Rabu dalam Pekan Biasa XXIV, 19 September 2012


1Kor 13: 1-13  +  Mzm 33  +  Luk 7: 31-35




Lectio:

Suatu hari berkatalah Yesus: "Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini dan dengan apakah mereka itu sama? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis. Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya." 




Meditatio:

Angkatan orang-orang, yang dihadapi Yesus pada waktu itu, tidak ada kesatuan hati satu dengan lainnya. Mereka mencari kesenangan dan kepuasan diri sendiri; sibuk dengan urusan masing-masing. Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis. Tidak ada kesepakatan dan pemahaman dalam hidup bersama. Seharusnya bila ada tiupan seruling harus ada yang menyanyi dan menari. Demikian juga, ada nyanyian duka tidak ada satu pun di antara mereka yang berduka dan meratap. Semuanya mencari kepuasan diri sendiri. Bisa saja semua itu terjadi juga dalam keluarga atau pun dalam komunitas di mana kita berada. Masing-masing anggota mencari kepentingan diri sendiri, dan merasa dirinya paling benar. Ketidakpuasan yang diterimanya akan membuat seseorang melarikan diri dari tengah-tengah keluarga atau komunitas, dan mencari pelampiasan diri di luar, yang mengagumi dan membangga-banggakan dirinya. Orang yang demikian pun tidak segan-segan mempersalahkan keluarga dan komunitas, yang dianggapnya tidak mau mendengarkan dan menerima dirinya.

Tinggal dan ada bersama di dalam keluarga atau komunitas adalah hidup nyata menjadi sesama bagi orang lain.

Orang-orang, yang mencari kepentingan diri sendiri, akan melihat dan memandang orang lain dalam gambaran yang dimilikinya. Semua orang yang ada di sekitar saya memakai baju berwarna merah, karena memang saya memakai kacamata merah. Saya tidak sempat melihat orang yang memakai baju warna lain. Aneh bagi diri saya. Mengapa mereka semua memakai warna yang sama? Bodoh dan tidak kreatifkah mereka semua ini? Saya marah dan jengkel kepada mereka semua. Itulah yang sering terjadi pada diri saya.

Yohanes Pembaptis tidak makan roti dan tidak minum anggur. Ia kerasukan setan. Anak Manusia datang, makan dan minum. Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Inilah kesimpulan orang terhadap kehadiran Yohanes Pembaptis dan Yesus al Masih. Mereka melihat dan memandang kedua tokoh besar ini dalam gambaran yang mereka miliki. Keagungan Tuhan Allah yang mulia menjadi manusia, sama seperti kita; Dia yang makan dan minum, serta memasuki ruang dan waktu  insani dan taat pada gelombang waktu, tidak mereka mengerti.  Dia yang datang hanya untuk menyelamatkan seluruh umat manusia, bahkan merangkul mereka yang telah jatuh dalam dosa, sulit mereka mengerti dan mereka pahami. Dia bukan Sahabat kami, Dia itu termasuk kalangan pemungut bea dan pendosa, orang-orang terpinggir dan terbuang. Sulit dimengerti! Ketidakmengertian mereka bukannya membuat mereka merunduk di hadapanNya dan berkata-kata bersamaNya, malahan mereka mencaci dan mengata-ngataiNya. Tuhan Yesus menjadi sasaran amuk diri, dari orang-orang yang tidak mendapatkan kepuasan diri. Kehadiran Tuhan Yesus tidak sesuai dengan gambaran mereka; dan mereka berkata-kata seenaknya terhadap Dia, sang Empunya kehidupan.

Sebaliknya, 'hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya'. Kelemahan mereka  tidak menghalang-halangi kehendak Allah untuk menyelamatkan semua orang. Mereka tetap diundang dan diundang untuk ambil bagian di dalamnya. Bukankah kasih   'menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu',  sebagaimana dikatakan dalam bacaan pertama tadi. Allah tidak memperhitungkan kelemahan dan keterbatasan umatNya.

Kita bukanlah orang-orang yang termasuk angkatan yang dikecam Yesus tadi. Namun tak jarang kita memaksa Allah menuruti kemauan dan keinginan kita, dan bukannya kita yang mengikuti kehendakNya. Kita sering beranggapan: beriman itu berarti menjadikan Tuhan itu Penolong bagi kita, sewaktu-waktu kita tinggal berteriak dan berteriak memohon bantuanNya. Apa yang kita kehendaki, itulah layanan yang harus diberikan Tuhan kepada kita.




Oratio:

Ya Tuhan Yesus, kami sering bertindak semaunya sendiri terhadapMu. Kami mudah putus asa, bila tidak segera mendapatkan jawaban dan layananMu.

Terima kasih kepadaMu, ya Yesus, atas pemahamanMu terhadap diri kami. Semoga Engkau juga mencurahkan RohMu ke dalam diri kami, agar kami semakin berani belajar hidup daripadaMu. Amin.




Contemplatio:

'Hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya'.


















Oremus Inter Nos, 
Marilah kita saling mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening