Kamis Pekan Biasa XVI, 26 Juli 2012

Sir 44: 10-15  +  Mzm 132 +  Mat 13: 16-17

 

 

 

Lectio

 

Bersabdalah Yesus: 'berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya'.

 

 

Meditatio:

'Berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar.

Tegas Yesus kepada para muridNya. Mengapa mereka disebut berbahagia? 'Sebab Aku berkata kepadamu', tegas Yesus, 'sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya'. Mereka, para murid, mendapatkan kesempatan yang luar biasa untuk melihat dan mendengar segala yang telah lama dirindukan oleh para nabi dan orang-orang benar.

Yang dirindukan itu, tidak lain dan tidak bukan, adalah Yesus Kristus sendiri. Sebab memang Dia adalah 'Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi Raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan' (Luk 1: 32-33). Dialah yang dinanti-nantikan dan tidak ada yang lain; 'aku bukan Mesias' (Yoh 1: 20), kata Yohanes Pembaptis; dan Yesus sendiri mengakui kehadiranNya, ketika orang-orang bertanya: 'Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?', dan Dia menegaskan: 'lihatlah orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik' (Mat 11: 3-5), yang mana semuanya bisa terjadi hanya bila Allah meraja.

Siapakah yang berbahagia itu? Mereka adalah orang-orang kecil, yang memang diistimewakan oleh Bapa, dan bukannya mereka orang-orang bijak dan pandai (Mat 11: 25); dan orang pertama yang menikmatiNya adalah Maria, anak pasutri Yoakim dan Anna. Maria mendengarkan kehendak Tuhan dan membiarkan semuanya itu terjadi pada dirinya. Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu. Dia, yang ingin dilihat dan didengar oleh para nabi dan orang-orang benar, hadir secara nyata dalam hati, kemudian dalam rahimnya. Maria menerima dan mengalami sungguh Allah sang Penyelamat.

Gereja yakin keberanian Maria menjawabi kehendak dan kemauan Allah, tak bisa juga dilepaskan dari peran kedua orangtuanya, Yoakim dan Anna, yang memang semenjak awal sudah lama dan setia merindukan kehadiran sang buah hati di tengah-tengah keluarga mereka.

Diceritakan, sejak perkawinannya, dan cukup lama Yoakim dan Anna menantikan tibanya karunia Allah itu. Tak henti-hentinya tanpa putus asa mereka berdoa kepada Allah agar kenyataan pahit itu ditarik Allah dari padanya. Setiap tahun, Anna dan Yohakim berziarah ke Bait Allah Yerusalem untuk berdoa. Mereka  berjanji, kalau Tuhan menganugerahkan anak kepadanya, maka anak itu akan dipersembahkan kembali kepada Tuhan. Suatu hari malaikat Tuhan mengunjungi Anna yang sudah lanjut usia itu membawa warta gembira: Tuhan berkenan mendengarkan doa ibu! Ibu akan melahirkan seorang anak perempuan, yang akan membawa sukacita besar bagi seluruh dunia! Dengan kegembiraan dan kebahagiaan yang besar, Anna menceritakan warta malaikat Tuhan itu kepada Yoakim. Setelah genap waktunya, lahirlah seorang anak wanita yang manis. Bayi ini diberi nama Maria. Kelahiran Maria menyemarakkan dan menyucikan kehidupan keluarganya. Allah berkarya dalam sejarah manusia; arti nama mereka sungguh sesuai dengan maksud pilihan Allah. Yoakim berarti Persiapan bagi Tuhan, sedangkan Anna berarti Rahmat atau Karunia Allah.

Gereja mengenang Yoakim dan Anna, karena Gereja bersyukur dan berterimakasih kepada Tuhan Bapa di surga yang menaburkan benih-benih panggilan di dalam keluarga. Yesus hadir dalam keluarga Yusuf dan Maria, demikian juga Maria yang dengan begitu mudah menjawab sapaanNya ada dan dibesarkan dalam keluarga Yoakim dan Anna. Keluarga memang seminari calon terpanggil.

Benarlah kalau Sirakh mengajak kita untuk memuji dan menghormati keluarga yang adalah kehidupan awal dalam sejarah manusia.  'Sekarang kami hendak memuji orang-orang termasyhur, para nenek moyang kita menurut urut-urutannya. Tetapi yang berikut ini adalah orang kesayangan, yang kebajikannya tidak sampai terlupa; semuanya tetap tinggal pada keturunannya sebagai warisan baik yang berasal dari mereka. Keturunannya tetap setia kepada perjanjian-perjanjian, dan anak-anak merekapun demikian pula keadaannya. Keturunan mereka akan tetap tinggal untuk selama-lamanya, dan kemuliaannya tidak akan dihapus'.

 

 

Oratio :

 

Ya Yesus, Engkau dibesarkan dalam keluarga Yusuf dan Maria, demikian juga Maria bundaMu. Semoga kami pun semakin menikmati kehidupan keluarga, yang menjadi tempat kehadiranMu secara nyata dalam keseharian hidup kami.

Santo Yoakim dan santa Anna, doakanlah keluarga kami. Amin.

 

 

Contemplatio :

'Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu'.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018