Jumat Pekan Biasa XI, 22 Juni 2012

2Raj 11: 1-4.9-20  +  Mzm 132  +  Mat 6: 19-23

 

 

 

Lectio

 

Yesus menegaskan: "janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.

Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu".

 

Meditatio:

'Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi, tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga'.

Apakah bisa harta benda kita yang duniawi ini disimpan di surga? Pernyataan Yesus ini hanyalah peribahasa. Penyataan 'janganlah mengumpulkan harta di bumi, tetapi kumpulkanlah harta di sorga', dimaksudkan agar kita tidak hanya memperhatikan kepentingan duniawi, seperti harta benda, yang memang bersifat sementara dan fana ini. Sebab 'di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya, tidaklah demikian di sorga'. Kita diminta juga memperhatikan kehausan rohani dan jiwa kita, tidak hanya melulu kepuasan inderawi kita. Kalau kita berani memberi perhatian juga kepada hal-hal rohani, yang mendatangkan keselamatan, maka segala arah langkah kita tidak akan terperosok pada hal-hal yang jahat, karena memang pikiran kita tidak ada di situ.

Kita perlu menyimpan harta di surga, karena memang ke sanalah arah tujuan hidup kita. Surgalah kerinduan hati setiap orang. Maka membiasakan diri menyimpan harta di surga berarti membiasakan diri untuk berbicara dan berkomunikasi dengan sang Empunya surga; kita bercengkerama dengan Dia sang Empunya kehidupan. Kita berbicara dengan Dia, karena Dialah yang menerima harta kita di surga. Kita serahkan Dia, dan biarlah Dia Allah sendiri yang mengaturnya. Menyimpan harta di surga berarti kita menimbun modal  untuk boleh tinggal di surga bahagia. 'Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada'. Amanlah kita kalau harta kita juga ada di surga. Bila kita berani menyimpannya di surga, maka pikiran kita akan selalu terarah kepada Dia yang sekarang berada di sana, yakni Bapa; itulah pinta Yesus kepada para muridNya waktu itu, dan kepada kita sekarang ini.

'Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada'. Permintaan ini hendaknya juga mengingatkan, agar kita tidak terpaku pada harta yang kita miliki di dunia ini. Kita boleh bekerja. Kita boleh memiliki harta benda, tetapi hendaknya kita tidak tenggelam dalam harta yang kita miliki; atau malahan, janganlah kita mau menyamakan apa yang di surga nanti seperti yang ada sekarang ini di dunia; janganlah ketertarikan akan dunia kita kenakan dan kita bawakan pada orang-orang yang hendak menikmati kebahagiaan surga. Kita bawakan rosario dan buku puji syukur, uang saku, baju-baju yang dimiliki, makanan yang kesukaan. Padahal dalam doa Bapa kami, yang kita renungkan kemarin,  kita diajak 'jadilah kehendakMu, di bumi seperti di surga', dan bukanlah di surga seperti di bumi.

'Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu'.

Penyataan Yesus ini juga sebuah peribahasa; tetapi tak dapat disangkal Yesus menggunakan daya kemampuan bahasa mereka. Karena memang apalah arti sebuah mata, bila pikiran dan hati kita tidak turut berperan. Mata melihat apa adanya, dengan segala keterbatasan atau kelebihan yang dimilikinya. Mata menangkap apa yang ada. Mata mengatakan putih, bila yang dilihatnya putih; itu hitam, bila yang dilihatnya hitam. Akal budi yang seringkali memberi penilaian tersendiri, berdasar warna dan nada akal budi itu sendiri. Kita diingatkan beberapa waktu lalu tentang percekcokan pandangan dan pendapat tentang gambar dan patung yang menampakkan seputar dada. Mata melihat apa adanya, tidaklah demikian dengan posisi warna dan nada akal budi.

 

 

Oratio :

 

Ya Tuhan Yesus,  Engkau mengingatkan kami, agar kami berani menyimpan harta di surga yang membekali kami untuk tinggal bersamaMu kelak. Kuasailah kami ya Tuhan, agar kami berani menyisihkkan harta benda kami dan kami letakkan dalam altarMu yang kudus.

Semoga kami pun berani membatasi ketertarikan kami dari harta duniawi ini dan mengarahkan jiwa raga kami hanya kepadaMu. Amin.

 

  

Contemplatio :

Jadilah kehendakMu, di bumi seperti di dalam surga.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening