Selasa Masa Biasa IX, 5 Juni 2012

2Pet 3: 12-18 + Mzm 90Mrk 12: 13-17

 

 

 

 

Lectio

 

Suatu hari disuruh oleh ahli Taurat dsn tua-tua bangsa Yahudfi, beberapa orang Farisi dan Herodian kepada Yesus untuk menjerat Dia dengan suatu pertanyaan. Orang-orang itu datang dan berkata kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar jalan Allah dengan segala kejujuran. Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?"

Tetapi Yesus mengetahui kemunafikan mereka, lalu berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mencobai Aku? Bawalah ke mari suatu dinar supaya Kulihat!" Lalu mereka bawa. Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?" Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!" Mereka sangat heran mendengar Dia.

 

Meditatio:

'Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?'.

Sebuah pertanyaan yang baik dan bagus. Sebuah pertanyaan yang kritis dan mengundang perhatian banyak orang. Apalagi sebelumnya, mereka orang Farisi dan Herodian dengan mulut manis menyampaikan pujian: 'Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar jalan Allah dengan segala kejujuran'. Namun semuanya tidak meluluhkan hati Tuhan, sebab Dia 'mengetahui kemunafikan mereka'.

Apakah kita juga sering bertindak munafik seperti itu dalam doa-doa kita? Bagaimana dengan doa-doa pujian kita? Murnikah pujian kita kepada Tuhan yang mahakasih; atau sengaja memang hanya sekedar rumusan umum pembuka doa-doa kita? Apakah doa-doa puja-puji kita sungguh-sungguh berisikan kemunafikan? Kita harus berani menjawab dengan jujur, karena memang Dia sang Empunya kehidupan ini tahu isi hati dan budi kita. Yesus tahu isi hati orang-orang Farisi dan Herodian, karena memang yang terucapkan bibir mereka itu benar-benar dari mulut mereka yang manis merayu, dan bukannya dari hati dan budi mereka.

'Mengapa kamu mencobai Aku?'. Janganlah kata-kata ini juga diucapkan kepada kita.

'Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!', tegas Yesus.

Inilah hukum cinta kasih. Janganlah kita ubah atau kita bolak-balik. Tentunya kita akan risih dan tidak akan mau untuk menyebut seseorang dengan sanjungan sang maha, walau mereka sungguh berjasa kepada kita, kecuali  si pontus debataraja par sidumpe. Demikian tentunya sebaliknya, kepada Tuhan yang tidak memerlukan handphone. Apa yang layak kita berikan Tuhan, itulah yang wajib kita berikan kepadaNya; demikian sebaliknya yang wajib kita berikan kepada sesama, kita berikanlahkepada mereka. Hendaknya yang satu tidak meniadakan yang lain. Kerajinan kita berdoa dan memuji Tuhan, tidak boleh menutup kewajiban kita untuk memberi perhatian kepada sesama, perhatian terhadap keluarga, perhatian akan kesehatan, kedewasaan pribadi dan pembicaraan yang komunikatif.

Secara istimewa saya menyebut demikian, karena memang ada orang-orang yang semangat doanya patut dibanggakan, tetapi tidak mempunyai perhatian kasih terhadap sesama: egoisme diri tinggi dan meremehkan orang lain, kurang pengendalian diri dalam emosi dan dalam menikmati makanan, kurang bijak dalam memilih sebuah tindakan, sopan santun dalam berkomunikasi tidak menjadi perhatian, dan kurangnya perhatian terhadap keluarga. Adalah tindakan yang amat keliru, bila kita hanya mengutamakan hidup doa, tetapi mengabaikan keperluan insani kita. Yesus pun tidak menghendaki tindakan yang kurang bijak ini. Yesus menganjurkan malahan memberikan segala sesuatu yang wajib diberikan kepada kaisar, bila memanag hal itu wajib kita berikan kepadanya.

Menjadi murid-murid Yesus haruslah bersikap dan bertindak murah hati: murah hati kepada Tuhan, sang Empunya kehidupan, murah hati terhadap sesama, karena memang banyak orang yang memerlukan uluran tangan kita, dan murah hati terhadap pribadi sendiri, sehingga kita siap sedia menjadi sesama bagi orang lain.

Aktif dalam aneka komunitas doa adalah hal yang baik dan benar. Santo Petrus amat mendukung, sebagaimana dikatakan dalam bacaan pertama hari ini. 'Dalam menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran, kita berusaha supaya kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia'. Namun hendaknya kita tidak jatuh dalam pietisme (menekankan kekudusan diri dan meniadakan dunia); karena itu Petrus juga mengingatkan: 'janganlah terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh, tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya'. Selama kita masih hidup dalam dunia, kita tidak boleh mengabaikan keberadaan insani.

Bagaimana dengan mereka yang hidup secara kontemplatif penuh di biara-biara tertutup? Mereka pun tetap wajib diminta untuk menaruh perhatian kasih terhadap sesama, tanpa kasih terhadap sesama, mereka juga akan jatuh dan tidak bertahan. Para saudara dan saudari kita yang menghayati kontemplatif murni memang menaruh perhatian kepada hidup doa dalam keseharian mereka, tetapi juga sekaligus belajar mengenal sesama secara lebih dekat. Hidup mereka lebih nyata daripada kita yang hidup di dunia yang luas ini.

 

 

Oratio :

 

Ya Yesus, Engkau mengingatkan kami dalam mengejar kekudusan hidup agar tetap berpijak pada kedua kaki kami. Dalam menengadahkan tangan kami kepadaMu, kami juga Engkau ingatkan akan keluhan orang-orang yang ada di sekitar kami; sebab pada waktu itulah kami, Engkau minta untuk mewujudkan cinta kasihMu dalam diri sesama kami.

Santo Bonifasius, doakanlah kami. Amin.

 

 

 

Contemplatio :

'Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!'.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening