Senin Biasa XXIII, 10 September 2012



1Kor 5: 1-10  +  Mzm 5  +  Luk 6: 6-11




Lectio:

Pada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka dapat alasan untuk mempersalahkan Dia. Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu: "Bangunlah dan berdirilah di tengah!" Maka bangunlah orang itu dan berdiri. 

Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?" Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. 

Maka meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus.



Meditatio:

'Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?'.

Inilah komentar dan sekaligus jawaban Yesus terhadap orang-orang Yahudi, khususnya orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, yang amat menjunjung tinggi hukum Taurat, tetapi bukan secara benar, melainkan menjalankannya dalam praktek yang kaku dan mati. Setiap orang tidak boleh bekerja atau melakukan sesuatupun pada hari Sabat, termasuk hal-hal yang remeh dan sederhana. Hari Sabat hanya untuk Tuhan.  Maka ketika Yesus masuk ke rumah ibadat untuk mengajar, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka dapat alasan untuk mempersalahkan Dia. Menyembuhkan orang sakit adalah suatu pekerjaan, dan bukannya penyelamatan. Itu pandangan mereka.

Di situ memang ada seorang yang mati tangan kanannya.   Yesus yang mengetahui pikiran jahat mereka, yakni orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, berkata kepada orang yang mati tangannya itu: 'bangunlah dan berdirilah di tengah!'.  Orang itu pun bangun dan berdiri. Kemudian Yesus menantang mereka dengan pertanyaan tadi: 'manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?'.  Yesus tidak menjawabi inti persoalan: boleh atau tidak melakukan pekerjaan di hari Sabat, melainkan boleh-tidak melakukan pekerjaan yang baik di hari Sabat. Mereka semua para lawanNya tidak ada yang mampu menjawabNya. Sepertinya, melakukan kebaikan dan menyelamatkan orang tidak masuk dalam pertimbangan hukum Taurat. Bukankah mereka ini orang-orang pandai? Mereka tak berdaya menjawabNya, karena memang mereka melakukan semuanya itu hanya untuk mencari-cari alasan guna menangkap Yesus.  Mereka tidak berdaya, karena memang mereka melawan Allah, padahal mereka adalah orang-orang yang pandai dan bijak. Mereka ini, berlawanan dan berkebalikan sungguh dengan orang-orang yang tidak mampu dan tak berdaya di hadapan Tuhan, ketidakberdayaan mereka malahan mendatangkan kekuatan dari Allah.

Mereka semua pasti bisa menjawab dengan pasti, bila memang mereka mempunyai kasih. Kasih yang mengatasi hukum itu (bdk Rom 13: 19), tidak mereka miliki. Mereka tahu banyak tentang aneka peraturan, tetapi mereka tidak tahu, bahkan miskin bagaimana mengetrapkannya. Mereka mengetahui hukum, tetapi tidak mengenal kehidupan yang sesungguhnya.

Sesudah itu,  Yesus memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: 'ulurkanlah tanganmu!'. Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Yesus tidak berkata-kata tentang kesembuhan, melainkan berkata-kata tentang cita-cita: yang mati tangan mengulurkan tangannya, yang buta melihat, yang tuli mendengar dan yang bisu berbicara. Yesus menjawabi cita-cita orang yang lemah dan tak berdaya. Ketidakberdayaan kita seharusnya menghantar kita untuk berani mendekati Yesus yang akan menjawabi cita-cita dan keinginan kita.

Meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus. Mereka marah karena kejahatan mereka tidak tersalurkan. Adakah kita lanjutkan kejahatan kita? Sangatlah baik malahan, bila kita tidak membiasakan mengawalinya. Yesus sendiri pernah menegaskan: bukan saja mereka yang membunuh harus dihukum, mereka yang marah pun harus sudah mendapatkan hukuman (Mat 5: 22).



Oratio:

Ya Tuhan Yesus, kuasailah kami dengan Roh kudusMu, agar kami bertindak bijak dalam hidup ini. Berani memilih yang terbaik, terlebih yang mendatangkan keselamatan bagi banyak orang.



Contemplatio:

'Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?'.









Oremus Inter Nos, 
Marilah kita saling mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening