Kamis Pekan Biasa XX, 23 September 2012

Yeh 36: 23-28 + Mzm 51 + Mat 22: 1-14




Lectio:

Suatu hari Yesus berbicara dalam perumpamaan kepada mereka: Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka

Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih."




Meditatio:

'Murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka'.

Bagaimana harus menafsirkan perumpamaan ini. Ada yang mengatakan: kejam kali sang raja ini. Orang tidak mau datang memenuhi undangan adalah hak dan kebebasan, yang tidak bisa dipaksakan. Benar! Namun saya melihat ada suatu hal positif dalam perumpaan yang disampaikan kepada kita hari ini. Pertama, 'Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini' adalah suatu ungkapan kebaikan hati raja, yang menginginkan semua orang menikmati perjamuan yang disediakan bagi mereka. Boleh dikatakan: kewajiban bagi raja untuk mengundang warganya, agar mereka menikmati sukacita, berkumpul dan bersatuhati dengan dirinya dan menikmati hidangan yang telah disediakan. Raja menghendaki semua orang datang dan menikmatinya. Allah menghendaki agar semua orang beroleh selamat. Allah tidak menghendaki seorang pun binasa. Allah berkeinginan keras agar semua orang selamat.

Kedua, 'tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya'. Mereka, ternyata tidak seorang pun yang mengindahkan pesta nikah itu. Mereka diundang, karena mereka adalah bangsa dan umat terpilih, suatu anugerah istimewa yang diberikan Allah kepada umatNya. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing; bahkan ada yang terang-terangan menolak undangan sukacita itu dengan membunuh dan membinasakan orang-orang yang diutus sang raja (bdk. Mat 21: 34-39). Para warga tidak menghendaki undangan itu. Manusia menolak keselamatan yang dilimpahkan Tuhan kepada umatNya. Kemurkaan raja, sebenarnya hanya gambaran sang penulis Injil, bahwa keselamatan itu adalah kehendak dan kemauan Tuhan, yang tidak dapat diganggu gugat. Allah menghendaki semua orang selamat. Kebinasaan adalah resiko dari sikap penolakan terhadap Allah, yang memang bukan kehendak Allah. Menolak keselamatan berarti binasa.




'Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu'.

Kasih sang raja tidaklah berhenti, karena penolakan orang-orang yang melawan dirinya. Dia malahan membuka tangan selebar-lebarnya bagi setiap orang yang berkehendak baik. Semua orang malahan diundangnya. Demikain Allah yang penuh kasih dan murah hati itu. 'Pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu'. Pesta perjamuan diadakan bukan untuk sang raja, melainkan untuk seluruh rakyatnya. Raja menghendaki seluruh rakyatnya mengalami sukacita bersamanya. Itu rencana dan kemauan Tuhan Allah, yang ingin selalu membahagiakan umatNya. Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. Suatu kenyataan yang akan terjadi bahwa masih ada orang-orang yang menanggapi kehendak Tuhan dengan kemauannya sendiri, menggampangkan kemauan baik Tuhan. Tidak mau berpakaian pesta adalah gambaran orang yang menggampangkan kemauan Tuhan. Dia adalah orang yang tidak serius dalam hidupnya, dan tidak menanggapi baik kemauan Allah. Asal hidup adalah prinsip hidupnya; dan sikap ini tidak dikehendaki oleh Tuhan. Asal-asalan mengikuti Yesus adalah sikap yang tidak mendatangkan berkat, melainkan sengsara belaka.

Kita pun sering bertindak seperti orang yang tidak berpakaian pesta. Egoisme diri amatlah kuat; tak jarang memang kita ingin dilayani oleh sesama kita, bahkan ingin dilayani oleh Tuhan. Kita meminta agar Tuhanlah yang mau mengerti dan memahami kita; kalau kita sampai terlewat untuk tidak berdoa terlebih dahulu sebelum makan, hendaknya Tuhan mengerti kalau kita sedang lapar; bukankah Dia maha pengasih dan penyayang, panjang sabar dan penuh belaskasihan? Tuhan Yesus sungguh mengerti, kalau misalnya kita terlambat pergi ke gereja, karena memang rumah kita jauh dan jalan macet. Tuhan Yesus sungguh memahami kita, bila kita duduk di dalam gereja di bangku terakhir, karena terlambat datang. Ini semua bukanlah sikap iman yang benar, karena begitu akrabnya dengan Tuhan, melainkan kemalasan pribadi yang memang sama sekali tidak mendatangkan berkat, melainkan lama-lama menjadi beban hidup.

'Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih' adalah kenyataan hidup yang ada di tengah-tengah kita. Kenyataan hidup yang memang terpaksa terjadi, karena sikap dan tindakan kita manusia yang ingin mencari menangnya sendiri. Dalam konteks kebersamaan hidup, kebanggaan diri sebagai anggota komunitas, yang tidak dibarengi dengan usaha pertobatan diri, adalah kesia-siaan belaka. Keindahan sebuah komunitas hanya akan semakin terbangun dan dikagumi banyak orang, bila memang setiap anggotanya mempunyai pertobatan diri yang mendalam.

'Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya. Aku akan melepaskan kamu dari segala dosa kenajisanmu dan Aku akan menumbuhkan gandum serta memperbanyaknya, dan Aku tidak lagi mendatangkan kelaparan atasmu'. Ini adalah kemauan Tuhan Allah, dan ini semua, sebagaimana dikatakan oleh Tuhan sendiri melalui nabi Yehezkiel, seperti dikutip dalam bacaan pertama, akan terjadi, bila setiap anggota komunitas berani membuka diri kepada sang Sabda, dan bukannya hanya berbangga diri dan bersembunyi dalam komunitas. Komunitas secara otomatis akan tumbuh dan berkembang, bila memang kita membiarkan diri dibimbing oleh Allah sendiri. Janganlah kita membanggakan-banggakan diri sebagai anggota sebuah komunitas, bila tidak ada pertobatan diri. 'Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya' (Mat 21: 33-41), kiranya tidak akan terjadi dalam komunitas-komunitas kita.




Oratio:

Ya Tuhan Yesus, kami seringkali menggampangkan diriMu, karena memang anugerah-anugerah yang telah kami terima daripadaMu. Kami salah mengerti akan makna kebaikan hatiMu kepada kam; kami sering menyia-nyiakan kebaikanMu. Kami mohon kepadaMu, ya Yesus, buatlah kami menjadi orang-orang yang tahu berterima kasih kepadaMu, dan tahu menempatkan diri di hadapanMu, yang adalah sang Empunya kehidupan ini, sehingga kami pada akhirnya Engkau perkenankan menikmati perjamuan kekal abadi di surga.

Yesus tambahkanlah iman kami kepadaMu. Amin.




Contemplatio:

Terima kasih Yesus atas perhatianMu kepadaku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening