Minggu Prapaskah II 4 Maret 2012


Kej 22: 16-19  +  Rom 8: 31-34  +  Mrk 9: 2-10
 
 
 
 
 
Lectio :
Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka,  dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu.
Maka nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus.  Kata Petrus kepada Yesus: "Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia."  Ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan. Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia."  Dan sekonyong-konyong waktu mereka memandang sekeliling mereka, mereka tidak melihat seorang pun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri.
Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorang pun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati.  Mereka memegang pesan tadi sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan "bangkit dari antara orang mati."
 
 
 
Meditatio :
'Guru,  betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia'.
Ucapan Petrus ini adalah ucapan sukacita. Tidak bisa disangkal, walau Markus mencatat bahwa 'ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya'.  Pasti Petrus tidak tahu apa yang harus dilakukan, karena memang dia begitu terpesona dan kagum, sebab suatu yang tidak mungkin lewat dalam benaknya bisa terjadi di depan mata mereka. Sebuah peristiwa surgawi terjadi di hadapan mereka, di mana 'Yesus berubah rupa di depan mata mereka,  dan pakaianNya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu. Tampak pula kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus'.   Kiranya bukan kemah peribadatan yang dibayangkan oleh Petrus, sebagaimana juga dibayangkan banyak orang, melainkan kemah tempat tinggal, karena memang mereka ingin peristiwa luhur dan mulia ini terus berlangsung. Hanya sukacita dan perasaan damai yang menyelimuti jiwa seseorang, bila bersama dengan Yesus, sang Mempelai; luapan sukacita, damai penuh kerinduan inilah yang terucapkan oleh sahabat-sahabat Mempelai laki-laki  (Mrk 2: 19) melalui kata-kata Petrus. Kemesraan ini jangalah cepat berlalu, biarlah kita tinggal di tempat ini, dan akan kudirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia. BersamaMu, kami bersukacita selalu.
'Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia'.
Pernyataan surgawi ini sepertinya menjadi prasyarat bagi mereka, kalau ingin terus menikmati sukacita dan damai, dan bukannya dengan mendirikan kemah ataupun mempersiapkan aneka fasilitas yang indah untuk Dia yang menampakkan kemuliaanNya itu. Kalau pun itu benar, mampukah mereka mendirikan tempat kediaman bagi Allah? 'Masakan engkau yang mendirikan rumah bagiKu untuk Kudiami?' (2Sam 7: 5).
Siapakah yang harus didengarkan: Elia atau Musa? Hanya Yesus yang harus didengarkan, dan tidak ada yang lain. Sebab waktu suara itu berkumandang, 'waktu mereka memandang sekeliling mereka, mereka tidak melihat seorang pun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri'.   Yesuslah  Anak yang dikasihiNya, yang harus didengarkan.
'Inilah Anak yang Kukasihi', tegas Tuhan Allah Bapa di surge. Yesus adalah Anak yang dikasihi Bapa, sebab memang Allah menyatakan segala kehendakNya dalam Dia untuk disampaikan kepada umat yang dikasihiNya, agar seluruh umat yang dikasihiNya beroleh selamat;  yang semuanya itu akan terpenuhi dalam kematian dan kebangkitanNya, dan pada saat itulah Dia akan menarik semua oranag datang kepadaNya (Yoh 12: 32). Inilah kasih Allah, dalam bahasa Paulus sebagaimana tersurat dalam bacaan kedua tadi: 'yang tidak menyayangkan AnakNya sendiri, tetapi yang menyerahkanNya bagi kita semua', yang memang pada akhirnya, 'Kristus Yesus, yang telah mati dan yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah menjadi Pembela bagi kita'.
Inilah kasih Allah yang tidak mementingkan dan mencari keselamatan diri, melainkan hanya demi keselamatan umatNya. Kasih Allah inilah juga yang sudah dicoba dihayati oleh Abraham, yang rela mempersembahkan Ishak anak yang dikasihinya sebagai kurban bakaran kepada Allah,  sebagaimana diceritakan dalam bacaan pertama tadi.
Masa Prapaskah adalah kesempatan istimewa untuk berlatih agar kita mempunyai kasih Allah dalam hidup kita. 'Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya'  (Mat 16: 25).
 
 
 
Oratio :
 
 Ya Tuhan Yesus, Engkau wujud nyata dari kasih Allah yang mengatasi pikiran dan kemauan manusia. Engkau pun mengetahui kehendak Allah, tetapi tidak menolaknya, malahan melaksanakannya,  karena memang cintaMu kepada Bapa di surge demi keselamatan kami.  
Terpujilah Engkau, ya Yesus Kristus, sebab Engkau mengasihi kami, bukan karena kami, tetapi karena Engkau sendiri. Amin.
 
 
Contemplatio :
          Dia tidak menyayangkan AnakNya sendiri, tetapi yang menyerahkanNya bagi kita semua. Inilah kasih.
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening