Hari Raya Nabi Elia, 20 Juli 2012

Yes 38: 1-6  +  Mzm 102  +  Mat 12: 1-8

 

 

 

Lectio

 

Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya: "Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat."

Tetapi jawab Yesus kepada mereka: "Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam? Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah? Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah. Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat."

 

 

Meditatio:

'Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat'.

Inilah kesimpulan dan penegasan yang diberikan Yesus kepada orang-orang yang berada di sekelilingNya. Sebab mereka, khususnya orang-orang Farisi yang keras dalam hukum Taurat, mempersoalkan: 'murid-murid Yesus yang berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat'. Para murid yang kelaparan terpaksa memetik bulir gandum dan memakannya, walau pada waktu itu adalah hari Sabat. Seturut hukum Taurat mereka melanggar hukum (Kel 34: 21), bukankah memetik bulir gandum itu dikategorikan bekerja? Setiap orang dilarang bekerja di hari Sabat.

Ambulance yang mengangkat orang sakit diijinkan menerabas lampu merah, dan bahkan dalam perjalanan mereka hendaknya diberi jalan-lapang untuk mendahului kendaraan lainnya. Mereka harus didahulukan, dan mereka dimengerti bila melanggar rambu-rambu lalu lintas.  Atas tuduhan orang-orang Farisi tadi, Yesus menanggapi mereka; kataNya: 'tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam? Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah?',

Yesus bukannya meminta pengkhususan dalam pelaksanaan hukum. Tidak disangkal: memang para murid dalam situasi lapar. Ketaatan pada hukum Taurat adalah suatu pemberian dan persembahan diri dalam hidup bersama, terlebih hidup sebagai umat Allah. 'Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, hendaknya kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah'. Namun terlebih belaskasih terhadap sesama yang lemah, hendaknya lebih mendapatkan perhatian dan pelayanan, dan bukannya malahan menyatakan hukum yang berlaku, yang menghambat dan membelenggu mereka mendapatkan pertolongan dan keselamatan

Secara hukum Taurat, mungkin para murid bersalah, tetapi kiranya Tuhan Yesus akan menegur mereka secara lebih keras, bila memang mereka menomerduakan keselamatan dan mendahulukan kepentingan diri. Sebab 'di sini ada yang melebihi Bait Allah. Dialah  Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat'. Kebersamaan dengan Yesus akan memberikan pengawasan tersendiri kepada para muridNya. Sekali lagi, tindakan dan perilaku para murid akan mendapatkan teguran keras, bila memang mereka mengabaikan keselamatan.

'Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu'. Pernyataan Petrus dalam bacaan kedua tadi, juga kita nikmati sekarang ini. Kiranya semua ini menjadi kesadaran kita bersama. Keselamatan sesama juga hendaknya menjadi perhatian kita dalam hidup bersama, dan bukannya memperhatikan kepentingan diri, yang memang hanya untuk menjaga dan menenteramkan posisi diri dalam masyarakat, sebagaimana dilakukan orang-orang Farisi. Mereka pasti tahu benar, dan mereka pun sebenarnya bisa memahami apa yang dilakukan oleh para murid Yesus, tetapi mereka tetap berkeras diri untuk mendapat pengakuan sebagai orang-orang yang duduk di kursi Musa, dengan menegur orang di hadapan sesamanya.

Sebaliknya kita hendaknya berkerasdiri untuk selalu mengabdi Dia sang Empunya kehidupan ini. Aku bekerja keras untuk Tuhan Allah semesta alam. Seruan inilah yang harus kita gemakan dalam hidup ini, sebagaimana dikatakan Elia dalam bacaan pertama tadi. Elia bersikeras diri untuk memberikan diri kepada Tuhan, dan bukan bekerasdiri untuk mencari diri sendiri, sebagaimana dilakukan orang-orang Farisi tadi.

 

Oratio :

 

Yesus Tuhan, bantulah kami semakin berani memahami orang lain apa adanya, terlebih bila mengingat keterbatasan dan kelemahan yang dimiliki sesama kami. Semoga semuanya itu malahan semakin menantang kami untuk bekerja segaiat-giatnya mengabdi Engkau yang hadir nyata dalam diri sesama kami.  

Nabi Elia, doakanlah kami. Amin.

 

 

Contemplatio :

'Aku bekerja keras untuk Tuhan Allah semesta alam'.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening