Selasa Prapaskah II, 6 Maret 2012


Yes 1: 10-20  +  Mzm 50  +  Mat 23: 1-12

 

 

 

 

 

Lectio :

Bersabdalah Yesus  kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.

Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.

Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

 

 

 

Meditatio :

'Turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya'.

Pernyataan yang amat keras ini ditujukan Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-muridNya. Mereka diminta mentaati ajaran yang disampaikan oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sebab mereka telah menduduki kursi Musa. Kedudukan yang amat sentral dalam hidup keagamaan, bahkan sosio-kultural dalam masyarakat bangsa Yahudi. Mereka adalah orng-orang yang dituakan dan dihormati.'Turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu', sebab mereka para pemimpin masyarakat. Taat kepada pemimpin adalah keharusan bagi setiap orang. Ketaatan kepada pemimpin adalah salah satu syarat dalam hidup bersama.

'Namun sebaliknya janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya', tegas Yesus. Yesus melarang para murid dan semua orang yang mendengarkan pengajaranNya mencontoh dan meneladan perbuatan para ahli Taurat dan kaum Farisi.

Mengapa? Karena, 'mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang', mereka memang orang-orang munafik, yang melakukan segala sesuatu hanya supaya dilihat dan dipuji oleh banyak orang. 'Mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi'; mereka benar-benar gila hormat dan pujian.

Para ahli Taurat dan kaum Farisi ini mempunyai kedudukan tinggi; seharusnya sebagai 'orang besar, hendaklah ia menjadi pelayan'; karena jabatan, mereka harus melayani orang-orang yang memang telah diserahkan kepada mereka, tetapi semuanya itu tidak dilakukan oleh mereka; sebaliknya mereka ini tebar-pesona ke mana-mana dan jaim (jaga image) di segala tempat. Repot memang, bila kita mempunyai pemimpin-pemimpin dan tokoh-tokoh yang tebar pesona seperti ini. Dengan lancar pula mereka akan membual dan mengobral janji-janji manis kepada kita, yang sedikit banyak akan membuai kita dalam impian yang indah. Tak segan-segan dalam hidup kerohanian pun mereka berani bertindak munafik; aneka jenis peribadatan, bagaikan selimut yang menutupi dan menghangatkan kejelekan dan kebohongan mereka.

Tegurlah saya, bila bertindak demikian. Bila kesombongan dan keangkuhan mulai mewarnai hidup saya, kritik dan sapalah saya. Saya minta maaf.

'Kamu, janganlah kamu disebut rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias'. Yesus melarang kita mencari kehormatan dan pujian diri. Mungkin ada banyak kesempatan kita mendapatkan kehormatan dan pujian, tetapi apalah artinya, mungkin bertahan hanya dua tiga hari saja. Jujur aja lebih baik kita mencari upah dari Bapa di surge sendiri, upah yang bersifat kekal abadi. 'Jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga' (Mat 6: 1). Apalagi mengingat bacaan pertama tadi, hendaknya kita berani mendengarkan dan melakukan sabda dan kehendakNya. 'Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu. Tetapi jika kamu melawan dan memberontak, maka kamu akan dimakan oleh pedang'; malahan kalau kita selalu berbalik kepadaNya segala dosa, kesalahan dan keterbatasan kita tidak diperhitungkanNya. 'Marilah, baiklah kita beperkara!, firman TUHAN; sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba'. Dia sungguh baik!

 'Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan', tegas Yesus. Sebuah pernyataan baru yang adalah kemauan Allah sendiri, sebuah pernyataan yang memang dihayati Yesus sendiri, yang datang ke dunia bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani.

 

 

Oratio :

 

Ya Tuhan Yesus Kristus, pujian terhadap diri ini sering membuat kami terbuai dan duduk di awan-awan yang begitu mempesona; kami lupa bahwa semuanya itu akan membuat kami mudah jatuh terpelanting  karena buaian itu. Buatlah kami, ya Yesus, selalu siap seperti Engkau untuk menjadi pelayan bagi sesame.  Amin.

 

 

Contemplatio :

          'Kamu semua adalah saudara'.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening