Kamis Pekan Biasa XXII, 6 September 2012



1Kor 3: 18-23  +  Mzm 33  +  Luk 5: 1-11

 

 

 

 

Lectio:

 

Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.

Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.

Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa." Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: "Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia." Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.

 

 

 

Meditatio:

 

'Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus'.

Penyataan Yesus, yang kita renungkan kemarin, hari ini dilakukanNya di pantai danau Genesaret. Orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah;  Yesus duduk di sebuah perahu milik Simon dan mengajar mereka dari atas perahu, setelah ditolakkannya perahu itu sedikit jauh dari pantai. Dia memperdengarkan kabar sukacita, dan bukannya mengadakan aneka mukjizat.

'Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan'.

Inilah permintaan Yesus kepada Simon. Simon, yang merasa diri lebih tahu daripada Gurunya dalam soal menangkap ikan, merasa heran akan permintaan itu, tetapi dia taat juga kepadaNya. Simon tidak memegahkan diri, sebagaimana dikatakan dalam bacaan pertama tadi. Dia sadar sungguh Orang yang ada di depannya itu. Katanya: 'Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga'. Ketaatan itu memang berat dan sering tidak memberi kepuasan diri, tetapi begitu indah bagi mereka semua, yang mampu menempatkan diri. Simon tahu benar kepada Siapa dia menyerahkan kepercayaannya itu, dan dia melakukannya.

Bersama-sama, mereka melakukannya, dan lihatlah, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya; dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Simon Petrus memang lebih pandai dalam soal menjaring ikan, tetapi Yesus lebih berkuasa menangkap ikan, karena memang Dialah sang Empunya seluruh ciptaan ini.

Menikmati segala yang baik dan indah, yang luhur dan mulia, Simon Petrus tak mampu berkata apa-apa. Dia semakin menyadari dan merasa sungguh bahwa sang Gurunya ini lebih hebat daripada dirinya. Melihat dan mengalami yang mentakjubkan ini, tersungkurlah Simon di depan Yesus dan berkata: 'Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa'. Sebab ia, dan semua orang yang bersama-sama dengannya, takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Petrus menyadari sungguh ketidakberdayaannya dalam hidup, dia merunduk dan merunduk di hadapan sang Guru. Petrus tidak berani mengatakan: Guru, jadilah Penjala ikan bersama kami, aku akan mencari satu perahu lagi yang lebih besar, agar kita dapat menangkap ikan yang lebih banyak lagi (bdk. Mat 17: 4). Semuanya itu tidak terlintas dalam benak Simon Petrus.

Sebaliknya, Yesus malahan mengajak Simon: 'jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia'. Yesus tetap menjadikan dia sebagai penjala yang baru, bukan lagi penjala ikan, melainkan penjala manusia yang mengajak banyak orang tinggal hidup bersama dengan Dia. Simon Petrus beserta murid-murid lainnya dilibatkan dalam program penyelamatan manusia. Tugas mereka adalah menjala, mengajak dan menarik semua orang untuk menikmati kasih karunia Allah yang termulia, yakni keselamatan, tinggal bersama sang Guru.

'Oyi Sam' (Malang, ya siap), mungkin hanya dua kata itu yang dikatakan oleh para murid kepada Yesus, atau malahan tanpa kata-kata; tetapi tak dapat disangkal, mereka semua mengamini permintaan Yesus. Sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus. Para murid, bukan saja sebagai pendengar sabda, melainkan pelaksana-pelaksana sabda. Ketakjuban mereka akan Yesus, yang mampu membuat segala-gala lebih baik dan indah, membuat mereka mengikutiNya dan tidak memperhitungkan segala yang dimilikinya. Mereka meninggalkan segalanya dan mengikuti Kristus, sang Empunya segala ciptaan. Benarlah juga yang dikatakan Paulus: 'kamu sekarang adalah milik Kristus', maka ikutilah Dia.

 

 

 

Oratio:

 

Yesus, kami semua adalah hasil tangkapan Simon Petrus beserta kawan-kawannya. Engkaupun kini mengundang kami untuk juga berani menjala sesama kami dalam menikmati keselamatan yang berasal daripadaMu. Bantulah kami agar kami setia dalam melaksanakan tugas-tugas panggilanMu di setiap pekerjaan kami.  Amin.

 

 

 

Contemplatio:

 

'Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan'.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening