Senin Pekan Biasa XII, 25 Juni 2012

2Raj 17: 5-18  +  Mzm 60  +  Mat 7: 1-5

 

 

 

Lectio

 

Bersabdalah Yesus kepada para muridNya: 'jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.

Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu'.

 

 

Meditatio:

'Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi'.

Pernyataan Yesus ini tidak dimaksudkan agar ditiadakannya lembaga kehakiman, atau melarang orang menjadi hakim, yang memang tugasnya menghakimi banyak orang. Janganlah menghakimi dimaksudkan agar kita tidak mudah menilai, mengadili, menghakimi, menuduh dan memberi cap seseorang berdasarkan pengetahuan kita sendiri. Tak dapat disangkal memang, bahwa banyak orang cenderung menilai orang lain, bukan berdasar kenyataan hidup orang yang dilihat dan dijumpainya, melainkan menurut pikiran dan kemauan diri sendiri. Sebidang pengetahuan kita yang amat terbatas malahan yang sering kali membuat kita merasa mengatahui banyak hal.

Kita memang cenderung untuk mudah mencari kelemahan orang lain, sebaliknya dengan ringan kali kita membenarkan diri, kita tidak ingin orang lain mengetahui kekurangan kita. Menghakimi orang lain adalah jalan yang paling aman untuk membenarkan diri sendiri, sekaligus menenggelamkan dan membuat orang lain tak berdaya. Yesus mengingatkan kita: 'mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu'.

Bila kita bertindak demikian, tentunya kita melanggar kodrat kita sebagai saudara dan saudari Yesus Kristus sendiri, yang hendak menjabarkan hidup penuh kasih. Dalam kasih, kita diajak untuk melihat dan memandang orang lain sungguh-sungguh sebagai sesama, yang memang sama-sama 'diciptakan sesuai dengan gambar Allah' (Kej 1); kita diminta mengasihi sesama, sebagaimana Allah mengasihi semua orang tanpa memandang muka, sebab bukankah kita ini anak-anak Bapa di surga (Mat 5: 45-46)?

Permintaan Yesus ini juga dimaksudkan agar kita berani menghentikan hukum balas-membalas, sebagaimana yang seringkali berlaku dalam hidup di tengah-tengah masyrakat. Aku telah meberi kamu, maka kamu wajib memberi aku, dan sebaliknya. Dengan tegas, Yesus telah mengingatkan: 'karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu'. Keberanian setiap orang untuk memandang sesama apa adanya memungkinkan tidak terjadinya peperangan yang hanya bertujuan membenarkan dan meremehkan sesama.

Kenekadan kita untuk selalu menghakimi orang lain seturut kemauan diri  berarti kita secara sengaja melanggar perintah dan kemauan Tuhan sendiri, sang Empunya kehidupan. Mungkin pelanggaran kita tidak sekejam dengan apa yang dilakukan Israel, sebagaimana diceritakan dalam bacaan pertama tadi, tetapi bila kita berkepanjangan dan berlama-lama  menghakimi orang lain apapun, tentunya juga akan mendatangkan murka Tuhan Allah sendiri. Keruntuhan Israel sebagai bangsa karena ketidakmauan mereka meminta bantuan dari sang Empunya kehidupan, dan sebaliknya mengandalkan segala hasil buatan manusia yang lemah dan terbatas.

Ada orang benar di sekitar kita, ada orang berdosa di samping kita, hendaknya kita berani menerima mereka semua apa adanya dalam kasih Kristus. 'Aku pun tidak menghukum engkau' (lih Yoh 8: 11), ucapan Yesus inilah yang hendaknya keluar dari dalam hati kita, bila berhadapan dengan orang-orang yang bersalah; keberpihakan kita terhadap mereka dalam doa-doa kita, akan membawa berkat pertobatan tersendiri bagi mereka. Apa yang kita lakukan ini menenangkan jiwa kita sendiri dan menenteramkan orang lain.

 

 

 

Oratio :

 

Ya Yesus, semangat kasih belum sepenuhnya menjiwai hidup kami. Itu terbukti dari mudahnya kami menghakimi orang lain dengan mencari-cari kesalahan mereka, orang-orang yang ada di sekitar kami; bahkan kami merasa diri ini lebih baik dan benar dibanding orang-orang lainnya.

Ampunilah dosa kami, ya Yesus, kami berserah kepadaMu dan buatlah hati kami ini penuh dengan kasihMu. Amin.

 

 

 

Contemplatio :

'Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui'

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening