Selasa Paskah V, 8 Mei 2012

Kis 14: 19-28  +  Mzm 145  +  Yoh 14: 27-31

 

 

 

 

Lectio

 

Suatu hari Yesus berkatalah Yesus kepada para muridNya: 'damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu.

Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku. Dan sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi.

Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang dan ia tidak berkuasa sedikit pun atas diri-Ku. Tetapi supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku'.

 

 

Meditatio:

 

'Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu'.

Yesus memberi kepastian tentang kepergianNya. Dia meninggalkan damai dan sukacita. Damai yang diberikanNya berbeda dengan yang diberikan dunia. Sebab pemberian dunia bersifat fana, sedangkan pemberianNya bersifat abadi. Kedamaian dan sukacita jiwa sungguh-sungguh akan terasa, karena Tuhan Allah sang Pemberinya. Baiklah sejenak kita berani mengadakan perhitungan: apa bedanya damai yang diberikan Kristus dan damai yang diberikan oleh dunia? Ada persamaannya? Kiranya kita harus berani menjatuhkan pilihan, mana yang harus selalu kita ambil: damai yang diberikan oleh Yesus atau damai yang diberikan oleh dunia. Jangan mudah jatuh dalam kesan pertama begitu menggoda; hendaknya kita yang mempunyai selera tinggi dalam hidup ini, berani memilih yang terbaik, bagaikan orang yang menemukan mutiara indah (Mat 13: 46).

'Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku'.

Yesus memang pernah mengatakan bahwa Dia akan pergi ke rumah Bapa untuk menyediakan tempat bagi bagi para murid (Yoh 14: 2), bagi kita semua, tetapi seperti dikatakan tadi, 'sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita'. Karena apa? Karena memang 'Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada' (Yoh 14: 3). Inilah alasannya. Ia pergi bukan untuk meninggalkan kita umatNya, melainkan untuk mempersiapkan tempat yang nyaman bagi kita. Karena itu, 'janganlah gelisah dan gentar hatimu, sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi'. Kepercayaan menjadi prasyarat utama bagi setiap orang yang ingin tinggal bersama Yesus sang Empunya kehidupan. Yesus menghendaki agar kita berada di tempat di mana Dia berada, tetapi kita diminta untuk berani percaya dan berserahdiri kepadaNya. Yang diminta dari kita agar beroleh selamat adalah kepercayaan, bukannya sebuah laporan segala kebaikan yang dapat kita miliki atau pelbagai karunia yang ada dalam diri kita. Tanpa kepercayaan, seseorang masih sempat berbuat baik dan menerima banyak anugerah. Karya penyelamatan Allah selalu menawarkan keberanian hati seseorang untuk mengamininya.

Kiranya penyataan ini juga menantang kita masing-masing untuk menentukan pilihan mana yang terbaik yang harus kita ambil. Kiranya langsung saja kita ambil keputusan: membiarkan Yesus pergi menghadap Bapa di surga guna menyediakan tempat bagi kita. Berani ditinggalkan Yesus untuk untuk sementara waktu berarti mengamini kepergianNya untuk datang kembali guna mengajak kita tinggal di mana Dia berada. Berani ditinggalkan Yesus berarti berani berpuasa, karena 'telah datang waktunya sang Mempelai itu diambil dari tengah-tengah kita' (Mat 9: 15). Berani ditinggalkan Yesus berarti berani membeli mutiara yang indah itu. Fell good, by good, kata seseorang dalam Intisari bulan lalu.

Keberanian untuk memilih yang terbaik, yakni damai yang diberikan oleh Yesus dan mengamini kepergianNya untuk sementara waktu, secara terus terang dikatakan oleh Paulus dan Barnabas dalam memberitakan Injil di kota Listra, Ikonium dan Antiokhia, sebagaimana diceritakan dalam bacaan pertama tadi, dengan mengatakan, bahwa 'untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara', dan kedua rasul juga menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman.

Kiranya budaya instan tidak melemahkan diri kita untuk selalu berani memilih yang terbaik dalam hidup kita. Berakit-rakit ke hulu berenang ke tepian. Kiranya pengalaman bangsa kita yang terbiasa mendapatkan subsidi dari pemerintah tidak meninabobokan kita, sebaliknya kita semua diajak untuk berani bangkit menatap masa depan yang ceria.

 

 

 

Oratio :

 

Yesus Kristus, kami mengasihi Engkau dan kami membutuhkan Engkau. Kami tahu kepergianMu dari tengah-tengah kami, tak jarang membuat kami kuatir dan gelisah. Kami takut berpuasa, kami takut berjuang.

Yesus tambahkanlah iman kami agar kami berani mencari Engkau di tengah-tengah kesibukan kami, karena ternyata Engkau selalu tersembunyi di antara kami sendiri. Amin.

 

 

 

Contemplatio :

          'Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu'.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening