Kamis Pekan Biasa XII, 28 Juni 2012

2Raj 24: 8-17  +  Mzm 37  +  Mat 7: 21-29

 

 

 

 

Lectio

 

Bersabdalah Yesus kepada para muridNya: 'bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"

"Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."

Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.

 

 

Meditatio:

'Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga'.

Melakukan kehendak Bapa di surga adalah prasyarat utama bagi setiap orang untuk menikmati anugerah terindah dalam hidup, yakni Kerajaan Surga. Setiap orang memang harus berani berdoa dan mendengarkan sabda, tetapi hendaknya tidak berhenti di situ, dia harus berani melaksanakan kehendak Dia yang mampu memberi keselamatan. Bukan juga mereka, orang-orang yang telah menerima banyak aneka karunia, sebab 'bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?'. Adanya pelbagai karunia tidak menjadi tanda bagi seseorang bahwa dia telah melakukan kehendak Tuhan Allah. Adanya karunia-karunia yaang sempat diterima seseorang, karena memang hanya kemurahan hati Allah. Bukankah Dia menerbitkan matahari bukan hanya untuk orang-orang yang baik dan benar? (Mat 5).

'Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata', tegas Yesus, 'Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!'. Sepertinya mereka membagikan pelbagai karunia yang ada sembari melakukan kejahatan, mereka bertindak semena-mena, mereka mencari kepuasan diri, melayani sesama dengan memandang muka, dan terlebih mereka tidak melakukan kehendak Bapa yang di surga. Kebaikan hati seseorang, segala jasa baik, usaha dan matiraga tidak menentukan seseorang menikmati Kerajaan Surga, melainkan kehendak Dia sang Empunya Kerajaan. Segala yang baik mampu dilakukan oleh setiap orang, tetapi tidaklah berarti kehendak sang Mahakasih dilakukannya, sebaliknya keberanian seseorang untuk melakukan kehendak Allah akan selalu terjabarkan dalam kasih terhadap sesama, dan perhatian terhadap alam semesta.

Kenikmatan Kerajaan Surga bukanlah cukup dirasakan kelak pada akhir jaman, tetapi selama perjalanan hidup ini, kita sudah diijinkan untuk menikmatinya. Sukacita, damai sejahtera dan penuh kasih adalah kehendak Allah sendiri untuk dinikmatinya semenjak sekarang ini. 'Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya'.

Kehendak Tuhan tidak membuat orang terangkat dari bumi dan melayang-layang di udara, melainkan membuat orang semakin mempunyai daya hidup juang di dunia ini, dia tetap berdiri di bumi dengan dua belah kakinya.

Hancurnya rumah Yehuda sebagai bangsa terjadi hari demi hari karena kedegilan para raja dalam memimpin umat Allah. Sebutan mereka sebagai umat yang dipilih Allah, tidak menghalang-halangi Allah membuang mereka dalam taklukan raja Nebukadnesar, sebagaimana diceritakan dalam bacaan pertama tadi. 'Raja melakukan apa yang jahat di mata TUHAN tepat seperti yang dilakukan ayahnya', dan itulah yang semakin menghacurkan Israel dalam jurang yang dalam.

'Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka'.

Kita pun pasti terkagum-kagum kepada Yesus, malahan kita tanpa malu-malu terus meminta dan meminta daripadaNya; itu bagus. Namun kiranya kita tidak berhenti di situ; kita lanjutkan dengan  'melakukan kehendak Bapa yang di sorga'.

 

 

 

Oratio :

 

Yesus, ajarilah kami selalu bersandar dalam kasihMu agar kami mampu memilih yang terbaik dalam setiap langkah hidup kami, yang tentunya tidak lain dan tidak bukan adalah sabda dan kehendakMu sendiri.

Yesus, semoga segala anugerah yang kami terima daripadaMu membuat kami untuk semakin berani mengandalkan kekuatan daripadaMu, karena memang kami baru berguna bagi sesama, bila kami berpaut padaMu.

Terima kasih ya Yesus atas segala berkat kepada kami. Amin.

 

 

 

Contemplatio :

'Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga'.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening