Rabu Biasa XXIII, 12 September 2012


1Kor 7: 25-31  +  Mzm 45  +  Luk 6: 20-26





Lectio:

Suatu hari Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa. Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi. 

Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu. Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis. Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu." 



Meditatio:

'Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. 
Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. 
Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa. 
Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat'. 


Inilah pernyataan Tuhan Yesus yang amat kontroversial. Sepertinya Yesus menyuruh orang berdiam diri dan merasakan kesusahan dan kepahitan hidup yang sedang dialaminya. Orang diajak bertahan dalam kemiskinan, karena kelak menjadi empunya Kerajaan Allah; bertahan dalam kelaparan,  karena akan dipuaskan; demikian juga yang kini menangis, karena akan tertawa; sabar dan bertahan bila dibenci dan dikucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.  

Yesus bukannya menyuruh merasakannya, melainkan Yesus sekedar mengingatkan kembali bahwa semuanya itu bisa terjadi, dan bahkan pasti terjadi dalam realitas kehidupan ini. Kita harus berani menghadapinya, dan tak perlu menghindarinya. Malahan Yesus mengingatkan akan adanya tambahan tantangan yang lebih berat lagi, karena pengenalan mereka akan diriNya; bukankah kehadiranNya menjadi perbantahan banyak orang (Luk 2: 34)? Yesus mengajak semua orang, agar berani menghadapinya, karena memang Dia berjanji dan akan memberikan yang terbaik bagi setiap orang yang telah memanggul salib kehidupan. Salib adalah realitas kehidupan. Orang yang tidak berani memanggul salib berarti dia tidak berani menghadapi kenyataan hidup. Sekali lagi, salib adalah realitas kehidupan, tetapi salib Kristus telah memberikan jaminan untuk menikmati makna kehidupan yang sebenarnya, dan mengarahkan setiap orang kepada hidup kekal.

Yesus memuji bahagia semua orang yang berani memanggul salib kehidupan ini, karena Dia hendak meneguhkan setiap orang untuk berani berjalan dalam padang gurun dan malam gelap kehidupan, dan terlebih untuk menikmati keselamatan dalam dalam diriNya. 'Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga;  bahkan jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat,  secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi'.



Sebaliknya,  'celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu. Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis. Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu'.

Kecaman Yesus ini, bukannya dimaksudkan bahwa Dia tidak menghendaki orang menikmati kekayaan dan merasa jengkel dengan mereka yang telah kenyang hidupnya, ataupun yang sekarang ini tertawa dan merasakan banyak pujian, melainkan Yesus mengingatkan agar mereka semua tidak terlena dan lupa daratan akan pengalaman yang indah itu. Setiap orang boleh menikmatinya, hanya saja tidak menenggelamkan diri di dalamnya. Semuanya tetap harus kita nikmati, sembari mengarahkan diri kepada Dia yang duduk d sebelah kanan Bapa, sebab hidup kita telah ada di dalam Dia (Kol 3: 1-3). Itulah yang juga diingatkan oleh Paulus dalam bacaan pertama tadi, bahwasanya semua yang sementara ini akan berakhir, karena itu hendaknya kita berani mengalahkan diri kepada Dia sang Empunya kehidupan. Semua akan berlalu, sabda kehendakNya tidak akan berlalu.




Oratio:

Ya Tuhan Yesus, Engkau mengingatkan realitas hidup kami yakni salib. Buatlah kami berani memanggul salib hidup kami. Ajarlah kami  semakin mengerti bahwa realitas yang pahit dan tidak menyenangkan seringkali malahan Engkau gunakan untuk merasakan kehadiranMu yang menyelamatkan.

Yesus, ajaklah kami untuk mengerti bahwa habis gelap itu terang. Amin.




Contemplatio:

'Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa'.

























Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening