Jumat Pekan Biasa XXII, 7 September 2012



1Kor 4: 1-5  +  Mzm 37  +  Luk 5: 33-39

 

 

 

 

Lectio:

 

Pada suatu kali orang-orang Farisi itu berkata pula kepada Yesus: "Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum." Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa."

Ia mengatakan juga suatu perumpamaan kepada mereka: "Tidak seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu.

Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula. Dan tidak seorang pun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik."

 

 

Meditatio:

 

'Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum'.

Itulah persoalan yang diungkapkan orang-orang Farisi kepada Yesus. Sepertinya pada waktu itu banyak orang berpuasa, sedangkan murid-muridNya tidak. Inilah protes mereka kepada Yesus. Sahut Yesus: 'dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa'. Para murid Yesus sekarang ini tidak berpuasa, karena memang mereka sedang berhadapan dengan sang mempelai.

Bila demikian, siapakah mempelai laki-laki? Dialah Yesus Kristus, sang Guru. Ada bersama Yesus, seseorang tidak perlu berpuasa, seseorang tidak perlu mengendalikan diri.  Ada bersama Yesus berarti ada dalam kendali Yesus sendiri, Yesus sendiri yang mengatur dan memimpin. Berpuasa itu bukanlah soal waktu, bukan pula sebatas makanan dan minuman, tetapi soal pengendalian diri dari pelbagai tantangan dari luar. Bila kita membiarkan diri dipimpin dan dikuasai oleh Kristus Tuhan, otomatis kita akan selalu mengarahkan diri hanya kepadaNya dan mengambil segala sesuatu yang sesuai dengan kehendak Dia yang memimpin kita.

'Akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa'. Penyataan ini bisa dimengerti, pertama,  bahwa tidak bersama Yesus, seseorang yang harus memimpin dirinya sendiri, bukan untuk kepuasan diri, melainkan tetap mempersembahkan seluruh hidupnya hanya kepada Tuhan. Cita-cita menikmati keselamatan abadi  tetap mengarahkan seseorang dalam pengendalian diri, dalam berpuasa.

Kedua, pada waktu Yesus mulai ditangkap para murid meninggalkan sang Guru, dan bukannya sang Guru yang meninggalkan mereka; tetapi tak dapat disangkal, mereka hanya berani mengamati Yesus dari jauh, mereka tidak ada bersama Yesus. Inilah saat-saat pengendalian diri para murid: apakah mereka terus mengikuti sang Guru, yang ternyata membiarkan diri ditangkap dan didera oleh tua-tua bangsa, 'imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat', apakah mereka tetap setia kepada Guru 'yang akan dibunuh, tetapi akan dibangkitkan pada hari ketiga?' (Mat 16: 21). Berpuasa berarti tetap setia mengikuti Yesus, yang ditinggikan di kayu salib guna menarik semua ada bersamaNya (bdk.Yoh 12: 32). Berpuasa itu ada dalam relasi dengan Salib.

Berpuasa menurut Yesus bukan soal waktu. 'Tidak seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu. Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itu pun hancur, tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula'.

Yesus meminta kepada para muridNya, agar tetap berpuasa, tetapi di saat sang Mempelai tidak ada bersama mereka, karena memang mereka harus tetap mengendalikan diri. Para murid Yohanes dan orang-orang Farisi seringkali mempraktekkan puasa hanya sebatas usaha yang dapat mempercepat seseorang mendapatkan kesalehan. Semakin sering berpuasa semakin cepatlah kesalehan itu dinikmatinya. Ulah tapa ini patut dihormati dan dihargai. Namun tak dapat disangkal pula, kehendak Dia yang hidup haruslah mendapatkan tempat yang pertama dan utama dalam hidup, dan bukannya segala pekerjaan dan tindakan yang dapat kita lakukuan. 'Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, bukankah pula yang bernubuat, mengusir setan, dan mengadakan banyak mujizat, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga' (Mat 7: 21-22).

Berpuasa yang dikehendaki Yesus adala cara hidup baru. Ini hidup baru seturut kehendak Allah, dan bukannya sekedar tradisi keagamaan yang diturunkan. Yesus pun sadar bahwa kehendakNya ini keras (Yoh 6: 60); dan Yesus pun tahu bahwa 'tidak seorang pun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: anggur yang tua itu baik'. Berubah berarti mengurangi kenyamanan diri, bahkan meniadakan. Inilah yang sering tidak kita lakukan.

 

 

 

Oratio:

 

Yesus, kami ingin sekali ada bersamaMu, tetapi tak jarang kesibukan diri membuat kami lupa akan Engkau. Bantulah kami, ya Yesus, dengan rahmat kasihMu, agar kami mampu tetap mengendalikan diri kami hanya kepadaMu, bahkan mampu merasakan kehadiranMu dalam setiap peristiwa hidup kami.

Yesus, pimpinlah hidup kami selalu. Amin.

 

 

 

Contemplatio:

 

'Akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa'.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening