Hari Raya Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, 16 Juli 2012


                                  

1Raj 18: 42-45  +  Gal 4: 4-7  +  Mat 10:34 – 11:1

 

 

 

Lectio

 

Suatu hari  bersabdalah Yesus kepda banyak orang: "jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.

Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya."

Setelah Yesus selesai berpesan kepada kedua belas murid-Nya, pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka.

 

 

Meditatio:

Injil hari ini menarik untuk kita renungkan dalam pandangan seorang Maria yang memberi diri untuk Tuhan.

'Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku'.

Maria adalah seorang pendengar sabda yang baik; dan lebih dari itu, dia adalah pelaksana sabda (Yak 1: 22). Ketika mendengarkan permintaan malaikat, dia tidak terlebih dahulu meminta ijin dan berpamitan kepada kedua orangtuanya (bdk Mat 8: 21), yang memang mereka berdua masih berkuasa atas Maria, yang masih belum terikat oleh sebuah perkawinan mana pun. Dia tidak menawar kepada malaikat, apakah dia bisa menanyakan terlebih dahulu kepada kedua orangtuanya. Maria tidaklah menomerduakan, meremehkan atau mengabaikan kedua orangtuanya, tetapi Dia percaya sungguh akan kehendak Tuhan. Maria telah memilih bagian yang terbaik dalam hidupnya. Maria tidak 'mengasihi bapa atau ibunya lebih dari padaNya', yang adalah Tuhan Allah.

Apakah kedua orangtua melarang dan menolak Maria menjawab panggilan Tuhan, terlebih berkaitan rencana bahwa dia akan mengandung, tanpa ikatan relasi suami isteri sebelumnya? Bukankah akan menjadi aib bagi keluarga, bila Maria mengandung tanpa adanya seorang laki-laki sebagai suaminya? Semuanya itu bisa terjadi. Namun tak dapat disangkal kedua orangtua Maria, Yoakhim dan Anna, tidak terlalu mencampuri urusan sang puterinya, yang memang sudah dewasa, terlebih dalam hal yang mendasar, yakni pengenalan akan Tuhan; mereka malahan menikmati sukacita surgawi, karena mereka telah memampukan Maria memilih yang terbaik dalam hidupnya.

'Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku'.

Seorang guru pasti akan lebih menyenangi para murid yang mengikuti bimbingannya. Demikianlah bagi Yesus Kristus sang Guru keabadian, Dia menaruh hati secara istimewa kepada setiap orang yang mengikuti diriNya; bukan dengan berjalan beriringan, melainkan meneladan dan mencontoh segala yang dilakukanNya, termasuk dalam memanggul salib kehidupan ini. Orang-orang semacam inilah yang layak bagi sang Guru.

Maria adalah seorang murid yang setia; seorang yang layak di hadapam Kristus sang Putera. Maria bukan sebatas seorang ibu kandung yang melahirkan sang Anak Manusia, tetapi dia mengikuti sang Puteranya sampai akhir hidupNya. Maria sudah tahu benar bahwa 'suatu pedang akan menembus jiwanya sendiri' (Luk 2: 35), tetapi dia tidak takut kehilangan nyawanya,  dia tidak kuatir dan gelisah. Maria terus melangkah, karena dia tahu kepada Siapa yang harus diikuti. Dia tidak hanya berkata 'aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu' (Luk 1: 38) dengan bibirnya, tetapi dia berkata-kata dengan hatinya.

'Siapa menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku'.

Pesan Yesus ini dilakukan sungguh-sungguh oleh Maria. Dia berani sungguh menyambut Tuhan sebagai Tuhan. Dia membiarkan Tuhan berkehendak terhadap dirinya, dia tidak menolak, dia tidak menuntut apa. 'Terjadilah padaku menurut perkataanMu', jawab Maria tegas. Maria menerima baik dan menyambut dengan antusias program dan rencana Tuhan Allah; dan hal inilah yang dinyatakan tegas oleh Paulus dalam suratnya kepada umat di Galilea, dalam bacaan kedua: 'setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat'. Kemauan Tuhan diamini oleh seorang perempuan, Maria namanya.

 'Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar', demikianlah dia mendapatkan upah Tuhan; dan hal itu didengarkan dan dinikmatinya dengan baik, ketika Elizabet berucap: 'siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku' (Luk 1: 43). Maria sungguh-sungguh seorang ibu Tuhan, karena memang dia membiarkan Tuhan datang kepadaNya. Anak Manusia, yang adalah Tuhan, sang Empunya kehidupan itu, bersemayam 'dalam hatinya, kemudian dalam rahimnya'. Tuhan Yesus sungguh ada dalam diri Maria. Dengan menerima dan'menyambut Aku', Maria 'menyambut Dia yang mengutus Aku'. Sungguh luhur dan mulia, bahwa Tuhan yang Mahakuasa merendahkan diri dan ada-tinggal  dalam diri Maria.

Di hari raya Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, secara istimewa kita diingatkan, agar kita sungguh-sungguh berani mengutamakan kehendak Tuhan Allah dalam hidup ini. Tradisi keluarga tak jarang membelenggu seorang anggota keluarga untuk bersikap dan bertindak sebagai pribadi yang unik. Seorang anak manusia berhak menjawab panggilan Tuhan: terjadilah padaku menurut perkataanMu. Daya ikat keluarga terhadap seorang anak manusia amatlah terbatas, tidaklah demikian Tuhan sang Empunya kehidupan, maka sangatlah wajar bila seorang anak manusia mengutamakan kehendak Allah dalam dirinya.

Maria telah memberi contoh yang unggul. Spiritualitas Karmel menampilkan Maria yang mengutamakan kehendak Tuhan dalam keseharian hidup. Maria membiarkan Allah tinggal dalam hatinya terlebih dahulu, baru dalam rahimnya. Keberadaan manusia yang terbatas memang tak akan mampu menerima segala pernyataan keagungan Allah, bila memang kita manusia tidak terlebih dahulu mengamini kehendakNya.

 

 

Oratio :

 

Tuhan Yesus, bantulah kami untuk mengikuti Engkau dalam setiap langkah hidup kami. Engkaulah yang menjadi tujuan hidup kami, maka bantulah kami untuk memilih bagian yang terbaik dalam hidup kami.

Ya Maria Bunda Karmel, bantulah kami dengan doa-doamu, agar kami menjadi orang-orang yang setia di hadapan Puteramu. Amin.

 

 

 

Contemplatio :

'Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku'.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening