Selasa Pekan Biasa VIII, 29 Mei 2012

1Pet 1: 18-25  + Mzm 98  +  Mrk 10: 28-31

 

 

 

Lectio

 

Pada waktu itu berkatalah Petrus kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!"

Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu."

 

Meditatio:

'Sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal'.

Setelah Yesus menyatakan kepada orang yang bertanya kepadaNya, bahwa dia harus menjual seluruh harta bendanya dan memberikannya kepada orang miskin lalu mengikutiNya, gemparlah banyak orang terhadap penyataanNya itu. Orang diajak untuk menjual harta bendanya untuk mengikuti Dia.  Mendengarkan keluhan mereka, Yesus bukannya mengendurkan penyataanNya itu, malahan sebaliknya menantang mereka semua, sekaligus memberikan jaminan: bahwa barangsiapa meninggalkan segala-galanya, dia akan mendapatkan kembali seratus kali lipat, bahkan dia beroleh hidup kekal.  Yesus meng-iming-iming sungguh, agar setiap orang berani mengikutiNya.

'Meninggalkan rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang'  adalah sebuah ungkapan yang mengajak kita, agar berani mendahulukan Tuhan, dan bukannya kepentingan diri;  bukan pula kita diminta minggat dari tengah keluarga dan menelantarkan mereka. Permintaan Yesus juga tidak diartikan agar kita jarum super (jarang di rumah suka pergi), pergi melayani ke mana-mana dan menomerduakan keluarga. Sama sekali tidak dimaksudkan demikian. Meninggalkan segala berarti meninggalkan yang bukan-Tuhan, dan menaruh perhatian utama hanya kepada Tuhan, konkritnya: berani meminta bantuan daripadaNya, sebab kita orang tak berdaya, berdoa dan mendengarkan sabdaNya.

Meninggalkan segala-galanya itu tetap dibutuhkan keikutsertaan hati dan akal budi, karena proses itu akan disertai berbagai penganiayaan. Hanya orang yang tetap memakai hati dan budinya akan mampu meninggalkan segala-galanya, apalagi bila dibarengi dengan aneka cobaan, dan mempersembahkan dirinya hanya buat  Tuhan Yesus; dan di sinilah keluhuran hati tetap menjadi tolok ukur bagi seseorang untuk berani meninggalkan segala-galanya itu. Permintaan Yesus bahwa 'banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu', mengisyaratkan agar kita tetap rendah hati dan penuh bakti dalam pengabdian itu. Kita sudah berusaha tidak mengikatkan diri pada aneka urusan keluarga dan dunia, tetapi tak dapat dielakan ejekan dan celoteh banyak orang yang sengaja menyisihkan kita dalam ambil bagian pada peran-peran sosial.

Apakah meninggalkan segala-galanya inikah yang menjadi patrun hidup kaum religius? Ya benar! Apakah hanya mereka yang mampu melaksanakannya? Tidak juga. Ada banyak kaum awam yang hidup dalam keluarga menikmati kasih karunia yang indah, dan bahkan mereks berhasil menikmati kehidupan abadi. Mereka mampu menikmati kasih karuniaNya yang indah itu, karena memang mereka benar-benar mengutamakan Tuhan Yesus dalam hidupnya. Apa pun tugas dan pekerjaan kita tidak menutup kemungkinan kita untuk menikmati segala kasih karuniaNya yang indah itu, asal kita mengutamakan Dia.

Petrus dalam bacaan pertama menasehatkan, agar kita beroleh karuniaNya yang paling indah itu dengan mengatakan: 'siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus. Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: kuduslah kamu, sebab Aku kudus'.

 

 

Oratio :

 

Tuhan Yesus, Engkau menjanjikan yang indah bagi kami, bila kami berani meninggalkan segala-galanya. Yohanes dari Salib mengingatkan kami agar berani meninggalkan segala-galanya agar mendapatkan Segalanya. Tuhan Yesus ajarilah kami, terlebih kaum muda, agar kami berani memilih yang terindah bagi hidup kami ini. Amin.

 

 

Contemplatio :

'Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah'.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening