Selasa Pekan Biasa X, 12 Juni 2012

1Raj 17: 7-16 + Mzm 4Mat 5: 13-16

 

 

 

 

Lectio

 

Kata  Yesus kepada para muridNya: 'kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga'.

 

Meditatio:

Yesus mengingatkan akan panggilan kita, para muridNya. Kita adalah garam dan terang dunia. Kita harus berperan sesuai dengan tugas dan panggilan kita. Kita harus berperan seperti garam dan terang bagi orang lain. Kita harus mempunyai peran dalam hidup bersama, karena memang orang-orang yang ada di sekitar kita sudah mengenal siapakah diri kita. Orang-orang yang ada di sekeliling, kita sudah tahu siapakah kita, apa yang dapat kita kerjakan dan lakukan, dan mereka memang mengharapkan kita benar-benar mempunyai peran di antara mereka. 'Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu'. Apapun keberadaan kita pasti ada perannya dalam hidup bersama.

Pengakuan dan harapan orang lain pada diri kita adalah sebuah kesempatan bagi kita untuk semakin berperan yang menguntungkan mereka. Kepercayaan banyak orang kepada diri kita adalah peluang bagi diri kita untuk tampil di depan mereka, bahwa kita mampu melakukan sesuatu yang baik dan berguna bagi mereka. Kiranya bagi diri kita sendiri, sungguh berguna dan membawa makna, kalau diri kita ini diperhitungkan dan diperhatikan oleh orang-orang yang ada di sekitar kita. Sebaliknya, terasa menyakitkan, bila kehadiran dan keberadaan kita tidak diperhitungkan sesama; bukankah keinginan untuk diperhatikan oleh orang lain adalah kebutusan dasar sebagai makhluk sosial?

'Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga'. Yesus malahan mengingatkan kita, agar keberadaan dan kehadiran kita itu tidak berhenti pada kenyamanan diri yang mampu berperan dan berbuat baik; kita dituntut harus mampu membawa setiap orang kepada pengalaman akan Allah pada tingkat yang lebih tinggi lagi, bahwasannya mereka mampu dan terdorong memuliakan Bapa yang di sorga. Segala hal yang dapat kita perbuat hendaknya memancing dan mendorong orang lain untuk bersyukur kepada Tuhan, merasakan bahwa Tuhan membantu mereka, dan kehadiranNya sungguh-sungguh dirasakan oleh mereka.

Inilah pewartaan keselamatan yang sejati. Seorang yang mewartakan kehendak dan sabda Allah tidak memaksa mereka, yang mendengarkan, mengikuti iman kepercayaan dan agama yang dimilikinya. Dia tidak mempunyai intensi sedikit pun untuk menarik orang lain harus mempunyai iman kepercayaan yang sama dengan dirinya. Dia telah berbuat baik, karena memang dia mampu berbuat baik. Dia membagikannya kepada orang lain, tanpa rasa pamrih sedikit pun. Dia hanya yakin bahwa segala kebaikan yang dapat diberikan kepada orang lain mampu membuat sesamanya untuk selalu bersyukur kepada Tuhan. Sangat disayangkan, bila banyak komunitas-komunitas keagamaan begitu gencar menarik orang lain (dan harus) menjadi anggota komunitasnya. Hendaknya kita tidak bersikap pamrih, bukan hanya, ketika kita memberi dia sepotong kue, tetapi juga dalam berbagi sapaan kasih terhadap sesama.

'Cobalah ambil bagiku sedikit air dalam kendi, supaya aku minum' dan 'Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu'. Inilah panggilan dan tugas yang diterima oleh janda Sarfat. Dia harus mampu melakukannya; yang memang menurut perhitungan insani: apalah yang dapat diperbuatnya. Namun dia, yang berani setia melakukan tugas yang diberikannya itu, mampu membuat sang nabi bersukacita. Elia yang seharusnya membantu dia, malahan sebaliknya dia yang terbantu oleh janda Sarfat, yang siap mengemban tugas pertusannya.

Apapun keberadaan kita akan dapat dirasakan oleh orang lain, asal kita memang berani dan setia melakukan tugas yang diberikan kepada kita.

 

 

Oratio :

 

Ya Tuhan Yesus, kami bersyukur kepadaMu atas segala rahmat dan kasihMu, yang Engkau berikan kepada kami. Kami pun Engkau beri tugas dan pekerjaan, sehingga ada kesibukan kami sehari-hari. Ajarilah kami, ya Tuhan, untuk semakin hari semakin setia dalam menyelesaikan tugas-tugas kami; dan semoga kami dapat memberikan yang terbaik bagi sesama kami.  Amin.

 

 

 

Contemplatio :

'Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga'.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening