Selasa Pekan Biasa XX, 21 Agustus 2012


Yeh 28: 1-10 +  Mzm +  Mat 19: 23-30




Lectio:

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." Ketika murid-murid mendengar itu, sangat gemparlah mereka dan berkata: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?"  Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin."

Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?" Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu."




Meditatio:

"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." 

Penyataan Yesus ini menanggapi orang muda kaya, yang kita renungkan kemarin, yang memang berkeinginan untuk mendapatkan hidup kekal, tetapi tidak mau kehilangan harta benda yang dimilikinya. Juallah harta bendamu, maka kamu akan beroleh harta di surga. Sekali lagi, dia ingin mendapatkan yang teridah dalam hidupnya, tetapi dia tidak mau kehilangan harta yang sudah dimilikinya. Bukan kekayaan orang muda itu, yang menjadi sorotan Yesus, melainkan sikap kelekatannya pada harta benda yang dimilikinya, yang menghalang-halangi dia untuk mendapatkan sesuatu yang indah dan mulia.

         Orang sesuci dan sekudus itu, yang memang mampu melakukan perbuatan-perbuatan baik, masih belum juga diperkenankan menikmati hidup kekal. Sekali lagi, 'jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?', seru para murid mendengar penyataan Yesus itu. Orang muda kaya itu memang telah melakukan segala yang baik dan benar, bukan karena mengikuti kehendak Tuhan Allah, melainkan karena dia mempunyai kekayaan yang mendukung karya dan perbuatan baiknya itu. Namun keselamatan terjadi, bukanlah karena kebaikan dan jasa-jasa kita, melainkan karena kehendak Tuhan Allah sendiri. Lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah, memang sulit kita mengerti; demikian juga mereka yang telah mampu berbuat baik, tetapi tidak diperkenankan menikmati hidup kekal. Semuanya itu 'bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin', tegas Yesus kepada mereka semua.


'Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?'.

Itulah permintaan Petrus yang diajukan kepada Yesus sang Guru. Apakah ini sungguh-sungguh tuntutan Petrus kepada Yesus?. 'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya', yakni kelak pada kedatanganNya yang kedua kalinya, 'kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel'. Keduabelas muridNya mendapatkan kedudukan dan tugas yang istimewa: menghakimi kedua belas suku Israel, yang sekarang ini telah berkembang menjadi seratus empat puluh empat bangsa-bangsa di dunia. 'Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.  Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga' (Mat 16: 18-19), ternyata diberikan juga kepada setiap muridNya, yang harus menghakimi keduabelas suku Israel. '

'Dan setiap orang', tambah Yesus, 'yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal'. Suatu janji yang sungguh-sungguh membahagiakan: mendapatkan ganjaran seribu kali lipat segala yang kita tinggalkan; meninggalkan segalanya tetapi mendapatkan segala-galanya, dan bahkan mendapatkan hidup kekal.

Apakah janji ini yang dihayati oleh kaum biarawan-biarawati dengannya ketiga kaul suci mereka? Dan apakah hanya mereka yang akan mendapatkan ganjaran seribu kali lipat itu? Bukan hanya mereka yang akan mendapatkannya, kita semua diberi kesempatan untuk mendapatkannya. Namun kiranya, sebagaimana yang dihayati oleh kaum religius, hendaknya kita pun tidak berhenti dan tenggelam pada anugerah-anugerah yang dijanjikan itu, melainkan hendaknya kita menaruh harapan pada apa yang dikehendaki oleh Tuhan sendiri. Hendaknya kita tidak berhenti pada aliran-aliran sungai yang berlika-liku dengan indahnya, melainkan hendaknya kita berani mencari sumber air yang tidak akan berhenti meluap. Hendaknya kita tidak berhenti memandang dunia dari dataran rendah, melainkan hendaknya kita berani mendaki gunung untuk mencapai puncaknya, karena dari puncak gunung kita dapat memandang dunia dengan indahnya. Hanya dalam Kristus, puncak gunung kehidupan, kita dapat memandang segala sesuatu baik adanya.

Yesus Kristus Tuhan yang memang harus kita cari, dan bukan sekedar anugerah-anugerahNya, sebab bila kita berhenti pada anugerah-anugerahNya kita akan menyesal di hari kemudian, sebagaimana dialami oleh orang muda kaya itu itu. Bukanlah keselamatan yang akan dinikmati oleh orang muda itu, melainkan kebinasaan, karena memang dia sendiri tidak menjawabnya kebutuhan hati dan budinya; dan hal itu jugalah yang dikatakan Tuhan melalui nabi Yehezkiel dalam bacaan pertama tadi. Kemapanan telah membuat mereka sombong dan lupa diri, dan membuat mereka menjerumuskan diri kepada kebinasaan.  'Banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu', dan itulah yang dirasakan oleh orang muda tadi, yang memang hanya mengandalkan kekuatan dan kekayaan diri dalam melakukan kebaikan, dan bukan karena kehendakNya.




Oratio:

Ya Tuhan Yesus, ajarilah kami untuk selalu berani memilih yang terindah dalam hidup ini, bahkan ajaklah kami untuk berani meninggalkan segala sesuatu yang menghalangi kami mendapatkan keselamatan dari padaMu. Semoga segala kurnia yang kami terima daripadaMu, terlebih kekayaan dan kepandaian, membuat kami semakin berani menundukkan diri kepadaMu.

Santo Pius, doakan lah kami, agar kami boleh menikmati harta di surga. Amin.



Contemplatio 

'Setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal'.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening