Senin Pekan Biasa XIX, 13 Agustus 2012

Yeh 1:24 – 2:1  +  Mzm 148  +  Mat 17: 22-27

 

 

 

Lectio

 

Suatu hari Yesus dan murid-murid-Nya bersama-sama di Galilea, Ia berkata kepada mereka: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan." Maka hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali.

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum datanglah pemungut bea Bait Allah kepada Petrus dan berkata: "Apakah gurumu tidak membayar bea dua dirham itu?" Jawabnya: "Memang membayar." Dan ketika Petrus masuk rumah, Yesus mendahuluinya dengan pertanyaan: "Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea dan pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?" Jawab Petrus: "Dari orang asing!" Maka kata Yesus kepadanya: "Jadi bebaslah rakyatnya. Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga."

 

 

Meditatio:

'Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan'.

Inilah pemberitahuan kembali oleh Yesus tentang apa yang  terjadi pada diriNya, sang Guru, Orang Nazaret ini. Mendengar hal itu, semua berdiam diri, tidak ada yang berkomentar. Petrus pun tidak banyak bicara (Mat 16: 22), seperti pemberitahuan untuk pertama kalinya; apakah dia sudah sungguh-sungguh yakin bahwa memang semuanya itu akan menimpa Gurunya, kita tidak mengetahuinya; apakah dia siap sedia menerima kenyataan itu? Semua diam. 'Hati murid-murid-Nya itu  sedih sekali'. Mereka bersedih, tentunya berkenaan dengan derita yang akan dialami oleh sang Guru, demikian juga dengan kematian yang akan dialamiNya. Mereka berhenti sampai di situ. Mereka sepertinya tidak merenungkan sedikitpun makna kebangkitan yang akan dialami oleh Yesus Kristus. Memang orang mudah berhenti dan tenggelam pada hal-hal yang sulit dan pedih, tidak mau melihat masa depannya. Habis gelap terbitlah terang.

Yesus yang sudah tahu benar akan jalan hidupNya, terlebih dengan perlawanan yang akan dialamiNya, tetap menghormati segala kewajiban yang harus diselesaikan. 'Bayarlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga', pinta Yesus kepada Simon yang diminta mengambil mata uang empat dirham dari  dalam mulut ikan yang akan dipancingnya di danau. Bila jalan salib yang hendak dilaluiNya, seharusnya tidak menjadi persoalan lagi bagi diriNya untuk membayar pajak. Bukankah pajak itu urusan orang-orang di luar diriNya, bukankah pajak tidak akan mengubah jalan hidup yang hendak dilaluiNya? Yesus, yang mengatasi kehidupan ini, 'datang tidak minta untuk dilayani, melainkan untuk melayani', semua kewajiban sebagai anggota masyarakat dipenuhinya dengan penuh tanggungjawab, agar 'jangan menjadi batu sandungan bagi banyak orang', tegas Yesus.

Segala kuasa yang dimilikiNya tidak membuat Yesus meminta pengakuan dari para murid dan semua orang yang dilayaniNya. Yesus tidak meminta mereka semua mengakui diriNya, minimal segala kehebatan yang dimiliNya. Malahan dalam keseharian hidup, setiap orang diminta untuk semakin hari semakin mengenal sendiri siapakah diriNya, dan bukan berdasar pemberitahuan orang lain. Mereka diminta untuk mengakui sendiri segala 'apa yang mereka dengar dan mereka lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik' (Mat 11: 4-5). 'Yesus pun melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun bahwa Ia Mesias' (Mat 16: 20). Yesus meminta agar banyak orang merasakan sendiri kehadiranNya.

Kiranya sikap Yesus ini menjadi sikap kita semua, para muridNya, orang-orang yang percaya kepadaNya, yakni agar kita semakin berani merendahkan diri dalam pergaulan dengan sesama. Pertama, kemampuan kita untuk mengejar hidup rohani dalam pelbagai bentuk komunitas, bukanlah suatu jasa dan kehebatan kita, melainkan kewajiban yang harus kita penuhi. Kedua, segala kasih karunia Allah yang kita terima, hendaknya memberi kekuatan dan semangat kepada kita, untuk semakin mengabdi sesama dalam menghidupi Gereja. Kita tidak perlu menyebut diri, tetapi biarlah mereka semua melihat segala perbuatan baik yang dapat kita lakukan, dan memuji Bapa di surga (lih. Mat 5: 16).

Interupsi: kewajiban memberikan iuran untuk kepentingn operasional bait Allah adalah wajar bagi setiap orang yang memakainya, dan itu pun dilakukan Yesus; demikian kita seharusnya. Pemahaman bahwa raja-raja dunia ini memungut bea dan pajak dari orang asing, dan bukan dari rakyatnya, sebagaimana dikatakan dalam Injil tadi,  kiranya hendaknya menjadi bahan pembelajaran kita bersama.

 

 

 

Oratio :

 

Yesus Kristus, Engkau kembali mengingatkan kami akan jalan salib kehidupan yang harus Engkau lalui. Jalan menuju kemuliaan kekal. Semoga kami pun siap sedia mengikuti jalan salibMu dalam kehidupan kami sehari-hari. Buatlah kami selalu berasa sukacita dan damai dalam memanggul salib kehidupan kami. Amin.

 

 

Contemplatio :

'Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan'.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening