Sabtu Pekan Biasa XX, 25 Agustus 2012


Yeh 43: 1-7  +  Mzm 85  +  Mat 23: 1-12





Lectio:

Suatu hari berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. 

Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.




Meditatio: 

'Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya' 

Musa dalam perjalan hidup Israel adalah seorang pemimpin besar bangsa. Kepahlawanan Musa dalam memimpin Israel dalam perjalanan keluar dari perbudakan Mesir patutlah dibanggakan. Dia adalah pembela bangsa, baik di hadapan bangsa-bangsa dan bahkan di hadapan Allah sendiri. 'Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia' (Mat 17: 4) adalah sebuah ungkapan sukacita dan sebuah kehormatan tersendiri boleh memandangnya secara lebih dekat, sekaligus sebagai pengakuan siapakah Yesus itu sebenarnya, berkat kesaksian Musa dan Elia.

Bila Musa mendapatkan tempat tinggi dalam sejarah Israel, demikian pula mereka yang menduduki kursi Musa, sebagai para pemimpin spiritual dan kultural bangsa. Maka wajiblah menghormati dan menghargai para ahli Taurat dan orang Farisi, yang mendapatkan kedudukan istimewa itu. Sebagi para pemimpin, segala ajaran dan perintah-perintah mereka wajib ditaati. 'Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik' (1Pet 2: 13-14).  Ketaatan kepada para pemimpin diteguhkan dalam dimensi ketaatan kepada Allah sendiri. Taatilah mereka yang duduk dalam kepemimpinan hidup bersama, tapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya, 'mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil rabi'. Perbuatan mereka tidaklah perlu diteladani, karena mereka adalah orang-orang munafik. Mereka itu mengajarkan tetapi tidak melakukan, mereka itu gajah diblangkoni (Jawa). Perintah Yesus adalah agar kita tidak seperti mereka, agar tidak bersikap munafik. Kemunafikan adalah sebuah dosa, karena sikap yang mengatasnamakan Allah guna mencari kepuasan diri dan mengorbankan sesama. 

Kemunafikan ditolak oleh Allah, karena memang mencelakan sesama manusia, orang-orang yang dikasihiNya. Menolak  sesama itu berarti menolak Allah, karena manusia adalah milik Allah. 'Sebab segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku' (Mat 25: 45); bukan saja kepada sesama, ketidakhormatan kita terhadap tempat-tempat suci dipandang juga sebagai perlawanan terhadap Dia yang hadir di dalamnya. 'Hai anak manusia, inilah tempat takhta-Ku dan inilah tempat tapak kaki-Ku; di sinilah Aku akan diam di tengah-tengah orang Israel untuk selama-lamanya dan kaum Israel tidak lagi akan menajiskan nama-Ku yang kudus', sebagaimana difirmankan Tuhan Allah sendiri melalui nabi Yehezkiel dalam bacaan pertama tadi.


'Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

'Allah menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah' (Luk 1: 52). Hal sama telah disampaikan Allah melalui Maria, sang penerima kabar sukacita. Allah tidak menghendaki orang yang mencari kepuasan dan kepentingan diri. Karena itu, 'janganlah kamu disebut rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias'. Yesus tidak hanya mengajarkan, seperti orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, melainkan melakukannya, sebab Dia adalah 'Anak Manusia yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani,dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang' (Mat 20: 28). Keagungan dan kehormatan seseorang sebenarnya harus diterima, bukan karena penghargaan, gelar atau warisan leluhur, walau itu jabatan religius-spiritual, melainkan karena pelayanan; yang memang tidak dapat disangkal, bagi mereka yang telah menerima kehormatan itu, semua itu adalah kesempatan dan peluang untuk mengabdi Allah dan sesama. 'Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu'.

Spiritualitas pelayanan ini kiranya sulit dijalani oleh saudara-saudari kita yang turun dalam bidang pemerintahan, mereka yang berkecimpung dalam dunia politis. Karena tak jarang, mereka mendapatkan kedudukan terhormat, bukan berkat pelayanan mereka, melainkan mereka telah membelinya dengan harga yang relatif mahal. Ongkos politis yang disandangnya amatlah mahal. Tak jarang pulang, jabatan yang mereka emban adalah kesempatan untuk mendapatkan kembali biaya yang telah mereka keluarkan; bila tidak memungkinkan terjadi pengembalian secara alami, maka jabatan politis adalah kesempatan untuk melakukan korupsi besar-besaran. Kiranya Gereja perlu mengusulkan kepada para anggotanya untuk menampilkan spiritualitas politik, dan bukan sebatas spiritualitas pelayanan.




Oratio:

Ya Tuhan Yesus, tanamkanlah dalam diri kami jiwa-jiwa pelayan, sebagaimana spiritualitas hidupMu sendiri, yang datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani, agar semakin terwujudlah GerejaMu yang membawa damai dan sukacita bagi dunia.

Kuasailah dengan terang Roh kudusMu, saudara-saudari kami yang turun dalam bidang politik, agar mereka mengemban tugas dan panggilannya itu sebagai kesempatan untuk mengabdiMu yang hadir dalam diri masyarakat. Tak lupa limpahkanlah kepada mereka ini rejekiMu, agar mereka tidak mudah jatuh dalam korupsi yang merusak bangsa yang berbudaya. Amin.



Contemplatio:

'Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan'.








Oremus Inter Nos, 
Marilah kita saling mendoakan






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening