Rabu Pekan Biasa XXII, 5 September 2012


1Kor 3: 1-9  +  Mzm 33  +  Luk 4: 38-44

 

 

 

Lectio:

 

Akhirnya Yesus meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itu pun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka.

Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: "Engkau adalah Anak Allah." Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias.

Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus." Dan Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea.

 

 

Meditatio:

 

'Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus'.

Entah berapa jumlah orang-orang yang mendapatkan mukjizat kesembuhan pada waktu Yesus mengunjungi rumah Simon, sebagaimana diceritakan Injil hari ini. Pertama, Yesus menyembuhkan ibu mertua Simon, yang demam keras; lalu para tetangga yang secara sengaja membawa kepada-Nya orang-orang sakit, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka.

Anehnya tidak ada satu pun di antara mereka yang disembuhkan itu memuji dan bersyukur kepadaNya. Malahan, tak dapat disangkal, hanya orang-orang yang dikuasai setan sebelumnya itu berteriak: 'Engkau adalah Anak Allah'. Mereka berteriak karena berhadapan dengan Penguasa kehidupan.  Apakah tidak adanya rasa syukur seperti ini, yang akan menimbulkan tidak adanya rasa  pertobatan? Apakah memang keharusan bagi Yesus untuk mengecam kota-kota yang tidak bertobat seperti ini, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat-mujizat-Nya? (Mat 11: 20). Keberanian seseorang untuk bersyukur kepada Tuhan sang Empunya kehidupan mengkondisikan orang itu merundukkan diri di hadapan Tuhan. Sebab  memang bersyukur kepada Tuhan menjadi indikasi bagi seseorang bahwa dirinya itu tidak berdaya dan hanya Tuhan telah melakukan karya besar dalam dirinya (lih Luk 1: 49). Ucapan syukur adalah awal sebuah pertobatan.

Yesus pun tidak menuntut pengakuan ataupun balaskasih dari orang-orang yang telah dilayaniNya. Sepertinya Yesus malahan menghendaki ucapan syukur itu keluar dari lubuk hati yang terdalam dari seseorang, dan bukannya sekedar rangsangan dari luar, seperti pelbagai anugerah yang telah diterimanya. Kiranya Injil hari Minggu kemarin juga menjadi refrensi pembanding bagi kita, sebagaimana 'apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya' (Mrk 7: 20) dan bukannya yang masuk ke dalam diri seseorang, demikian pula pujian dan syukur yang sejati, indah dan berkenan kepada Tuhan itu  sungguh-sungguh keluar dari lubuk hati dan jiwa umatNya, dan bukannya sekedar ikut-ikutan, karena orang lain mengajaknya. Yesus dengan keras melarang dan tidak memperbolehkan mereka, orang-orang yang tadinya kerasukan setan itu, berbicara dan menyebutkan bahwa Ia adalah Mesias. Kiranya orang-orang yang mengelilingi Dia mampu menyebut, mengenal dan merasakan sendiri bahwa sang Mesias ada di tengah-tengah mereka, dan bukannya karena diberitahu.

Banyak orang di antara kita mengharapkan peristiwa di rumah Petrus terus berlanjut sampai sekarang ini. Ada mukjizat dan mukjizat, sehinga mereka berduyun-duyun datang ke sana. Bukankah Yesus sendiri mengatakan: juga di kota-kota lain Aku diutus? Kiranya maksud baik ini perlu mendapatkan apresiasi. Namun kiranya yang lebih penting lagi dari semua itu adalah, bukannya peristiwa di rumah Simon Petrus yang terjadi kembali, melainkan kehadiran Dia sendiri di rumah kita itulah, yang seharusnya menjadi kerinduan kita bersama. Sebab Dia datang diutus Bapa di surga, bukan untuk mengadakan aneka mukjizat, melainkan di kota-kota mana pun Dia datang dan memberitakan Injil Kerajaan Allah. Allah hadir menyapa dan menyelamatkan umatNya itulah inti pewartaan Kristus Tuhan.

Kita ini memang masih hidup secara manusiawi, sebagaimana dikatakan Paulus dalam bacaan pertama tadi. Kita harus jujur mengakuinya. Kualitas kerinduan rohani kita pun amatlah terbatas, kita belum dewasa dalam Kristus. Kita masih harus minum susu, dan belum siap menerima makanan keras. Kita harus berani jujur mengakuinya. Sebab memang dari sinilah kita akan beranjak untuk semakin berani menikmati kehadiranNya yang menghidupkan; yang pada akhirnya bukan peristiwa-persitiwa di rumah ibu mertua Petrus yang dihadirkan, melainkan Dia sendiri hadir dalam rumah kita. 'Allah yang memberi pertumbuhan' itulah kerinduan kita, dan bukannya peristiwa dan anugerah-anugerahNya.

 

  

Oratio:

 

Yesus Kristus, Engkau selalu hadir di tengah-tengah kami. Pertajamlah hati dan jiwa kami, agar kami merasakan kehadiranMu, sebab kami percaya bahwa kehadiranMu yang kami rasakan dalam setiap langkah hidup kami akan membuat diri kami merunduk di hadapanMu.

Yesus, hanya padaMulah, kami berserah.  Amin.

 


 

Contemplatio:

 

'Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus'.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening