Senin Pekan Biasa XX, 20 Agustus 2012



Yeh 24: 14-24  +  Mzm  +  Mat 19: 16-22

 

 

 

 

Lectio

 

Suatu hari ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: "Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus: "Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah." Kata orang itu kepada-Nya: "Perintah yang mana?" Kata Yesus: "Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."

Kata orang muda itu kepada-Nya: "Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?" Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.

 

 

Meditatio:

'Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?'.

Pertanyaan orang muda ini langsung disampaikan kepada Yesus. 'Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik', jawab Yesus. Apa yang baik itu? Apakah yang dimaksudkan hanya Satu yang baik itu adalah Allah sendiri, sebagaimana dikatakan penulis sinoptik lainnya? Tentunya, tidak lain dan tidak bukan, perbuatan yang baik itu adalah melakukan kehendak Bapa di surga, sebab memang 'bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga' (Mat 7: 21). Kehendak Tuhan Bapa di surga yang menyelamatkan kita, dan bukan kebaikan dan jasa-jasa kita. Kehendak Tuhan itu antara lain adalah 'jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayah dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri'. Inilah kehendak Allah Bapa yang menyelamatkan

Orang muda ini berani mempersoalkan perbuatan baik  yang disebutkan mampu menghantar dia untuk menikmati kehidupa kekal. Dia mempersoalkan, karena memang dia ternyata orang yang hebat. Orang muda ini adalah orang yang hebat dan suci, karena yang dikehendaki Yesus bukanlah hal baru bagi dirinya. 'Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?'.  Dalam arti tertentu dia malahan menantang Yesus, apa lagi yang masih kurang?'.  Apakah Yesus tidak mengetahui kemampuan orang muda ini, sehingga dia memberi tawaran yang berada jauh di bawah kemampuannya? Atau malahan Yesus sengaja hendak memberi semangat bahwa memang dia sudah mendekati layak untuk menikmati hidup kekal; sebab 'jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku'.

Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya. Kehebatan anak muda ini sepertinya ditopang kuat oleh harta benda yang dimilikinya. Hidupnya mapan dan sejahtera oleh harta benda yang dimilikinya, sehingga dia mampu melakukan segala kebaikan. Untuk apa lagi dia membunuh, berzinah,mencuri, mengucapkan saksi dusta terhadap orang lain, karena memang dia malahan merasa dibutuhkan orang lain, orang-orang sekitarnya kemungkinan besar menghormati dirinya; dia pun malahan mampu keluar dari dirinya dengan menghormati ayah-ibunya dan mengasihi sesamanya.

Dia mampu segala kebaikan, bukan karena menjalankan kehendak Tuhan Bapa di surga, melainkan karena harta benda yang dimilikinya. Harta benda yang dimiliki memampukan dia berbuat segala yang baik dan benar. Maka ketika diminta oleh Yesus untuk menjual segala milik  dan memberikannya kepada orang-orang miskin tak berdayalah dia. Malahan terang-terangan dia tidak mau mengganti harta bendanya itu dengan harta di sorga.  Dia menolak apa yang dicarinya sendiri. Dia memang tidak seteguh Yehezkiel sebagaimana diceritakan dalam bacaan pertama tadi. '-Hai anak manusia, lihat, Aku hendak mengambil dari padamu dia yang sangat kaucintai seperti yang kena tulah, tetapi janganlah meratap ataupun menangis dan janganlah mengeluarkan air mata-. Paginya aku berbicara kepada bangsa itu dan pada malamnya isteriku mati. Pada pagi berikutnya aku melakukan seperti diperintahkan kepadaku'. Yehezkiel tidak gentar seorang yang dikasihi, diambil Tuhan.

Bukan kemampuan seorang untuk melakukan kebaikan,  bukan pula  mereka yang mampu berteriak Tuhan, Tuhan, bukan juga yang bisa bernubuat demi namaNya, dan mengusir setan demi namaNya, dan mengadakan banyak mujizat demi namaNya (lih Mat 7: 22), yang menentukan seseorang beroleh selamat, melainkan karena kehendak Tuhan sendiri.

 

 

 

Oratio :

 

Tuhan Yesus, ingatkanlah kami selalu, bahwa segala yang baik dan indah, Engkau berikan kepada kami, hanya untuk meneguhkan diri kami untuk selalu mampu berbuat baik kepada sesama. Namun ajarilah kami, ya Yesus, agar kami berani bersikap seperti Ayub yang berani berkata: Tuhan yang memberi dan Tuhan yang mengambil, terpujilah Dia selama-lamnya.

Yesus, tambahkanlah iman kami kepadaMu. Amin.

Santo Bernardus doakanlah kami selalu, amin.

 

 

Contemplatio :

'Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?'.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening