Senin Pekan Biasa XXI, 27 Agustus 2012

2Tes 1: 1-5.11-12 + Mzm 96 + Luk 7: 11-17




Lectio:

Suatu hari Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: "Jangan menangis!" Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: "Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!" Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya.

Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: "Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita," dan "Allah telah melawat umat-Nya." Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya.




Meditatio:

"Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!"

Kata-kata inilah yang diucapkan oleh Yesus, ketika melihat usungan jenazah anak muda yang didampingi ibunya, sanak kerabat dan tetangga-tetangganya. Tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan terhadap ibunya yang sudah janda, Yesus menghampiri jenazah dan kemudian membangkitkannya. Dia berkuasa atas hidup dan mati umatNya (Rom 14: 9). Ketidakberdayaan seseorang mengundang belas kasih Allah.

Peristiwa itu tentunya mengagetkan banyak orang. Mereka semua kagum dan takut terhadapNya; dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: 'seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita, dan Allah telah melawat umat-Nya'. Bagaimana mungkin mereka tidak bangga dan mengagungkan-agungkan Tuhan, karena selama ini mereka tidak pernah melihat dengan mata kepala sendiri peristiwa kebangkitan. Allah telah melawat umat-Nya, karena memang hanya Allah yang mampu memberi kehidupan. Mereka semua berhadapan dengan Allah yang menyatakan diri di tengah-tengah umatNya. Mereka melihat langsung Allah yang tampak kasad mata dalam diri Yesus sang Guru.



Kiranya kita pun harus semakin kagum dan bangga terhadap sang Guru kehidupan ini. Setiap kali mendengarkan sabdaNya, hendaknya semakin tumbuhlah iman kepercayaan kita kepadaNya. Iman membuat hidup semakin bergairah.

Kedua, Yesus menyatakan siapakah diriNya, bukan dengan kata-kata, melainkan dengan karya dan tindakan. Dia tidak mencari pengakuan diri, malahan berkat karya pelayananNya, dikatakan tadi, semua orang memuliakan Allah. Benarlah apa yang pernah dikatakanNya sendiri: 'hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga' (Mat 5: 16). Demikian kiranya, segala karya pelayanan hendaknya kita maksudkan hanya untuk kemuliaan Allah, dan segala perbuatan kita itu, hendaknya mampu membawa sesama kita untuk semakin mengenal Allah.

Ketiga, kemauan baik kita ini dapat segera terwujud, bila memang kita juga terbiasa bersyukur atas segala kebaikan Tuhan yang dilimpahkan kepada sesama kita. Kita bersyukur karena Tuhan Allah selalu memperhatikan umatNya. 'Kami wajib selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudariku; karena imanmu makin bertambah dan kasihmu seorang akan yang lain makin kuat di antara kamu. Kami senantiasa berdoa juga untuk kamu, supaya Allah kita menganggap kamu layak bagi panggilan-Nya dan dengan kekuatan-Nya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu, sehingga nama Yesus, Tuhan kita, dimuliakan di dalam kamu dan kamu di dalam Dia, menurut kasih karunia Allah kita dan Tuhan Yesus Kristus'. Kiranya ucapan syukur dan pujian Santo Paulus terhadap umat Tesalonika, juga menjadi ucapan hati kita.




Oratio:

Ya Tuhan Yesus, kami bersyukur kepadaMu atas kasihMu yang Engkau limpahkan kepada umatMu. Engkau bertindak demikian, karena memang Engkau mempunyai hati yang penuh belaskasih. Semoga hati kami pun seperti hatiMu, ya Tuhan.

Bantulah kami selalu, agar kami mampu membawa sesama kami semakin mengenal Engkau, karena kasih karunia yang telah Engkau limpahkan kepada kami.

Santa Monika, engkau adalah seorang ibu yang setia dalam memperkenalkan Tuhan Allah kepada Agustinus, puteramu. Semoga engkau menjadi teladan bagi kaum ibu kami dalam mendampingi dan menghantar keluarga. Amin.



Contemplatio:

'Allah telah melawat umat-Nya'.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening