Rabu Pekan Biasa XIII, 4 Juli 2012

Am 5: 14-15.21-24  +  Mzm 50  +  Mat 8: 28-34

 

 

 

Lectio

 

Setibanya di seberang, yaitu di daerah orang Gadara, datanglah dari pekuburan dua orang yang kerasukan setan menemui Yesus. Mereka sangat berbahaya, sehingga tidak seorang pun yang berani melalui jalan itu. Dan mereka itu pun berteriak, katanya: "Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?" Tidak jauh dari mereka itu sejumlah besar babi sedang mencari makan. Maka setan-setan itu meminta kepada-Nya, katanya: "Jika Engkau mengusir kami, suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu." Yesus berkata kepada mereka: "Pergilah!" Lalu keluarlah mereka dan masuk ke dalam babi-babi itu. Maka terjunlah seluruh kawanan babi itu dari tepi jurang ke dalam danau dan mati di dalam air.

Maka larilah penjaga-penjaga babi itu dan setibanya di kota, diceriterakannyalah segala sesuatu, juga tentang orang-orang yang kerasukan setan itu. Maka keluarlah seluruh kota mendapatkan Yesus dan setelah mereka berjumpa dengan Dia, mereka pun mendesak, supaya Ia meninggalkan daerah mereka.

 

Meditatio:

'Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?'.

Itulah teriakan dua orang yang kerasukan setan menemui Yesus. Mereka sangat berbahaya, sehingga tidak seorang pun yang berani menghadapi mereka. Dan lihatlah orang yang kerasukan setan dapat menyebut dengan fasih bahwa Yesus adalah 'Anak Allah',  mereka bisa menyebut dengan benar dan manis; dan mereka sendiri pun sadar bahwa mereka akan binasa, tetapi mengapa  'Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?'. Kuasa kegelapan mengetahui perjalanan waktu. Mereka tidak selalu tampil dalam wajah yang menakutkan dan figur yang seram dan menjijikkan, sebagaimana diperkirakan banyak orang. Kuasa kegelapan bisa tampil dalam hal yang indah dan bagus, mereka tidak memberikan makanan yang pahit dan membosankan, melainkan aneka makanan yang enak, lezat dan menyenangkan. Namun mereka itu adalah serigala-serigala yang berbulu domba (Mat 7: 15), yang memang datang untuk menghancurkan dan membinasakan.

Hanya kepekaan hati akan kehadiran Allah akan dapat memampukan kita berhadapan dengan mereka; mereka pun tahu dan sadar bahwa mereka akan binasa dan hilang, bila berhadapan dengan Allah, sang Penguasa kehidupan.

'Pergilah!'

Jawab Yesus ketika mereka meminta: 'jika Engkau mengusir kami, suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu', yang memang pada waktu itu ada segerombolan babi di situ. Yesus berkuasa atas hidup dan mati (Rom 14), dan segala kuasa kegelapan tunduk di hadapanNya. Apakah jawaban Yesus ini sebuah persetujuan terhadap binasanya kawanan babi yang  terjun dari tepi jurang ke dalam danau? Bila memang benar, ini berarti Yesus Tuhan lebih menghendaki dan mengutamakan umatNya hidup dan selamat dibanding ciptaan lainnya. Umat manusia lebih berharga dan mulia dibanding ciptaan-ciptaan lainnya. Bukankah manusia diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah (Kej 1)?

Namun tidaklah demikian dengan orang-orang kota, yang secara sengaja mendapatkan dan  menjumpai Yesus. Mereka mendesak, supaya Ia meninggalkan daerah mereka. Mereka bukanya bersyukur bahwa kedua orang yang tinggal diperkuburan itu telah sembuh, mereka juga tidak berterimakasih kepada Yesus yang telah menyembuhkan kedua orang yang menakutkan itu. Mereka malahan mengusir Yesus, mengingat kawanan babi yang mereka miliki hilang dan binasa. Inilah memang kebiasaan kita juga, bahwasannya kita enggan dan tidak mau tahu untuk bersyukur kepada Tuhan Allah, kalau memang kita tidak ikutserta menikmati kebaikanNya. Kita tidak mampu mengusir Dia sang Pemilik kehidupan ini, malahan sebaliknya kita meninggalkan Dia dan pindah ke lain hati; yang tak dapat disangkal, bukannya kedamaian dan sukacita yang kita peroleh, melainkan kegelisahan dan kegoncangan jiwa.

Kiranya keselamatan jiwa menjadi perhatian utama kita bersama. Sikap orang-orang Gadara yang tidak mau tahu dengan keselamatan dua orang yang kerasukan setan, apalagi mereka merasa dirugikan, karena hilangnya kawanan ternak yang mereka miliki. Ketidakpedulian mereka adalah bentuk kurang perhatian mereka terhadap rasa keadilan dalam hidup bersama.

Bukanlah kemauan dua orang itu untuk dimiliki oleh kuasa kegelapan, mereka pun ingin bebas dari segala kungkungan kejahatan. Ketidakpedulian mereka terhadap dua orang yang telah disembuhkan itu berarti tidak adanya kasih dan perhatian terhadap sesama. Bacaan pertama mengingatkan ketidakpedulian terhadap sesama adalah ketidakadilan sosial; dan hal ini tidak menyenangkan hati Tuhan. Kenyamanan diri orang-orang Gadara tidak mendatangkan berkat bagi mereka, malahan petaka, walau mereka menyempatkan diri untuk mempersembahkan kurban persembahan dan pujian.

'Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup; dengan demikian TUHAN, Allah semesta alam, akan menyertai kamu; dan tegakkanlah keadilan. Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu. Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepada-Ku korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu, Aku tidak suka, dan korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau pandang.Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir'.

 

 

Oratio :

 

Ya Tuhan Yesus Kristus, kami bersyukur kepadaMu, karena Engkau selalu membuat segala-galanya menjadi baik adanya. Hanya saja, kami ini yang sering kurang tahu dan bahkan tidak mau berterimakasih kepadaMu, terlebih bila kami tidak ikut merasakan kebaikan yang dinikmati sesama. Kami mudah menuntut. Kami lebih suka hanya sebagai penonton.

Tuhan Yesus, jiwailah kami ini dengan semangat kasihMu. Amin.

 

 

 

Contemplatio :

'Ya Tuhanku dan Allahku!'.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening