tahu terima kasih itu adalah diri mereka. Yesus langsung menunjuk para imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi, dan bukan orang lain. Secara tegas Yesus menyatakan bahwa diriNyalah 'batu yang dibuang', batu yang diremehkan dan dipandang hina 'oleh tukang-tukang bangunan' yakni para imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi, karena memang mereka orang-orang yang duduk di kursi Musa yang memang harus menata dan memimpin bangsa Israel menjadi umat kesayangan Tuhan Allah sendiri. Merekalah yang seharusnya memperkenalkan Mesias yang ditunggu-tunggu itu kepada bangsa Israel. DiriNya sekarang 'telah menjadi batu penjuru', batu yang menentukan, batu yang harus ada dalam tonggak bangunan yang akan menjadi tempat kediaman Allah, yakni umat Allah sendiri. 'Hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita'. Ini adalah kehendak dan kemauan Allah, dan bukannya jasa baik umatNya. Allah tetap pada pilihanNya yakni agar semua orang beroleh selamat, walau mungkin akan adanya perlawanan dan penolakan.

Inilah misteri cinta kasih Allah kepada umatNya, yang semuanya akan dilakukan oleh AnakNya yang tunggal. Perlawanan dan penolakan dari umat yang hendak diselamatkan tidaklah menyurutkan hati Allah. Allah itu Kasih. Dia melakukan segala sesuatu, bukan karena orang-orang yang dikasihiNya, melainkan karena memang Allah sendiri mau melakukannya. Inilah kasih! Aku mengasihi, karena memang Aku mau.

Berkenaan batu yang dibuang oleh tukan-tukang bangunan kita diingatkan oleh bacaan pertama yang bercerita tentang pengalaman pahit yang harus dialami oleh Yusuf karena ulah saudara-saudaranya sendiri, mereka ini tak ubahnya dengan penggarap-penggarap kebun anggur. Menilik  pengalaman Yusuf, sepertinya seringkali Allah secara sengaja membiarkan peristiwa pahit itu terjadi dalam diri umatNya, termasuk orang-orang yang dipilihNya, bahkan dibuatNya sampai tidak berdaya. Itulah seringkali kemauan Allah yang sulit kita mengerti.  Namun tak dapat disanagkal, karya Allah selalu berjalan dalam pengalaman hidup umatNya, tak terkecuali mereka orang-orang yang dipilihNya; kita pun dipaksa untuk berani melalui malam gelap, menjalani padang gurun, bahkan harus mendaki gunung untuk mencapai sukacita bersama Allah.

Ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus, mereka mengerti, bahwa merekalah yang dimaksudkanNya. Dan mereka berusaha untuk menangkap Dia, tetapi mereka takut kepada orang banyak, karena orang banyak itu menganggap Dia nabi. Pengakuan akan Allah adalah soal hati; demikianlah yang terjadi dengan imam-imam kepala dan kaum Farisi, yang memang tidak mau memberi hati kepada Orang Nazaret ini. Mereka yang seharusnya memimpin orang-orang Israel untuk semakin mengenal Allah, malahan justru sebaliknya mereka sendiri tidak mau mengenal Dia. Mereka sungguh penggarap-penggarap kebun anggur atau tukang-tukang bangunan yang bertindak semaunya sendiri, yang tidak mau mengikuti Sang Ahli bangunan sejati yakni Allah (Ibr 3: 4).

 

 

Oratio :

 

Ya Tuhan Yesus Kristus, kami mudah kali mencari menangnya sendiri dalam hidup keseharian kami.  Kami ingin semua orang mengikuti keinginan kami, mereka harus begini dan begitu. Itu baru orang baik. Mereka  semua harus bertindak seperti gambaran kami, dan bukan itu, Engkau pun harus memuaskan diri kami. Ampunilah kami ya Yesus, semoga masa Prapaskah ini membuat kami untuk berani mengasihi Engkau dengan segenap hati. Amin.

 

 

Contemplatio :

Ada banyak hal yang terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening