Sabtu Pekan Biasa VIII, 2 Juni 2012

Yud 17-25  + Mzm 63Mrk 11: 27-33

 

 

 

 

Lectio

 

Suatu hari Yesus dan murid-murid-Nya tiba kembali di Yerusalem. Ketika Yesus berjalan di halaman Bait Allah, datanglah kepada-Nya imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua, dan bertanya kepada-Nya: "Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?"

Jawab Yesus kepada mereka: "Aku akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu. Berikanlah Aku jawabnya, maka Aku akan mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Baptisan Yohanes itu, dari sorga atau dari manusia? Berikanlah Aku jawabnya!"

Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata: "Jikalau kita katakan: Dari sorga, Ia akan berkata: Kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi, masakan kita katakan: Dari manusia!" Sebab mereka takut kepada orang banyak, karena semua orang menganggap bahwa Yohanes betul-betul seorang nabi.

 

Meditatio:

'Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu'.

Itulah jawaban Yesus kepada imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua, yang mempersoalkan diriNya: 'dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?', yakni ketika Yesus mengusir para pedagang berjualan di pelataran depan bait Allah. Yesus memberi prasyarat: 'berikanlah jawaban kepadaKu, maka Aku akan mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu, yakni baptisan Yohanes itu, dari sorga atau dari manusia?'.

Yesus menggunakan taktik tukar informasi, yang membuat lawan bicaranya berhenti tidak mampu melanjutkan, karena memang menantang mereka untuk mengadakan refleksi pribadi.  Jawaban Yesus 'jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu',  tidak mampu membuat mereka menuntut balik kepada Yesus.

Kiranya patut kita simak bersama, pertama, tak jarang memang kita mudah mencari kesalahan orang lain, tetapi kita tak mau dan mampu melihat kesalahan dan keterbatasan diri. Kita tidak lagi mau dan mampu melihat kesalahan diri sendiri, karena kita malu telah bersalah, dan karena terlebih-lebih memang ada balok besar dalam mata hati kita ini (Mat 7: 3-5).

Kedua, untuk menjadi baik dalam hidup ini, mau tidak mau kita harus berani melepaskan diri dari kungkungan dosa dan berusaha pengendalian diri, tidak ada yang lain; kita harus melepaskan diri, tidak ada gunanya kita mengadakan pembelaaan diri atau justifikasi diri, bila memang kita telah jatuh dalam dosa. Kita harus mengakui kesalahan diri. 'Jikalau kita katakan: dari sorga, Ia akan berkata: kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya? tetapi, masakan kita katakan: dari manusia!, mereka takut kepada orang banyak, karena semua orang menganggap bahwa Yohanes betul-betul seorang nabi'. Inilah persoalan dari para imam dan ahli Taurat tadi. Mereka bukan menghadapi dilema, melainkan mereka tidak siap dan tidak berani menghadapi kebenaran. Modal menghadapi kebenaran ilahi adalah keberanian untuk mengakui, tidak ada yang lain.

Kita bukanlah seperti imam-imam kepala dan kaum ahli Taurat; kita pun tidak berhadapan lagi dengan baptisan Yohanes. Persoalan kita adalah menghayati baptisan yang telah kita terima; sebab memang kita beroleh karunia yang begitu besar sebagai anak-anak Bapa di surga, berkat baptisan yang kita terima dari Yesus Kristus.

 

Santo Yudas Tadeus dalam bacaan pertama mengajak kita untuk menghayati kasih karunia yang indah itu. Katanya: 'saudara-saudariku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus. Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal'. Jaminan hidup kekal memang sudah kita terima semenjak kita beroleh pembaptisan, kita diajak untuk merasakan dan menikmatinya dalam kehidupan sehari-hari, agar ketika saat dan waktunya tiba, kita sungguh-sungguh siap menikmatinya bersama Dia di tempat di mana Dia berada.

 

 

Oratio :

 

Yesus,  kami sering tak berdaya menghadapi kebenaran, karena memang jiwa kami mudah jatuh dalam dosa dan tidak bertahan dalam kebaikan.

Buatlah kami ya Yesus, untuk semakin berani menghayati rahmat panggilanMu itu, dan mulai merasakan rahmat kebangkitan itu dalam hidup sehari-hari. Amin.

 

 

 

Contemplatio :

'Siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu'.

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening