Kamis Pekan Biasa X, 14 Juni 2012

1Raj 18: 41-46 + Mzm 65  +  Mat 5: 20-26

 

 

 

Lectio

 

Kata  Yesus kepada para muridNya: 'Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.

 

Meditatio:

 'Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya'.

Penyataan Yesus inilah yang kemarin kita renungkan bersama. Injil hari ini menyampaikan dua hal yang menegaskan bahwa kedatangan Yesus adalah hendak menggenapi dan menyempurnakan hukum Taurat.

Pertama, dalam Taurat tertulis: 'jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum'. 'Aku berkata kepadamu', tegas Yesus kepada mereka, 'setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala'. Yesus tidak mengijinkan dosa semakin mengembang dan merajalela dalam diri para murid, dalam diri kita. Sebab tak jarang pembiaran diri akan kuasa dosa membuat setiap orang semakin terjerebab dalam dosa yang lebih jahat dan membinasakan. Pembunuhan bisa terjadi, karena memang seseorang tidak mau memadamkan amarah dalam dirinya. Keberanian seseorang meluluhkan gelora amarah dan dendam akan membebaskan dia dari kuasa dosa yang lebih besar.

Ungkapan spontan kafir atau jahil pun hendaknya ditiadakan, karena memang membinasakan diri orang yang bersangkutan. Mereka yang terbiasa berkata kasar pun seharusnya sudah mendapatkan hukuman, mereka harus dihadapkan ke Mahkamah Agama atau diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Kita pun tak jarang mengeluarkan secara spontan kata-kata kasar, yang meluapkan kekesalan, marah dan jengkel terhadap orang lain, malahan terhadap perbendaharaan diri pun. Ada baiknya kita membiasakan diri berani mengubahnya dengan kata-kata lembut, yang memang menenteramkan jiwa, bagi diri sendiri atau pun orang lain yang ada di sekitar kita. Bahasa menunjuk bangsa, demikianlah kata-kata yang terlontar dari mulut ini menunjuk pada halus lembut budi bahasa diri pribadi kita

Kedua, 'jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas'. Jiwa pendamai dan penuh kasih lebih luhur daripada kurban persembahan apapun. Yesus tidak melarang orang membawa persembahan sebagai ungkapan sukacita dan penyerahan diri; tetapi persembahan itu akan semakin terasa sebagai pemberian diri, bila hati damai dan penyerahan diri menyertainya. Aku bukan saja ingin mendamaikan diri dengan Tuhan, tetapi juga dengan sesama. Janganlah Tuhan menertawakan diri kita, bila kita mau selalu berdamai dengan Allah, tetapi tetap berkerashati kepada sesama. Itulah yang kita renungkan hari Kamis seminggu yang lalu dalam kasih terhadap Tuhan dan sesama.

Inilah kedua hal yang diperbaharui oleh Yesus dari tradisi lama, sebagaimana tersurat dalam hukum Taurat. Sekarang ini, titik tolaknya adalah kasih Allah sendiri, sebagaimana kita kita renungkan kemarin. Sebagaimana Allah adalah kasih, maka sikap dan tindakan kasih menjadi perhatian utama dalam beroleh keselamatan, dan bukannya aneka hukum dan persembahan ritual keagamaan.

Hukum kasih inilah yang memang kurang mendapatkan perhatian dan penekanan dari para ahli Taurat. Mereka lebih menekankan pada pelaksanaan hukum dan tindakan ritual, yang memang mudah dilihat oleh orang lain, sekaligus sebagai bukti diri bahwa seseorang telah melunasi  tindakan keagamaan yang diwajibkan, daripada tindakan kasih; padahal kasih yang menyelamatkan dan bukan persembahan.

Para murid, kita semua, diminta untuk tidak bersikap seperti ahli-ahli Taurat, yang cenderung kuat melunasi diri terhadap aturan-aturan keagamaan, tindakan yang benar-benar minimalis. Semoga tidaklah terjadi demikian pada para ahli kitab dan ahli-ahli liturgi kita. Kita diminta melakukan segala sesuatu sungguh-sungguh dijiwai kasih akan Allah dan sesama, dan bukannya sebatas atura-aturan hidup bersama. 'Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga'.

 

 

 

Oratio :

 

Ya Tuhan Yesus, Engkau mengajak kami untuk berani memangkas habis akar-akar dosa yang ada dalam diri kami, sebab Engkau tidak menghendaki kami bergelimang dalam lumpur dosa. Ajarilah kami, ya Yesus, untuk membiasakan diri kami melakukan hal-hal yang kecil dan sederhana, tetapi menyenangkan hatiMu dan mendatangkan keselamatan bagi kami.  Amin.

 

 

 

Contemplatio :

'Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum'.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening