Minggu dalam Pekan Biasa XXV, 23 September 2012



Keb 2: 12.17-20  +  Yak 3:16 - 4:3  +  Mrk 9: 30-37





Lectio:

Suatu hari Yesus dan murid-murid-Nya hendak melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang; sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit." Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya. 

Akhirnya tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?" Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka. Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya." Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka: Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku".




Meditatio:

"Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya."

Penyataan ini menanggapi persoalan yang dibicarakan para muridNya. Para murid mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka. Mereka mempersoalkannya, tetapi ketika ditanya Yesus, mereka semua berdiam diri. Mereka tidak jujur terhadap sang Guru. Gila sungguh mereka ini. Mereka ada bersama Yesus, tetapi tidak mau berterus terang. Ada bersama Yesus memang tidak mematikan akal budi dan kehendak bebas seorang pribadi; dan Yesus tidak bersikap paksa dan kasar terhadap mereka. Mereka mempersoalkan semua itu, walau Yesus baru saja mengungkapkan spiritualitas hidupNya. 'Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit'. Memang mereka tidak mengerti semuanya itu dan segan menanyakannya kepada-Nya, tetapi mereka juga tidak mempunyai hati dengan tetap meramaikan persoalan mereka sendiri. 

Apakah ada motivasi kuasa, sehingga mereka membicarakan hal itu, bila memang Guru mereka nanti telah tiada, tidak ada bersama mereka? Apakah selama ini mereka mampu bertindak penuh kuasa  seperti Yesus, sehingga mereka hendak berebut kuasa? Apakah Yesus pernah membicarakan soal pewarisan kuasa? Tidak pernah. Janggal memang, tetapi tidak dapat disangkal mereka ingin menjadi orang-orang terhormat, paling sedikit sebagai guru di antara mereka.

'Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu',  sebagaimana seorang gembala yang selalu berdiri di depan domba-dombanya, di mana mereka semua akan mengikuti gembalanya, 'hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya'. Yesus meminta agar sang gembala itu hendaknya tidak berdiri di depan dan melihat-lihat kawanan dombanya, melainkan bekerja keras melayani dan memperhatikan mereka. Dia menjadi gembala, karena bersama domba-dombanya. Keberadaan kawanan domba menjadi berkat bagi dia untuk menjadi seorang gembala.

Demikian kita dalam hidup bersama harus berani melayani dan melayani sesama. Hendaknya kita tidak menjadi tamu agung dan mulia dalam kebersamaan hidup, yang memang harus mendapatkan pelayanan dan penghormatan, melainkan menjadi tuan rumah yang baik, yang siap melayani semua orang yang datang dan bertamu ke rumah kita. Tuan rumah yang baik  membuat semua orang, yang datang ke rumahnya, merasa krasan dan betah, dan merasakan kedamaian dan sukacita dalam rumahnya. Seorang tuan rumah yang baik adalah 'pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik', sebagaimana dikatakan dalam bacaan kedua tadi. Malahan seorang tuan rumah yang baik hati tidak segan-segan harus berani melayani seorang anak kecil; yang memang kita tidak akan mendapatkan apa-apa, bila kita melayani dan menjaga mereka. Teriakan dan jeritan, omelan ketidakpuasan dan celoteh malahan akan sering kita dengar dan alami.

Barangsiapa menabur dengan bercucuran air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai (Mzm 126). Yesus mengajak kita untuk berani menerima kenyataan semacam itu, dengan menegaskan: 'barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku'. Karya pelayanan sejati adalah karya berbagi kasih, yang mendapatkan rahmat dan berita dari Tuhan sendiri, dan bukannya sebatas pujian dan tepuk tangan dari sesamanya. Sebab pelayanan sejati adalah perbuatan yang menghantar setiap orang memuji dan memuliakan Bapa di surga (Mat 5: 16).

Tentunya kita semua ingin menjadi tuan rumah yang baik, sebagaimana dikatakan Injil hari ini. Kiranya kita mohon rahmat kerendahan hati, agar dalam hidup bersama kita semakin siap sedia saling melayani, dan berani mendahulukan orang lain dalam hidup bersama, dalam keluarga ataupun komunitas. Bacaan kedua hari ini juga mengingatkan kita: 'kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat'. Janganlah hal itu terjadi di antara kita. Kejahatan dapat kita selesaikan hanya dengan berbagi kasih terhadap sesama.





Oratio:

Ya Tuhan Yesus, semoga kami mempunyai jiwa yang siap melayani, seperti Engkau yang datang bukan untuk dilayani, melainkan melayani. Semoga segala kemampuan, yang kami miliki, menjadi modal bagi kami untuk berbagi kasih kepada sesama; dan semoga kelapangan jiwa dalam menerima sesama semakin hari semakin Engkau perlebar, ya Yesus, karena Engkaulah harapan kami. Amin.




Contemplatio:

"Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya." 












Oremus Inter Nos, 
Marilah kita saling mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening