Sabtu Prapaskah III, 17 Maret 2012



Hos 6: 1-6  +  Mzm 51  +  Luk 18: 9-14

 

 

 

 

Lectio :

Pada suatu kali bersabdalah Yesus kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

 

 

Meditatio :

'Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan'.

Inilah rumusan hidup yang diberikan Yesus kepada kita semua. Inilah kehendak dan kemauan Yesus yang tidak bisa ditawar-tawar! Setiap orang hendaknya merendahkan diri di hadapan sesamanya. Dan memang sungguh menyenangkan dan membahagiakan dalam hidup bersama, bila kerendahan hati menjiwai setiap orang. Dalam kehidupan bersama pasti akan nada sukacita dan damai, ada pelayanan terhadap sesame, ada kasih persaudaraan. Karena apa? Karena dengan mau merendahkan diri, setiap orang memberikan diri kepada sesame, tidak ada yang menyombongkan diri dan merasa unggul dari sesamanya. Tidak dapat disangkal, yang satu membutuhkan yang lain, tetapi kehendak untuk memberikan diri dan membantu sesamanya semakin menguat. Aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Kehendak Yesus ini menjadi pola hidup bersama. Kerendahan hati akan membuat seorang membutuhkan satu dengan lainnya. Sebaliknya kesombongan dan keangkuhan diri akan memecahbelah kebersamaan hidup, minimal mengasingkan seorang pribadi dari komunitas.

Kalau di hadapan sesame saja kita hendaknya kita berani merendahkan diri, terlebih-lebih tentunya di hadapan Tuhan semesta alam, sang Empunya kehidupan ini. Yesus memberi contoh:  'ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: ya Allah, aku mengucap syukur kepadaMu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini'.

Orang Farisi menyatakan dirinya sebagai seorang yang sempurna; dia mampu berbuat ini dan itu, dia merasa diri orang yang baik, dan bahkan terang-terang dia membandingkan dirinya dengan orang lain yang dianggapnya telah banyak berbuat dosa. Aku bukan seperti pemungut cukai. Dia merasa mampu berbuat baik, dan orang lain tidak. Tidaklah demikian dengan si pemungut cukai ini; dia tidak mempunyai apa-apa untuk dikatakan, karena tidak ada yang harus dibanggakan, malahan memohon 'ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini'.

'Aku berkata kepadamu',  tegas Yesus, 'pemungut cukai ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak, sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan'. Allah tidak menghendaki seseorang pamer di hadapanNya,  Allah menghendaki dan berkenan kepada orang-orang  yang meminta belaskasih dan kemurahanhatiNya. Allah ingin selalu dibutuhkan oleh umatNya! Tuhan Allah amat bergembira kalau diriNya dikenal dan dibutuhkan, Dia tidak suka aneka pemberian yang kita bawa. 'Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran', sabda Tuhan dalam bacaan pertama tadi.

Kiranya masa Prapaskah ini secara isitimewa mengingatkan kita: sejauhmana kita membutuhkan Dia. Tanda bahwa kita membutuhkan Dia adalah kalau kita berani mendekatkan diri kepadaNya dan merasakan bantuanNya. 'Mari, kita akan berbalik kepada TUHAN, sebab Dialah yang telah menerkam dan yang akan menyembuhkan kita, yang telah memukul dan yang akan membalut kita. Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi'.

 

 

 

Oratio :

 

Ya Tuhan Yesus, kasihanilah kami orang yang berdosa. Sebab tak jarang kami menyombongkan diri dan merasa hebat dari orang lain. Saya sudah bisa bertindak seperti orang kudus, saya juga bisa melakukan kehendakMu. Itulah perasaan kami. Padahal kami tidak melakukan apa-apa. Kami memuji diri karena memang tidak ada orang yang memuji kami.

Yesus, ampunilah dosa dan kesalahan kami. Amin.

 

Contemplatio :

          'Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan'.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening