Senin Pekan Biasa XIV, 9 Juli 2012

Hos 2: 13-19  +  Mzm 145  +  Mat 9: 18-26

 

 

 

Lectio

 

Suatu hari sementara Yesus berbicara, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata: "Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup." Lalu Yesus pun bangunlah dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya.

Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya. Karena katanya dalam hatinya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh." Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau." Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.

Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, berkatalah Ia: "Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur." Tetapi mereka menertawakan Dia. Setelah orang banyak itu diusir, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu. Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu.

 

Meditatio:

Jamahan Yesus. Itulah kerinduan banyak orang. Jamahan Yesus itulah juga yang dirindukan oleh seorang kepala rumah ibadat, yang dengan sangat memohon: 'anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup'. Dia ingin Yesus memberikan kehidupan kembali kepada anak perempuannya yang baru saja meninggal. Dia yakin bahwa Yesus mampu memberikan yang terbaik bagi hidupnya, dia yakin Yesus bisa menghidupkan kembali anaknya yang sudah terbaring mati; itulah juga pernah diungkapkan oleh seorang perwira Roma, yang malahan dengan rendahhati mengatakan: 'tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh' (Mat 8: 8).

Kedua-duanya mempunyai iman yang satu dan sama, mereka berbeda dalam pengungkaannya. Apakah karena pemimpin rumah ibadat seorang Yahudi asli, yang kuat dalam tradisi dan hukum Taurat, sehingga amat memerlukan tindakan-tindakan ritual? Yang meminta Yesus harus datang ke rumahnya? Apakah kepercayaan sang perwira Romawi itu lebih hebat dibanding sang pemimpin rumah ibadat, seorang yang mengenal hukum Taurat? Tak jarang memang, orang-orang di luar komunitas kita itu lebih hebat dalam menghayati iman kepercayaannya!

Dalam peristiwa kedua, bukan Yesus yang menjamah, malahan seorang perempuan, yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan. Perempuan ini tidak meminta Yesus menjamah dirinya, melainkan dirinyalah yang nekad menjamah Dia. Dia ini perempuan pemberani.  Dengan berani perempuan itu mendekati Yesus dan menjamah jumbai jubah-Nya, sebab  'asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh', dan dia pun mendapatkan berkatNya: 'teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau'. Sang kepala rumah ibadat pun juga mendapatkan belaskasihNya, sebab ketika Yesus masuk ke rumahnya dan memegang tangan anak itu, bangkitlah anak itu dan hidup kembali.

Apakah iman kepercayaan sang perempuan ini lebih hebat dibanding dengan sang pemimpin rumah ibadat? Bukankah dia telah meminta terlebih dahulu dari Yesus, tetapi malahan perempuan ini mendapatkan berkatNya terlebih dahulu daripadanya?

Keduanya mendapatkan kasih karunia yang luar biasa, tetapi bukanlah soal jamahan, tetapi karen iman kepercayaan mereka. Yesus tidak mengatakan sama sekali soal jamahan, melainkan soal iman kepercayaan. 'Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau'. Iman kepercayaan mendatangkan berkat, sebaliknya seperti yang kita renungkan kemarin, yakni pengalaman orang-orang Nazaret: ketidakpercayaan mereka menghalangi datangnya kasih karunia terhadap mereka. Yesus datang dan meletakkan tangan pada anak perempuan, karena iman kepercayaan sang ayahnya; demikian juga si perempuan itu berani menjamah jumbai jubahNya, karena kepercayaannya kepada Yesus.

Jamahan dan sentuhan tanpa kasih memang tidak bermakna, tanpa rasa; karena jamahan itu tanpa hati, tanpa kerinduan. Tidaklah demikian jamahan dalam kedua peristiwa di atas, yang memang disertai kerinduan yang mendalam akan belaskasih Allah.

Kiranya kita semakin memperdalam kerinduan dan kasih kita kepada Tuhan sang Empunya kehidupan, karena memang dengan kerinduan ini kita akan beroleh segala yang indah dan luhur. Bacaan pertama dari kitab Hosea mengingatkan bahwa Allah selalu mengasihi dan memperhatikan kita, yang dengan indahnya memandang kita sebagai sang isteri, milikNya sendiri. 'Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang. Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal TUHAN'. Kalau Dia sudah memperhatikan dan mengasihi, maka amat baiklah kalau kita menanggapi dan menjawabiNya.

 

 

Oratio :

 

Ya Tuhan Yesus, hanya iman kepercayaan kepadaMu yang dapat meringankan langkah kami dalam setiap perjalanan hidup ini; sebab berkat iman, kami dapat mengharapkan segala indah bagi hidup kami, bahkan bila harapan kami mengatasi segala kemampuan yang kami miliki.

Yesus teguhkanlah iman dan harapan kami ini. Amin.

 

 

Contemplatio :

'Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau'.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening