Selasa Pekan Biasa XV, 17 Juli 2012

Yes 7: 1-9  +  Mzm 48  +  Mat 11: 20-24

 

 

 

Lectio

 

Suatu hari  Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat-mujizat-Nya: "celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan dari pada tanggunganmu."

 

 

Meditatio:

'Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus, Sidon, dan Sodom, akan lebih ringan dari pada tanggunganmu'.

Itulah keputusan yang diberikan Yesus menanggapi kota-kota: Khorazim, Betsaida dan Kapernaum, yang memang yang tidak mau bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat-mujizat-Nya. Banyaknya mukjizat yang dinikmati seseorang tidak menentukan dia masuk dalam lingkaran orang-orang  yang layak tinggal di hadapanNya. Tidak dapat disangkal, pemberian mukjizat dan aneka karunia lainnya dimaksudkan, agar setiap orang semakin terdorong berpaut kepada Dia sang Empunya kehidupan, dan bukannnya tenggelam sebatas pada pemberian-pemberianNya.

Yang menerima banyak dituntut banyak juga. Semakin tinggi sebuah pohon semakin banyaklah dia menerima terpaan angin. Demikian tentunya, mereka yang mendapatkan aneka karunia tentunya semakin tertantang  untuk menanggapi kasih dan panggilanNya. Sekali lagi, bukannya Allah meminta balas budi mereka, melainkan memang sengaja dimaksudkan, agar mereka yang menerima anugerahkan semakin mampu mengarahkan hati dan budinya hanya kepada Allah.

Kiranya kita harus berani bertanya dan bertanya bahwasannya banyaknya kasih karunia Tuhan, bukanlah pertanda mapannya hidup rohani seseorang dalam kebersamaan hidup; sebaliknya malahan aneka pemberian Tuhan menantang kita untuk semakin berani merundukkan diri di hadapan Tuhan, semakin menyadari kehadiran Tuhan dalam setiap perjumpaan kita dengan sesama, dan bahkan mampu menemukan kahadiran Tuhan dalam diri sesama. Ketidakberanian kita untuk merundukkan diri dan bertobat  kepadaNya membuat  aneka mukjizaNya menjadi perhitungan Tuhan sendiri bagi kita.

Dalam kemapanan hidup kita harus tetap bersandar pada Tuhan, demikian terlebih-lebih bila kita menyadari ketidakberdayaan kita. Demikianlah memang seharusnya. Itulah yang dinyatakan dalam bacaan pertama. Ketika Aram telah berkemah di wilayah Efraim, hati Ahas dan hati rakyatnya gemetar ketakutan seperti pohon-pohon hutan bergoyang ditiup angin. 'Teguhkanlah hatimu dan tinggallah tenang', tegas Tuhan Allah, 'janganlah takut dan janganlah hatimu kecut karena kedua puntung kayu api yang berasap ini, yaitu kepanasan amarah Rezin dengan Aram dan anak Remalya. Jika kamu tidak percaya, sungguh, kamu tidak teguh jaya'. Bila kita percaya akan Tuhan sang Empunya kehidupan, baiklah kita berserah diri kepadaNya. Hidup kita ada di dalam tangan kasihNya.

 

 

Oratio :

 

Ya Yesus, terima kasih banyak atas segala kasih karuniaMu yang Engkau berikan kepada kami. Engkau memang penuh kasih ya Tuhan.  Semoga berkat pemberian-pemberianMu itu, kami semakin berani bersyukur kepadaMu dan siap membagi-bagikannya. karena kami telah menerimanya dengan cuma-cuma.

Yesus, kasihanilah kami. Amin.

 

 

 

Contemplatio :

Lambungkan syukur kepada Tuhan yang Mahakasih.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening