Selasa Pekan Biasa XXI, 28 Agustus 2012


2Tes 2: 1-3  +  Mzm 96  +  Mat 23: 23-26




Lectio:

Suatu hari bersabdalah Yesus: 'celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih'.




Meditatio:

Pada hari Sabtu lalu, para murid dan kita semua diajak mentaati segala yang diajarkan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, karena memang mereka telah menduduki kursi Musa, tetapi tidak perlu mengikuti apa yang mereka lakukan, karena memang mereka adalah orang-orang munafik. Hari ini Yesus mengecam mereka habis-habisan. 

'Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, 

'sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan'.

Kewajiban membayar persembahan dan pajak, mereka taati dengan tepat waktu, tetapi perilaku kasih terhadap sesama mereka abaikan. Mereka ini kaum elit, mereka adalah orang-orang yang menduduki kursi Musa, tetapi hidupnya jauh dari standar hukum kasih, jauh di bawah kemampuan yang dimiliki seorang muda yang kaya itu (Mat 19: 16-26). Sebab memang lebih mudah memberikan sedekah atau pun sumbangan, yang memang hanya sebagian dari harta yang kita miliki, daripada berbagi kasih kepada sesama, yang memang memerlukan sikap hati. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Yang sebenarnya, semuanya itu menunjukkan bahwa hukum manusia lebih menjadi perhatian banyak orang, daripada hukum Tuhan sendiri, yang mendatangkan keselamatan. Pilihan mereka ini mendapatkan kecaman dari Yesus, karena memang apa yang mereka lakukan ini tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, yakni mereka itu 'bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia' (Mat 16: 23).




'sebab nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan, demikian juga cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih'.

Inilah kemunafikan yang mereka lakukan. Mereka begitu keras melawan aneka hal kecil yang sering mengganggu dan tampak hidup bersama, mereka menolak dan melawannya, tetapi di balik semuanya itu mereka menyembunyikan dan menenggelamkan diri dalam dosa yang besar. Mereka membiarkan diri seperti itu, karena mereka mendapatkan kepuasan, dan apa yang mereka lakukan tidaklah diketahui banyak orang. Inilah kemunafikan orang-orang Farisi dan para ahli Taurat.  Kemunafikan akan hilang, bila memang mereka berani membersihkan dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.



Kemunafikan memang begitu mudah menyelimuti diri setiap orang. Bukankah dunia ini panggung sadiwara? Apakah seluruh hidup kita dikuasai seluruhnya oleh kemunafikan? Tidak! Kiranya saya harus bertindak bijak di hadapan banyak orang, walau saya baru saja bertengkar dengan anggota keluarga atau komunitas; bukankah kita tidak boleh mengumbar segala pengalaman hidup kita, yang kita rasakan dan kita nikmati dalam keluarga atau komunitas itu kepada setiap orang yang kita jumpai. Privacy keluarga/komunitas hanyalah milik kami, dan hanya kami yang tahu dan rasakan, dan bukan menjadi konsumsi umum. Ini bukan kemunafikan, melainkan keutamaan. Kemunafikan adalah segala tindakan palsu yang membawa kita kepada kebinasaan.


Hidup tidaklah dikuasai oleh kemunafikan, masih banyak hal indah yang ditampakkan dalam diri setiap orang. Allah membuat segala-galanya baik adanya. Kita orang hidup baik adanya, terlebih bila kita dengan setia berkomunikasi dengan sang Empunya kehidupan itu sendiri. Benarlah yang dikatakan Paulus dalam bacaan pertama tadi: 'kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudari, yang dikasihi Tuhan, sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai dan boleh memperoleh kemuliaan Yesus Kristus, Tuhan kita.  Ia, Tuhan kita Yesus Kristus, dan Allah, Bapa kita, yang dalam kasih karunia-Nya telah mengasihi kita dan yang telah menganugerahkan penghiburan abadi dan pengharapan baik kepada kita, kiranya menghibur dan menguatkan hatimu dalam pekerjaan dan perkataan yang baik'. Sangatlah tepat sikap Paulus ini menjadi spiritualitas hidup kita dalam hidup bersama. Kasih Kristus hendaknya kita rasakan dalam setiap peristiwa hidup kita.




Oratio:

Ya Tuhan Yesus Kristus, tak jarang kami bertindak munafik, kami hanya mencari kepuasan diri. Ampunilah dosa kami ya Yesus, dan ajaklah kami bertindak benar, baik kata-kata ataupun perbuatan kami, sehingga hidup kami pun semakin dewasa.

Santo Agustinus, doakanlah kami agar kami mau melihat keindahan hidup sesama kami, sehingga kami puan semakin terbawa untuk berani memuji dan mendekatkan diri kami hanya kepadaMu. Amin.




Contemplatio:

'Perhatikanlah keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan'.








Oremus Inter Nos, 
Marilah kita saling mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening