Hari Raya Paskah, Minggu Sore, 8 April 2012



Kis 10: 34-43  +  Kol 3: 1-4  +  Luk 24: 13-35
 
 
 
 Lectio: 
 
Pada hari pertama minggu itu dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi.
Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. Yesus berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Maka berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?" Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup. Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat."
Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.
Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?"
Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka. Kata mereka itu: "Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon." Lalu kedua orang itu pun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.
 
 
Meditatio:
 
"Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?"
Inilah pertanyaan balik yang dilontarkan kedua murid kepada Yesus yang pada hari pertama minggu itu  pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem. Pertanyaan balik karena memang sebelumnya Yesus menanyakan: "apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?". Yesus menantang mereka untuk bercerita. Inilah yang sering terjadi dalam hidup kita, bahwasannya Tuhan Allah yang mahatahu dan kekal itu masih bertanya dan bertanya kepada kita. Yesus mengundang kita untuk berani berkata-kata kepadaNya. Dia yang 'mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, yang mengerti pikiranku dari jauh, yang  memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, yang memaklumi segala jalanku, yang mengetahui sebelum lidahku mengeluarkan perkataan' (Mzm 139: 2-4) masih mengajak kita untuk memohon dan memohon, berseru dan menjerit dengan jujur tentang apa yang terjadi dalam diri kita. Dia mengajak kita bercerita karena ada mauNya; sayang bila tidak kita tanggapi?
Jawab mereka: "apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami; tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel". Inilah penyesalan kedua murid. Mengapa semuanya bisa terjadi semacam itu? Padahal Dia orang yang mampu mengajar dengan penuh kuasa dan wibawa. Dia itu Orang hebat!
"Namun sementara itu telah lewat tiga hari, beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: ketika pagi-pagi buta pergi ke kubur, mereka tidak menemukan mayat-Nya, malahan mereka memberitakan, bahwa malaikat-malaikat mengatakan, bahwa Ia hidup. Beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat". Inilah kegelisahan dan kebingungan mereka. Bagaimana mungkin semuanya ini bisa terjadi?
"Hai kamu orang bodoh", kata Yesus kepada mereka, "betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Yesus Tuhan menegaskan bahwa memang semuanya harus terjadi. Dalam hidup kita ini segala peristiwa memang bisa terjadi, bahkan Dia Yang mahakuasa itu didera, diolok-olok, disesah dan disalibkan, tetapi semuanya itu sesuai dengan kehendak Tuhan Bapa di surge. Allah Tuhan Bapa sengaja menyelamatkan umatNya bukan dengan aneka peristiwa yang menggemparkan, malahan sebaliknya dalam peristiwa kehidupan sehari-hari, peristiwa yang tidak mengenakkan dan tidak kita inginkan; dan peristwa-peristiwa semacam itulah yang baru saja dialami Yesus, tetapi tidak dikehendaki para muridNya.
'Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia'.
Semua terjadi sesaat mereka duduk makan bersama. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia. Makan bersama Yesus membuat seseorang semakin mengenal Kristus, sebab pada saat itulah Dia memberikan tubuh dan darahNya. Dia menyerahkan hidupNya bagi orang-orang yang dikasihiNya. Perayaaan Ekaristi membuat orang semakin mengenal Kristus, karena memang rahmat kebangkitan dicurahkan dan diperbaharui olehNya. Tubuh dan darah yang dibangkitkan dari alam maut boleh kita nikmati, dan mengajak kita untuk membiarkan diri terbuka dan menerima  Dia tinggal dalam diri kita dan kita di dalam Dia. Dengan menikmati tubuh dan darahNya yang dibangkitkan berarti kita juga ikut serta dalam realitas kemuliaan surgawi.
Dalam perjamuan bersamaNya kita mendengarkan sabda dan kehendakNya. Kita mencoba mengerti apa kemauan Yesus kepada kita. Sebab berkat sabdaNya, tak dpat disangkal hati kita semakin mengerti tentang kehidupan ini. "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?". Inilah makna terdalam dari perjamuan bersama Kristus, perayaan Ekaristi yang luhur dan mulia.
Kata mereka itu: "Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon."  Kedua orang itu pun memberi kesaksian bagaimana mengenal Yesus, dan menyatakan bahwa memang Yesus hidup.
Kita semua adalah orang-orang yang percaya. Kita pun sering ambil bagian dalam perjamuan bersama Kristus. Hari ini kita merayakan rahmat dan anugerah mulia: Yesus menyelamatkan kita seluruh umatNya.  Patutlah kita bersyukur kepadaNya atas kasihNya yang luar biasa itu.  Benarlah yang dikatakan Paulus dalam surat kepada umat di Roma, yang kita renungkan tadi malam:  'para saudara kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, dibaptis dalam kematian-Nya, dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia  supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru'.
Maka "kamu yang telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah", kata Paulus dalam bacaan kedua tadi, "carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah; pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi, sebab apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan". Paulus mengajak bersikap demikian, agar kita tetap dikendalikan oleh kasih Allah dalam tugas karya dan kesibukan kita sehari-hari, dan kita merasakan kehadiran dan pendampinganNya.
Selamat Paskah Alleluya.
 
 
 
Oratio :
 
Yesus Kristus, kami bersyukur kepadaMu atas rahmat kebangkitanMu yang Engkau limpahkan kepada kami. Semoga kami semakin hari semakin percaya kepadaMu, karena hanya dalam Dikaulah ada kebangkitan dan hidup. Semoga kami pun siap membagi warta kebangkitan itu kepada sesame, sehingga kami semakin mampu menampakkan umat yang engkau pilih dan engkau undang.  Amin.
 
 
Contemplatio :
          Akulah kebangkitan dan kehidupan. Alleluia, Alleluia.
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening