Rabu Pekan Biasa XX, 22 Agustus 2012

Yeh 34: 1-11 + Mzm 23 + Mat 20: 1-16





Lectio:

Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan merekapun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.

Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu. Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi merekapun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir."




Meditatio:

'Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari'.

Itulah teriakan orang-orang yang masuk kerja mulai pagi. Pahit dan tidak mengenakkan memang yang mereka alami. Mereka berteriak-teriak, karena merasa mendapatkan perlakukan yang tidak adil? Benarkah demikian? 'Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?' . Mereka memang sudah mengadakan perjanjian. Keselamatan, memang sekali lagi, bukanlah kita peroleh berdasar lamanya kita bekerja dan mengabdi kepada Allah. Bukan pula banyaknya hal yang telah kita kerjakan demi keagungan dan kemuliaanNya. Keselamatan adalah soal kemauan untuk melakukan kehendak Allah. Keselamatan tidaklah memperhitungkan segala kekurangan kita, kelamahan dan keterbatasan kita, yang terpaksa membuat kita masuk siang atau sore hari. Saat ini dipanggil, saat ini juga saya mengamini. Inilah pengalaman yang sejati. Namun inilah juga kenyataan hidup, ada putih ada hitam, ada manis ada pahit, ada lurus ada lengkung, dan inilah pengalaman orang-orang yang ada di antara kita, sebagaimana diceritakan dalam perumpamaan tadi.

Perasaan seseorang merasa bahwa 'yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir' memang akan terjadi. Semua akan terasa seperti itu, selama kita memperhitungkan bahwa keselamatan adalah hasil usaha kita semata-mata.

Bila demikian masih perlukah kita bersusah-susah mengejar keselamatan? Bukankah kita memang akan minum dari cawan yang harus diminumNya, terapi duduk di sebelah kanan atau di sebelah kiri adalah Allah Bapa yang menghendakinya? Di sinilah memang betapa beratnya mengikuti Yesus Kristus, yang memang tidak ingin mendirikan komunitas orang-orang yang menyenangi diriNya. Dia datang bukan untuk mencari pengikut dengan menegaskan komunitas dan ajarannyalah yang sungguh-sungguh mulia. Yesus datang tidak untuk mendirikan komunitas-komunitas! Para murid Yohanes bertanya: apakah Engkau adalah seseorang yang harus kami tunggu-tunggu, atau masih adakah yang lain? Yesus tidak menjawab mereka secara langsung: lihat saja apa yang kalian lihat dan kali dengar: yang buta melihat, yang tuli mendengar, yang lumpuh melompat-lompat dan kepada kaum miskin diwartakan kabar sukacita. Demikian juga ketika banyak orang mengatakan bahwa Dia adalah Yohanes Pembaptis, atau Elia atau salah seorang nabi, Yesus sama sekali tidak mengkoreksi mereka, malahan sebaliknya Dia melarang memberitahukan bahwa diriNya adalah Messias, yang dari Allah.

Apakah kalian akan meninggalkan Aku? Inilah tantangan Yesus kepada kita.

Aku ingin ikut Engkau ya Yesus, aku berserah kepadaMu. Aku rela Engkau mau buat apa aku ini. Aku percaya kepadaMu, Yesus. Aku hanya percaya kepadaMu: Engkaulah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Hanya padaMulah ada keselamatan.

Tuhan Allah dalam bacaan pertama melalui nabi Yehezkiel mengatakan: 'Aku sendiri akan memperhatikan domba-domba-Ku dan akan mencarinya'. Inilah kiranya yang memberikan jaminan kepada kita bahwa Allah sendiri akan menjadi Gembala kita umatNya. Dia mencari yang hilang dan menyelamatkan; yang memang semuanya itu terlaksana secara nyata dalam diri Yesus Kristus, yang memberikan nyawaNya menjadi tebusan seluruh umat manusia.



Tak boleh disangkal memang, dalam pergaulan sehari-hari iri hati dan cemburu sempat terlontar menanggapi sikap Tuhan Allah dalam menunjukkan kemurahanhatiNya. Mereka telah merasa bekerja mulai pagi dalam aneka pelayanan, terapi mendapatkan upah yang lebih kecil dari pada mereka yang masuk siang hari. Namun tidaklah demikian, bagi saudara-saudari kita yang sungguh-sungguh memaknai malam gelap dan padang gurun kehidupan, dia akan tetap bersyukur dan bersyukur kepada Tuhan atas anugerah yang dilimpahkan Tuhan kepada umatNya. Malahan bersikap seperti Maria, yang terus berani melangkah maju ke depan, menerima kehadiran sang Putera, walau sebilah pedang akan menembus jiwanya. Dia bersyukur kepada Tuhan Yesus, karena dia mampu melihat rencana Tuhan yang lebih indah akan terjadi dalam dirinya. Tuhan telah mempunyai rencana yang indah dalam hidupku. Aku sabar menantikannya, yang pada akhirnya aku kelak dapat berkata: Tuhan, ijinkanlah hambaMu sekarang berpulang, sebab mataku telah melihat keselamatan yang berasal daripadaMu, sebagaimana dikumandangkan Simeon di akhir hidupnya. Dia bersikap demikian, karena memang dia sungguh-sungguh orang yang beriman.



Oratio:

Ya Tuhan Yesus, ajarilah kami dalam beriman kepadaMu. Engkau mengajak kami untuk benar-benar murni dan ikhlas percaya kepadaMu. Engkau tidak menginginkan kami pamrih sedikitpun dalam mengabdi Engkau, walau inilah yang amat sulit bagi kami, ya Tuhan. Namun kami percaya bahwa Engkalah Jalan, Kebenaran dan Hidup, sebab hanya percaya kepadaMu kami beroleh kehidupan.

Ya Maria Ratu, engkau menikmati yang indah dan mulia, karena keberserahan dirimu kepada Yesus sang Putera. Doakanlah kami ya Maria, agar kami kelak boleh menikmati keindahan surgawi bersamamu, bahkan mulai sekarang diijinkan menikmati keharuman surgawi itu. Amin.



Contemplatio:

Aku datang untuk memaksakan kehendakMu ya Tuhan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening