Sabtu Pekan Biasa XIX, 18 Agustus 2012


Yeh 18: 1-10  +  Mzm 51  +  Mat 19: 13-15

  

 


Lectio

 

Suatu hari datang seorang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga."

Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ.

 

 

Meditatio:

'Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga'.

Itulah permintaan Yesus kepada para muridNya, yang melarang dan memarahi orang yang datang membawa anak-anak kecil kepada Yesus. Kerena memang mereka datang, bukan untuk mengganggu Yesus, melainkan supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka. Mengapa mereka menolak anak-anak? Apakah anak-anak itu sering merepotkan dan rewel? Apakah kepada mereka belum begitu perlu pewartaan tentang Kerajaan Allah? Apakah terlalu hijau bagi mereka untuk berpikir tentang keselamatan? 'Sungguh, semua jiwa Aku punya! Baik jiwa ayah maupun jiwa anak Aku punya!', sabda Tuhan melalui Yeheskiel dalam bacaan pertama. Penolakan terhadap anak-anak adalah penolakan terhadap Tuhan sendiri.

Tak jarang memang orangtua menjadikan anak-anak mereka  sebagai biang keladi, padahal mereka adalah sang buah hati dan mereka ini tidak mampu mampu berbuat apa-apa. Banyak orangtua yang tidak bisa melakukan ini dan itu, dengan alasan karena anak-anak mereka. Banyak anak yang mendapatkan tuduhan sebagai penghambat aneka kegiatan orangtua, yang mana semuanya itu tidaklah benar sepenuhnya.

Sepertinya para murid lupa, sebagaimana kita renungkan hari Selasa kemarin.  'Barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga' (Mat 18: 4). Ketaatan, ketidakberdayaan dan keinginan untuk selalu didampingi inilah spiritualitas hidup anak kecil; dan inilah yang harus menjadi patrun hidup di hadirat Allah. Sikap yang mengandalkan kekuatan dari Allah inilah kuncinya, dan bukannya kekuatan diri sendiri, dan merasa mampu melakukan segala-galanya, dan bahkan merasa diri berjasa, bagi diri sendiri ataupun bagi orang lain.

Anak-anak menjadi sang empunya Kerajaan Surga, bukan karena usia mereka, melainkan karena ketidakberdayaan mereka mengatasi di sendiri dan menyerahkan kepada orang lain, terlebih kepada Allah. Kerinduan mereka untuk selalu dilindungi dan didampingi oleh Dia yang lebih kuat dan mengatasi hidup, menjadi contoh bagi setiap orang dalam bergayut kepada Tuhan. Tepatlah apa yang katakan Paulus sendiri: 'jika aku lemah, maka aku kuat' (2Kor 12: 10). Paulus merasa kuat dan teguh, karena memang dia selalu 'bermegah di dalam Tuhan' (1Kor 1: 31).

Yesus menerima mereka, anak-anak, dan mengajak para muridNya, dan kita semua, berani menerima mereka juga, karena 'barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku' (Mat 18: 5). Yesus memberikan jaminan kepada setiap orang untuk menerima mereka. Berani menerima anak-anak kecil memang sama saja menerima mereka, saudara dan saudari kita yang lemah dan hina, dan 'sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku' (Mat 25: 40).

Yesus pun lalu meletakkan tangan-Nya atas anak-anak itu. Kalau Yesus merasa bangga dengan kedatangan anak-anak, demikian kita sang pedamping buah hati. Kita harus memberikan perhatian kepada mereka untuk memperkenalkan mereka kepada Kristus, sang Empunya kehidupan. Kita harus siap  mengajak anak-anak kita menjawab: 'berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar' (1Sam 3: 9), bila Dia memanggil dan memanggil mereka; dan kita pun harus berani menjelaskan kepada mereka siapakah Dia.


 

Oratio :

 

Ya Tuhan, kami bersyukur kepadaMu atas sang buah hati keluarga kami, mereka ini selalu menggembirakan keluarga dan menjadikan masa depan semakin ceria. Semoga kami semakin berani menerima mereka apa adanya, dan memberi kesempatan kepada mereka untuk mengenal Engkau.

Yesus Kristus, berkatilah selalu anak-anak kami. Amin.

 

 

Contemplatio :

'Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku'.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Senin Pekan Biasa XVIII, 7 Agustus 2017

Selasa XXX, 26 Oktober 2010