Selasa Pekan Prapaskah IV, 20 Maret 2012

Yeh 47: 1-12  +  Mzm 46  +  Yoh 5: 1-16
 
 
 
Lectio :
Sesudah itu ada hari raya orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem. Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu. Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apa pun juga penyakitnya.
Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: "Maukah engkau sembuh?" Jawab orang sakit itu kepada-Nya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku." Kata Yesus kepadanya: "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah." Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Tetapi hari itu hari Sabat.
Karena itu orang-orang Yahudi berkata kepada orang yang baru sembuh itu: "Hari ini hari Sabat dan tidak boleh engkau memikul tilammu." Akan tetapi ia menjawab mereka: "Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tilammu dan berjalanlah." Mereka bertanya kepadanya: "Siapakah orang itu yang berkata kepadamu: Angkatlah tilammu dan berjalanlah?" Tetapi orang yang baru sembuh itu tidak tahu siapa orang itu, sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu.
Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk." Orang itu keluar, lalu menceriterakan kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesuslah yang telah menyembuhkan dia. Dan karena itu orang-orang Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat.
 
 
Meditatio :
Kolam Betesda.
Apakah yang terjadi di kolam Betesda adalah bentuk pengobatan alternative? Ya benar, karena memang tidak melalui tindakan dan aturan medis. Alternative, karena berbeda dengan biasanya. Yesus tidak menolaknya, ataupun melarang orang-orang datang ke Betesda untuk mendapatkan kesembuhan. Ada banyak cara Tuhan yang mahakasih itu menjamah mereka, saudara dan sudari kita yang sakit. Tentunya Tuhan Yesus akan melarang tegas orang-orang yang hendak mencari penyembuhan dari kuasa kegelapan, karena memang kuasa itu tidak memberikan sukacita dan damai, melainkan hanya kebinasaan. Mereka adalah penipu besar dalam kehidupan manusia.
Bagaimana bila pelaksana pengobatan alternative adalah orang yang tidak seiman dengan kita? Boleh saja! Sebab, bila memang mereka hidup dalam kasih Tuhan, mereka tidak akan memaksa orang lain untuk berpindah iman dan keyakinan hanya gara-gara penyembuhan; mereka hanya mau berbagi kasih bersama dengan sesamanya.  
Apakah kemanjuran kolam Betesda dikait-kaitkan banyak orang dengan adanya aliran air dari dalam bait Allah, di mana aliran itu telah menjadi sungai, sebagaimana diceritakan dalam bacaan pertama tadi?  'Sungai itu mengalir menuju wilayah timur, dan menurun ke Araba-Yordan, dan bermuara di Laut Asin, air yang mengandung banyak garam dan air itu menjadi tawar, sehingga ke mana saja sungai itu mengalir, segala makhluk hidup yang berkeriapan di sana akan hidup. Ikan-ikan akan menjadi sangat banyak, sebab ke mana saja air itu sampai, air laut di situ menjadi tawar dan ke mana saja sungai itu mengalir, semuanya di sana hidup. Pada kedua tepi sungai itu tumbuh bermacam-macam pohon buah-buahan, yang daunnya tidak layu dan buahnya tidak habis-habis; tiap bulan ada lagi buahnya yang baru, sebab pohon-pohon itu mendapat air dari tempat kudus itu. Buahnya menjadi makanan dan daunnya menjadi obat'. Mungkin saudara-saudari kita yang telah berkunjung ke tanah suci dapat menjelaskannya.
'Maukah engkau sembuh?'.
Sebuah tawaran yang diberikan oleh Yesus kepada seseorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. Dia tidak berdaya dan tak mampu berbuat apa-apa. Jawab orang sakit itu kepadaNya: 'tuan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku'. Sebuah jawaban yang mengundang belaskasih dan menunjukkan ketakberdayaan diri, sehingga meminta bantuan orang lain pun tak mampu dia berteriak; dan malahan orang lain pun enggan menolongnya.
'Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah', tegas Yesus kepada orang itu. Yesus mengalihkan perhatian orang itu dari kolam Betesda, Yesus menyampaikan kabar kebenaran dan kehidupan; karena memang dia sedang berhadapan langsung dengan sang Pemberi kehidupan. Bukan kolam yang memberi kesembuhan, melainkan Dia Tuhan Allah yang berbelaskasih.  Dan sungguh benar, pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Tuhan Yesus membuat segalanya baik adanya. Inilah dasar dan alasan kita untuk semakin percaya kepadaNya.
'Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah' adalah rumusan pengobatan alternative yang diberikan Yesus kepada orang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. Sebuah rumusan yang memang bertentangan dengan aturan hidup bersama pada waktu itu. Karena memang, 'hari itu adalah hari Sabat dan tidak boleh setiap orang memikul tilam', dan memang inilah yang dipersoalkan orang-orang Yahudi pada waktu itu.
Manakah yang lebih penting dalam kehidupan ini, belaskasih atau persembahan? (Mat 9: 13) Belaskasih atau aturan hidup di hari Sabat, konkritnya 'manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?' (Mrk 3: 4). Hal inilah yang kemudian dipersoalkan oleh orang-orang Yahudi; tema pembicaraan berubah, karena mereka hanya ingin pembenaran diri,  atau karena mereka merasa tidak dilibatkan dalam persoalan. Kegelisahan dan kemarahan jiwa mengaburkan persoalan dan membuat setiap orang tidak mampu berpikir dengan jernih kembali; dan itulah yang terjadi pada diri orang-orang Yahudi. Mereka terobsesi dirinya sebagai bangsa terpilih, keturunan raja Daud, maka 'berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat'; mereka tidak mampu melihat Tuhan yang membuat segala-galanya baik.
Perihal Yesus membuat segala-galanya baik, terlebih bagi seseorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit, sungguh-sungguh mengajak kita semakin memahami bahwa Allah menghendaki semua manusia selamat. Namun, pertama, kiranya sulit bagi banyak orang untuk memahami tenggang waktu yang begitu berkepanjangan. Apakah kita mampu berkata bahwa semua itu harus terjadi 'karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia?' (Yoh 9: 3).
          Ada pula di antara kita, yang menghadapi peristiwa semacam itu, segera menghendaki terjadinya peristiwa kematian terhadap orang yang bersangkutan. Sudahlah yang dikehendaki Tuhan, biarlah terjadi. Sepertinya sikap penyerahan diri, tetapi sebenarnya sebuah pernyataan yang diucapkan tanpa dasar dan alasan, bahkan mungkin sebagai ungkapan keputusasaan. Sebab, apakah selama ini Tuhan tidak memperhatikan dia yang harus berbaring karena sakit? Apakah hanya kematian yang menjadi kehendak Tuhan? Kehendak Tuhan tidaklah sebatas pada kematian seseorang yang harus memanggul salibnya dengan berat.
          Kedua, adakah kita ikut bergembira dan bersukaria bila memang ada orang lain mendapatkan karunia indah dari Tuhan yang mahakasih? Beranikah kita juga bersyukur bila memang ada sesame kita diijinkan menikmati kasih karuniaNya secara lebih daripada yang kita nikmati; bukankah kita ini orang-orang yang tidak sejaman dengan Yesus? Bukankah seharusnya iman kepercayaan kita harus lebih baik daripada Abraham dan Yusuf, karena kematian dan kebangkitan Kristus menjadi dasar harapan kita, sebagaimana kita renungkan kemarin?
          Ketiga, ada gambaran, bayangan dan cita-cita dalam diri kita sungguh baik. Kita tumbuh-kembangkan semuanya itu dengan tetap berpijak pada kedua kaki di mana kita berada. Kita harus berhadapan dengan kenyataan yang ada. Pengabaian kenyataan yang ada di depan kita, akan membuat kita hidup dalam gambaran dan bayangan melulu, dan menutup segala kemungkinan yang jauh lebih indah, yang memang lebih lebar dan luas daripada yang ada dalam benak kita.
 
 
Oratio :
 
Yesus, kami bersyukur kepadaMu atas segala yang indah dan mulia yang boleh kami nikmati dalam hidup keseharian kami. Buatlah kami selalu mudah bersyukur dan berterimaa kasih kepadaMu, bila sesame kami pun menikmati kasih karuniaMu, bahkan bila yang mereka nikmati lebih indah dan luhur sebagaimana yang telah kami rasakan.
Tuhan Yesus, pujian dan syukur kami hunjukkan kepadaMu selalu, amin.
 
Contemplatio :
          Tuhan Yesus sembuhkanlah aku.
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening