Sabtu dalam Pekan Biasa XXIV, 22 September 2012


1Kor 15: 35-49  +  Mzm 56  +  Luk 8: 4-15




Lectio:

Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri pada Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan: Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat." 

Setelah berkata demikian Yesus berseru: "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!" Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, apa maksud perumpamaan itu. Lalu Ia menjawab: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti. 

Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan." 




Meditatio:

'Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!', tegas Yesus kepada semua orang yang mendengarkanNya. Yesus meminta kita semua untuk berani mendengarkanNya, dan bukan hanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan, atau sebaliknya. Terlebih-lebih, tegas Yesus: 'sebab kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti'.

Anugerah istimewa inilah yang harus kita nikmati: kita diizinkan hari demi hari semakin mengenal misteri Kerajaan Allah, merasakan dan mengalamiNya; yang memang Kerajaan Allah bukan soal makanan dan minuman, melainkan kebenaran, sukacita, damai sejahtera dan pengendalian diri. Keberanian kita untuk menikmatiNya membuat kita 'berkenan pada Allah dan dihormati oleh manusia' (Rom 14: 17-18).


Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. 

Adakah di antara kita yang seperti perumpamaan pertama ini? Tidak ada pasti, namun kiranya menjadi pemahaman kita bersama, bahwa iblis memang tidak datang secara menghebohkan dan gempar, ataupun menakutkan, melainkan seringkali dalam perihal sederhana dan kecil, yang mampu menimbulkan kecewa, putus asa dan penolakan kepada Dia sang Empunya keselamatannya. Ketidakpuasan diri seringkali menghambat banyak orang dalam pengenalan akan sabda kehidupan.


Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. 

Pengalaman seperti ini bisa terjadi, karena memang mendengarkan sabda hanya sebatas penghibur jiwa dan pelipur lara. Mereka merasa bangga boleh mengenal Tuhan dan menikmati anugerah-anugerahNya. Dia suka memberi, terpujilah Dia, itulah yang sempat dikatakannya. Namun pelipur lara memang ada tenggang waktunya, maka ketika duka telah berlari dan hilang, sang penghibur ditinggalkan, dan dia akan pergi melancong ke mana dia kehendakI; dia akan mencari penghibur yang lain, bila memang duri datang kembali menusuk


Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. 

Mereka adalah orang-orang yang sudah mapan hidupnya, bahkan berkelimpahan, ada pula dari antara mereka yang hidup berkekurangan. Merasa kurang nyaman dan tidak merasa puas, mereka mencari dan mencari. Mengikuti Yesus malahan dianggap mengurangi kesempatan untuk mendapatkan kekayaan dan kenikmatan yang lebih besar. Mengikuti Yesus tidak mendatangkan rezeki, malahan dipenuhi dengan aneka nasihat untuk tidak bertindak ini dan itu. Pikiran yang sepenuhnya terarah kepada perihal insani dan inderawi akan mengalihkan perhatiannya dari yang Illahi.


Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan'.

Mereka adalah orang-orang yang memang merindukan keselamatan dari Tuhan. Merindukan bantuan dan pertolonganNya. Mereka malahan dengan berani mengatakan: apa yang Tuhan kehendaki, mereka akan melakukannya. Mereka yakin, tanpa Dia sang Empunya kehidupan, mereka tak dapat berbuat suatupun. Hanya dalam Dia, mereka mendapatkan kehidupan. Pemahaman kita akan kehendakNya akan mempermudah kita beroleh rahmat kebangkitan badan, sebagaimana dikatakan Paulus dalam bacaan pertama tadi: 'manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga. Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari sorga. Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi'. Menjadi tanah yang subur adalah harapan sang Penabur dalam membagikan kasihNya. Keberanian kita memenuhi keinginanNya, bukannya memberi kepuasan kepadaNya, melainkan bagi kita sendiri mendapatkan sukacita.




Oratio:

Ya Tuhan Yesus, Engkau menaburkan sabdaMu dalam diri kami. Engkau mengajak kami untuk berani mendengarkan sabdaMu dan melaksanakannya. Semoga kami dengan setia menikmati kehendakMu yang menyelamatkan  ini, dan semoga rahmat kebijaksanaaMu selalu mengayomi kami sehingga kami tidak mudah jatuh dalam khayalan-khayalan dunia. Amin.




Contemplatio:

'Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!'.











Oremus Inter Nos, 
Marilah kita saling mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening