Minggu Pekan Biasa XXI, 26 Agustus 2012



Yos 24: 1-2  +  Ef 5: 21-32  +  Yoh 6: 60-69



Lectio:

Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: "Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?" Yesus yang di dalam hati-Nya tahu, bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka: "Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu? Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada? Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya." Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia. Lalu Ia berkata: "Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya." Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia. Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: "Apakah kamu tidak mau pergi juga?" Jawab Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah."



Meditatio:

'Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman'.

Penyataan Yesus inilah yang menggoncangkan hati  banyak muridNya; kata mereka: 'perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?'. Bagaimana mungkin kita harus makan daging dan minum darahNya? 'Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan?' (Mat 6:52). Yesus, yang adalah Tuhan, yang hati-Nya tahu, bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang penyataanNya, berkata kepada mereka: 'adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu? Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada?'. Apakah peristiwa terangkatNya Anak Manusia itu lebih mengejutkan banyak orang? Sepertinya begitu, atau memang secara sengaja Yesus hendak menyatakan: bahwa semua juga bisa terjadi, bila setiap orang berani makan daging dan minum darahNya, di mana 'ia  akan tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia'. PenyataanNya ini sekaligus memberi kepastian bagi setiap orang: siapakah diriNya, dari mana diriNya berasal. Sebab melihat Yesus dalam kemuliaanNya sungguh-sungguh menjadi kerinduan hati  banyak orang. 'Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia' (Mat 17: 4), seru Petrus yang pernah mengalami kemuliaan surgawi.

Yesus memang menegaskan bahwa 'daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman', serentak hendak menyatakan bahwa segala yang disampaikan ini berkaitan dengan kehidupan setiap orang. Yesus mengajak setiap orang untuk berani menikmati Roti kehidupan, karena memang Allah menghendaki kita semua beroleh selamat. Roti kehidupan itu tidak lain dan tidak bukan adalah tubuh dan darahNya sendiri, 'Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia' (Yoh 6: 51). Keberanian menerima Roti kehidupan berarti menerima kehidupan Yesus sendiri, sehingga benarlah yang dikatakan tadi, bahwa seseorang yang berani menikmatiNya 'akan tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia'. Penyataan Yesus berbeda dan tidak sama dengan kerumitan yang dihadapi oleh orang-orang Yahudi pada waktu: 'bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan?' (Mat 6:52) Makanlah dan minumlah, pertama dalah sebuah ajakan Yesus agar mereka, para murid, dan kita semua,  berani menikmati Roti kehidupan, yang diberikanNya sendiri; kedua, sekaligus, mengajak kita semua semakin berani menerima kehadiran hidup abadi dalam dirinya, sebab hanya menerima Tuhan Allah seseorang akan menikmati arti kehidupan yang sebenarnya. Keberanian menikmati Roti kehidupan adalah suatu anugerah Allah, karena itu menyitir ungkapan Paulus dalam bacaan kedua tadi, bahwa  'rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dengan GerejaNya'. Kebaranian menikmati Roti kehidupan adalah relasi akrab Kristus dengan GerejaNya. Karena itu, Yesus dalam Injil tadi menegaskan: 'Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup'.


'Apakah kamu tidak mau pergi juga'.

Itulah tantangan Yesus kepada duabelas muridNya, karena sehabis pengajaranNya tentang Roti hidup banyak para murid yang meninggalkan Yesus. 'Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah', jawab Simon Petrus. Suatu jawaban yang menyatakan sebuah pilihan yang harus diambil dan tetap dimilikinya, berkat pengalaman hidup, walau tak dapat disangkal Allah sendiri berkarya dalam diri Simon Petrus  'Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga' (Mat 16: 17), dan juga dalam diri setiap orang yang percaya kepadaNya. Allah selalu menghantar setiap orang yang mau datang kepada sang kehidupan, sebab 'tidak ada seorangpun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya'.


'Apakah kamu tidak mau pergi juga'.

Kiranya sekarang ini kita tidak menghadapi persoalan sebagaimana dihadapi para murid. Pernyataan Yesus berkenaan dengan keberadaan Roti hidup tidak lagi menjadi bahan persoalan kita, tetapi kemauan kita untuk berani dan setia menikmatiNya inilah kiranya yang menjadi tantangan kita selalu. Apakah cita-cita dan kerinduan kita akan kehidupan kekal tetap selalu membara dalam hidup ini? Apakah malahan cara hidup instant begitu mendominasi kebiasaan kita sehari-hari, mengingat terbiasanya kita menikmati makanan siap-saji di manapun kita berada? Ada baiknya, kita selalu mengingat segala kebaikan Tuhan, yang kita terima dan boleh kita nikmati. Apakah kita sungguh-sungguh merasakan bahwa Tuhan melimpahkan berkat dan rahmatNya kepada kita? Pasti ada banyak berkat dan kasihNya yang menyelimuti hidup kita. Hendaknya kita jujur; tetapi beranikan kita merasakan dan menikmatinya, bahkan mengucapkan syukur kepadaNya?

Kalaupun Tuhan Yesus menantang kita: 'apakah kamu tidak mau pergi juga?', sebagaimana dikatakan kepada para rasulNya, kita akan tetap bertahan pada pilihan kita, mengingat betapa besar kasihNya yang menghidupi kita. Tidak sedikit memang, sabda dan kehendakNya yang tidak kita mengerti dan membuat kita bertanya-tanya, apalagi semakin dibuat gelisah dan bingung dengan aneka persoalan hidup yang membelit, tetapi mengingat kasih karuniaNya yang selalu kita nikmati dan menopang hidup kita ini, maka kita pasti akan tetap berdiri teguh di hadapan Dia. 'Jauhlah dari pada kami meninggalkan TUHAN untuk beribadah kepada allah lain! Sebab TUHAN, Allah kita, Dialah yang telah menuntun kita dan nenek moyang kita dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan, dan yang telah melakukan tanda-tanda mujizat yang besar ini di depan mata kita sendiri, dan yang telah melindungi kita sepanjang jalan yang kita tempuh, dan di antara semua bangsa yang kita lalui. Kamipun akan beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah kita'. Kiranya seruan Israel ini juga menjadi seruan kita bersama.

Allah itu baik. Sungguh baik bagiku.



Oratio:

Ya Tuhan Yesus, jadikanlah kami orang-orang yang setia kepadaMu, terlebih ketika menghadapi aneka peristiwa kehidupan yang betul-betul sulit dan tidak masuk akal, peristiwa pahit dan menjengkelkan hati.  Kami seakan-akan dibanting dan ditelantarkan, dan ditinggal seorang diri, sepi dan membosankan. Padahal pada waktu itu, Engkau hadir dan ada di samping kami, menyertai dan menjaga kami. Yesus, bantulah kami dalam merasakan kehadiranMu. Amin.



Contemplatio:

'Apakah kamu tidak mau pergi juga'.







Oremus Inter Nos, 
Marilah kita saling mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening