Sabtu Biasa XXIII, 15 September 2012


1Kor 10: 14-22  +  Mzm 131  +  Yoh 19: 25-27




Lectio:

Pada saat itu dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. 

Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.




Meditatio:

Maria adalah seorang perempuan yang amat istimewa. Semenjak lahir dia dikandung tanpa dosa, tidak seperti manusia ciptaan lainnya. Dia mendapat anugerah seperti ini, karena memang dia kelak dalam perjalanan hidupnya menjadi tanda dan tempat kehadiran Allah yang maha agung dan mulia. Dia dipersiapkan Allah menjadi yang mulia.

Namun begitu, dia tidak terpaku dalam keluhuran yang dimilikinya. Dia adalah sama seperti kita, sebagai homo sapiens, manusia yang berpikir, karena anugerah akal budi yang kita miliki. Apa yang didengarnya dari Tuhan, dia pertanyakan dan persoalkan: mengapa yang lain tidaklah mendapatkan bagian sedemikian indah seperti dirinya, mengapa semuanya itu hanya terjadi pada dirinya? Mengapa dirinya harus mengandung seorang Anak laki-laki, bukankah Tuhan sendiri tahu risiko yang dihadapi oleh seorang perempuan yang mengandung tanpa ke berkenalan dengan seorang laki-laki? Maria bertanya dan bertanya, karena dia tidak mau diistimewakan dari orang lain.

Ini adalah kemauan Allah. Allah berkuasa atas umatNya. Akal budi manusia tetap berjalan, tetapi dia tetap berani menaruh dirinya pada tempat yang benar, ketika Allah menyatakan kehendakNya kepada dirinya. Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu. Di mana Allah berada di situ pun, Maria mampu menempatkan dirinya. Ketika sang Putera dimuliakan di salib, Maria sang bunda berdiri di dekatNya. Semenjak awal dia telah dipilih, sampai akhir hidup pun dia tetap setia pada pilihannya. Maria tidak mempunyai hati yang mendua. Maria tetap pada pilihannya: mengikuti Kristus Putera, yang telah dilahirkannya. 

Maria mungkin pernah diejek sebagai 'kebo nyusu gudel' (Jawa: induk belajar dan ikut anaknya), tetapi dia tidak gentar, karena dia telah memilih yang terbaik bagi hidupnya. Paulus dalam bacaan pertama menegaskan: 'kamu tidak dapat minum dari cawan Tuhan dan juga dari cawan roh-roh jahat. Kamu tidak dapat mendapat bagian dalam perjamuan Tuhan dan juga dalam perjamuan roh-roh jahat. Atau maukah kita membangkitkan cemburu Tuhan? Apakah kita lebih kuat dari pada Dia?'. Kita tidak dapat meminjakkan kedua kaki kita di tempat yang berbeda. Kita harus berada di satu tempat yang terbaik dan mendatangkan keselamatan, sebagaimana dilakukan Maria. Maria tetap memilih yang terbaik, walau jiwanya harus tertembus sebilah pedang (Luk 2: 35), dan sekarang ini harus berdiri di bawah salib sang Putera.

Kesetiaan Maria mendatangkan berkat bagi banyak orang. Yesus mengangkat Maria menjadi duta kesetiaan dalam mengikuti diriNya. 'Inilah ibumu!', tegas Yesus kepada Yohanes, kepada kita semua, untuk berani meneladan sang ibu-Nya, seorang perempuan yang mempunyai nominasi di hatiNya, yang memang sebelumnya telah diminta terlebih dahulu untuk mendampingi Yohanes dan kita semua dalam mengikutiNya. 

Hari ini kita merayakan Maria berdukacita, bukan karena dia tenggelam dalam dukacita, melainkan keberanian Maria mengikuti sang Putera sampai di kayu salib. Dia, tidak saja bergembira bersama sang Putera ketika Dia dilahirkan, melainkan juga Maria ikut bersukacita ketika sang Putera dimuliakan di kayu salib. Maria berdukacita, karena dia begitu setia mengikuti sang Putera memanggul salib; sekaligus Maria bersukacita karena dia menngikuti sang Putera yang dimuliakan di salib.




Oratio:

Ya Yesus, Engkau melihat sendiri kesetiaan Maria, bundaMu. Ajarilah kami juga menjadi orang-orang yang setia dalam mengikuti Engkau, sehingga kami pun menjadi orang-orang yang bersukacita bersamaMu di kayu salib.

Ya Maria, bantulah kami anak-anakmu ini. Amin.




Contemplatio:

Ibu, inilah anakmu.













Oremus Inter Nos, 
Marilah kita saling mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening