Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2012



Sir 10: 1-8  +  1Pet 2: 13-17  +  Mat 22: 15-21

 

 

 

 

Lectio

 

Suatu hari pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?"

Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu." Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya. Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?" Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."

 

 

Meditatio:

'Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka'.

Inilah pujian palsu yang disampaikan oleh murid-murid orang Farisi bersama-sama orang-orang Herodian. Pujian palsu, karena memang tidak ada keinginan hati mereka untuk memujiNya, hanya mulut mereka; mereka malahan hendak mencobai dan menjerat sang Guru. Adalah kebodohan memang mencobai Tuhan. Yesus mengetahui kejahatan hati mereka, lalu berkata: 'mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?'. Kiranya pujian yang keluar dari mulut kita benar-benar berasal dari lubuk hati kita yang terdalam, dan bukannya sekedar rumusan doa yang wajib kita katakan. Kita bukan bangsa munafik.

'Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?'

Pertanyaan mereka diarahkan langsung kepada Yesus. Pertanyaan yang hendak menjerat, berarti dimaksudkan tidak untuk mencari kebenaran, melainkan untuk menjatuhkanNya. Sekali lagi, kebodohan mereka ialah mencobai Tuhan! Berkenaan dengan pajak berarti berkenaan dengan dunia politik. Yesus tahu benar!

'Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah'. Yesus tidak menjawab langsung pertanyaan mereka. Yesus mengembalikan kepada mereka, kepada kita semua, yakni apa yang menjadi tugas dan tanggunjawab kita, haruslah kita penuhi. Sebagai anggota masyarakat, wajiblah kita memenuhi segala kewajiban kita (bdk Mat 17: 25-27). Sebagai anggota keluarga atau komunitas, kita penuhi tugas dan tanggungjawab kita, dan janganlah melarikan diri tempat di mana kita hidup. Itu munafik. Sebagai putra-putri Bapa di surga, sebagaimana kita akui demikian, hendaknya kita memberi waktu untuk mendengarkan Dia, sang Empunya kehidupan ini. Inilah kewajiban kita sehari-hari, kita tidak menambahkan dan menguranginya. Tidak perlu kita melakukan yang muluk-muluk, cukuplah kita melakukan segala sesuatu yang sesuai dengan kewajiban sehari-hari; dan itulah juga yang dilakukan oleh Yesus sendiri, 'sebab Aku telah turun dari sorga untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku' (Yoh 6: 38).

Tepatlah yang dikatakan Petrus dalam suratnya yang pertama tadi: 'tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik. Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!'. Tak dapat disangkal, kita adalah putra-putri Allah Bapa di surga, yang hidup bersama membentuk negara, yang mempunyai dewan perwakilan dan lembaga-lembaga, dan hidup sebagai bangsa yang dipimpin oleh seorang presiden. Kita diminta memberikan kepada lembaga pemerintahan apa yang wajib kamu berikan kepada mereka, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.

Kewajiban-kewajiban, yang disampaikan Yesus kepada kita, tidak menjadikan kita orang-orang yang terbelenggu. Yesus malahan menempatkan dan mengarahkan seluruh kehendak dan akal budi kita ini dalam koridor yang baik dan benar. No man is an island.  Kita hidup bersama sebagai masyarakat; dan tidak ada  'seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, bahkan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan' (Rom 14: 7-8).

Petrus juga menasehatkan kepada kita: 'hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah'. Kehendak dan kemerdekaan kita amatlah tepat, bila kita persembahkan kepada Allah yang hadir dalam diri sesama kita.

Di hari istimewa ini, sedikit kita dengar seruan seorang pemerhati:

Merdeka!

gemuruh sebuah bangsa

Mereka!

teriak seorang anak bangsa

Tak dapat disangkal memang,

Mereka yang kuasa, mereka yang kaya, mereka yang kuat, mereka yang besar, mereka yang menang, merekalah yang merdeka.

Mereka!

Selama mereka tidak jujur mengakui ini kenyataan,

Indonesia tetap indonesia,

yang jauh dari kebenaran bangsa

 

 

 

Oratio :

 

Yesus Kristus Tuhan, kami bersyukur kepadaMu atas kesuburan alam semesta, yang mekar di tanah air kami tercinta. Rahmatilah para pemimpin kami dengan Roh kebijaksanaanMu, agar bangsa kami Indonesia ini benar-benar mampu menikmati diri sebagai bangsaMu sendiri.

Ya Tuhan, turunkanlah hujan keadilan, damai dan kesejahteraan kepada bangsa dan negara kami, Republik Indonesia. Amin.

 

 

Contemplatio :

"Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah".

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018