Rabu Prapaskah III, 14 Maret 2012

Ul 4: 1.5-9  +  Mzm 147  +  Mat 5: 17-19

 

 

 

 

Lectio :

Suatu berkatalah Yesus kepada para muridNya: " Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.  Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.  Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.

 

 

Meditatio :

'Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya'. 

Entah kenapa Yesus mengucapkan hal ini? Apakah karena Yesus memberikan ucapan bahagia kepada mereka yang miskin, yang lapar dan haus akan kebenaran, yang menangis dan bahkan mereka yang didera (Mat 5: 1-12)? Atau karena gaya penampilanNya yang berbeda dalam mengajar, di mana Dia mengajar dengan penuh kuasa (Luk 4: 32), tidak seperti ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi? Apakah karena Yesus tidak mewajibkan para muridNya berpuasa bersama-sama murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi (Luk 5: 33)? Apakah karena Yesus  memberi perintah baru, yaitu supaya para murid saling mengasihi; sama seperti Dia telah mendahului mengasihi mereka (Yoh 13: 34)?

          Yesus tidak meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi, karena memang 'selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi'.  Hukum Taurat atau pun kitab para nabi masih akan diperlukan sampai dunia berakhir. Segala hukum tentunya tidak akan diperlukan lagi bila memang dunia berlalu, terlebih hukum Taurat atau kitab para nabi yang adalah kehendak Tuhan sendiri, sebagaimana kita renungkan dalam hari Minggu kemarin (Kel 20: 1-7).

'Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga', karena memang hukum Taurat dan kitab para Nabi itu dikehendaki oleh Tuhan. Bagaimana seseorang mendapatkan ijin tinggal dalam KerajaanNya bila memang dia melawan kehendak Allah? Israel dalam hal ini sungguh mempunyai pengalaman indah, karena untuk memasuki tanah terjanji saja terjadi bila mereka mengikuti kehendak Tuhan Allah, sebagaimana tersurat dalam aneka ketetapanNya. Bacaan pertama mengingatkan akan hal itu, katanya:  'hai orang Israel, dengarlah ketetapan dan peraturan yang kuajarkan kepadamu untuk dilakukan, supaya kamu hidup dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allah nenek moyangmu.  Ingatlah, aku telah mengajarkan ketetapan dan peraturan kepadamu, seperti yang diperintahkan kepadaku oleh TUHAN, Allahku, supaya kamu melakukan yang demikian di dalam negeri, yang akan kamu masuki untuk mendudukinya.  Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa'.

Kita adalah orang-orang ingin menikmati kerajaanNya yang membahagiakan, minimal apa yang dikatakan kitab Ulangan dalam bacaan hari Minggu lalu menjadi pedoman bagi kita untuk menikmati kerajaanNya. Mereka yang menikmati sukacita ilahi adalah mereka yang menaruh perhatian kepada ayah dan ibunya, tetapi tidaklah mereka yang membunuh, berzinah, mencuri, mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu, dan yang mengingini isteri sesamanya (Ul 5: 16-21).

Kita pasti bisa menikmati KerajaanNya!

 

 

Oratio :

 

Ya Tuhan Yesus Kristus, kuasailah kami dengan rahmat kasihMu, agar kami mengamalkan iman kasih kami kepadaMu dalam perbuatan dan tindakan kami sehari-hari, sebab memang iman tanpa perbuatan adalah sia-sia. Tuhan, kami lemah. Amin.

 

Contemplatio :

Iman tanpa perbuatan adalah sia-sia.  

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening