Pesta Yesus menampakkan kemuliaanNya, 6 Agustus 2012



2Pet 1: 16-19  +  Mzm 97  +  Mrk 9: 2-10

 

 

 

Lectio

 

Suatu hari Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka,  dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu.  Maka nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus.

Kata Petrus kepada Yesus: "Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia."  Ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan. Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia."  Dan sekonyong-konyong waktu mereka memandang sekeliling mereka, mereka tidak melihat seorang pun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri.

Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorang pun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati.  Mereka memegang pesan tadi sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan "bangkit dari antara orang mati."

 

 

Meditatio:

'Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia'.

Itulah ungkapan Petrus. Ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Ia tidak bisa berkata-kata, karena rasa kagum, terpesona, tak berdaya dan merasa tak pantas melihat keagungan dan kemuliaan ilahi yang ada di depan mata mereka; mereka sangat ketakutan karena merasa semakin kecil dan lemah di hadapan Dia yang agung dan mulia. Mereka pun merasa sukacita yang mendalam, dan ingin ada bersamaNya selalu, bersama Musa dan Elia.

Itulah pengalaman indah yang dinikmati Petrus, Yakobus dan Yohanes, ketika melihat Yesus berubah rupa di depan mata mereka,  dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat menggelantang pakaian seperti itu.  Tampak juga Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus. Mereka bertiga bagaikan tinggal dalam surga, berjumpa dengan para nabi dan leluhur mereka; sungguh berbahagia mereka, karena 'banyak orang benar ingin melihat apa yang mereka lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang mereka dengar, tetapi tidak mendengarnya'  (bdk. Mat 13: 17). Kini mereka melihat sungguh siapakah Yesus yang agung dan mulia itu.

'Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia'.

Suara yang keluar dari awan yang menaungi mereka, dan langsung menunjuk pada Yesus seorang diri, dan bukan kepada yang lain, yang memang mereka berdua sudah tidak tampak lagi. Para  murid diminta untuk berani mendengarkan Yesus, karena kepada Dia Allah berkenan. Suara itu sepertinya menjawab langsung keinginan dan kerinduan Petrus untuk selalu bersama para nabiNya menikmati kemuliaan surgawi; semuanya bisa terjadi, bila memang mau mendengarkan Dia, kepadaNya Bapa berkenan.

Itulah sebabnya dalam suratnya yang kedua dalam bacaan pertama tadi, Petrus menegaskan: 'alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu'. Mendengarkan sabda Tuhan itu harus penuh pengharapan, sebab dialah pelita; dan sabdaNya inilah yang menghantar orang untuk kelak menikmati kemuliaan surgawi, yang digambarkan tadi sebagai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hati.

Petrus pun memberi kesaksian dalam bacaan pertama tadi: 'kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya. Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: -Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan-. Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus'.

Dia tidak cepat untuk mengumbar kesaksian, walau dia melihat dan mengalami segala yang indah; Petrus sadar bahwa semuanya itu pengalaman pribadi, yang tidak bisa dipaksakan kepada orang lain. Petrus mengutamakan kehendak dan kemauan Tuhan: 'dengarkanlah Dia', itulah permintaan Tuhan pada dirinya. Pada 'waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorang pun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati';  inilah permintaan Tuhan Yesus, agar mereka tidak memberi kesaksian sedikit pun sebelum waktunya, dan Petrus mentaatinya.

'Mereka memegang pesan tadi sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan -bangkit dari antara orang mati-'. Inilah ketaatan para murid yang benar-benar patut dibanggakan. Dan ingatlah, ketaatan seringkali diwarnai oleh pelbagai hal yang tidak kita mengerti, dan sebaliknya akal budi seringkali memberontak untuk mengetahuinya. Namun para murid begitu taat dan setia kepada kehendak Tuhan daripada kemauan diri sendiri. 'Mereka memegang pesan tadi' yakni untuk tidak berkata-kata tentang apa yang mereka alami, walau 'sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan -bangkit dari antara orang mati-'. Ketidakmampuan akal budi untuk mengerti persoalan, sama sekali tidak mengaburkan kemurnian dari sebuah ketaatan.

 Pada pesta Yesus menampakkan kemuliaan, kita sungguh-sungguh diingatkan akan keluhuran nilai-nilai ketaatan, yang mana kehendak Tuhan haruslah menjadi pilihan utama dalam hidup kita. Sabda dan kehendak Tuhanlah yang menyelamatkan dan bukannya kemauan diri kita.

 

 

 

Oratio :

 

Yesus Kristus, kami bersyukur kepadaMu atas rahmat dan kasih karunia yang Engkau berikan kepada kami. Buatlah diri kami ini untuk semakin berani mendengarkan sabdaMu, karena memang Engkau sungguh berbelaskasih kepada kami.

Yesus jadikanlah kami ini orang-orang yang taat dan setia kepadaMu. Amin.

 

 

Contemplatio :

'Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia'.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Pesta Maria mengunjungi Elizabet