Sabtu Paskah II, 21 April 2012

Kis 6: 1-7  +  Mzm 33  +  Yoh 6: 16-21

 

 

 

 

Lectio: 

 

Ketika hari sudah mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu dan menyeberang ke Kapernaum. Ketika hari sudah gelap Yesus belum juga datang mendapatkan mereka, sedang laut bergelora karena angin kencang.

Sesudah mereka mendayung kira-kira dua tiga mil jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Maka ketakutanlah mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Aku ini, jangan takut!" Mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tujui.

 

 

Meditatio:

 

"Aku ini, jangan takut!".

Penegasan Yesus disampaikan kepada para muridNya ketika mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu mereka. Hari sudah gelap Yesus dan laut bergelora karena angin kencang membuat mereka gelisah dan tidak nyaman. Dengan jelas dan tidak ada keraguan mereka melihat Yesus yang berjalan di permukaan air, tetapi mereka takut. Aneh memang, mengapa mereka takut? Bukankah Yesus sudah beberapa kali menyembuhkan banyak orang di depan mata mereka? Bukankah Yesus baru saja memperganda roti, sehingga membuat banyak orang terkaum-kagum kepada Dia, dan bahkan ada yang hendak memaksa Dia menjadi raja atas mereka, sebagaimana kita renungkan kemarin? Belum mengenalkah mereka itu siapakah sang Guru mereka ini sebenarnya? Atau memang Yesus yang berkuasa atas semesta alam dan tidak terikat hokum alam ini sungguh-sungguh membuka wacana baru bagi mereka. Banyak guru yang mampu mengadakan penyembuhan, tetapi Dia yang mampu berjalan di permukaan air adalah hal sugguh-sungguh baru! Yesus memang berbeda!

Mereka sungguh ketakutan. "Aku ini, jangan takut!", tegas Yesus meyakinkan mereka; dan mereka pun akhirnya 'menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tujui'. Bersama Yesus, mereka merasa tenang dan ada kedamaian. Bersama Yesus mereka segera sampai ke tempat tujuan. Itulah yang mereka alami ketika mereka berada di dalam perahu yang tergoncang oleh badai. Ada bersama Yesus kita beroleh selamat.

'Aki ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendakMu', ucapan seperti inilah yang seharusnya keluar dari mulud setiap orang yang menghadapi aneka kesulitan dan  kesusahan. Biarlah Tuhan sendiri yang mendampingi hidup kami ini. Sikap inilah yang seharusnya dikatakan oleh setiap orang. Ketakutan para murid terhadap Yesus yang berjalan di permukaan air, salah satunya disebabkaan mereka terlalu mengkonsep kuasa Yesus. Mereka tidak tahu dan tidak mampu menangkap kuasa Yesus atas alam semesta ini. Mereka membatasi kehadiran Yesus semampu pengenalan mereka akan Dia; mereka tidak membiarkan Yesus hadir menurut cara yang Yesus kehendaki. Mereka menutup kemungkinan untuk mengalami bahwa Yesus mampu membuat segalanya indah. Kiranya sikap Marian tadi hendaknya menjadi sikap kita bersama dalam menanggapi kehadiranNya. Terjadilah seturut kehendakMu ya Tuhan, aku tidak tahu apa yang terbaik bagi keluargaku sekarang ini. Aku berserah kepadaMu, Yesus. Berkatilah kami ya Yesus.

Tinggallah beserta kami,  sebab ada bersama Yesus sungguh-sungguh membahagiakan. Ada bersama Yesus berarti membiarkan Yesus hadir dan memimpin kita; dan bukannya 'membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja', sebagaimana kita renungkan kemarin hari. Membawa paksa berarti kita ingin menguasai Yesus dan bukannya Yesus yang menguasai kita.

Tentunya kita siap dikuasai dan dipimpin Yesus bukan?

 

Oratio :

 

Yesus Kristus, kami sering tidak mampu merasakan kehadiranMu yang memang kami sendiri yang membatasiMu. Tak jarang kami tidak mau tahu dengan kuasa kasihMu; pikiran dan keinginan kami yang seringkali berjalan mendahului isi hati kami. Yesus, tambahkanlah iman kepercayaan kami kepadaMu. Amin.

 

 

 

Contemplatio :

          "Aku ini, jangan takut!".

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening