Senin dalam Pekan Biasa XXIV, 17 September 2012


1Kor 11: 17-26  +  Mzm 40  +  Luk 7: 1-10




Lectio:

Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati. Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya. Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya: "Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami."  

Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: "Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya." Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!" Dan setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, didapatinyalah hamba itu telah sehat kembali.




Meditatio:

'Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!'.

Inilah kekaguman Yesus kepada seorang perwira, yang  mempunyai seorang hamba yang sakit dan hampir mati. Dia tidak memandang hambanya itu sebagai budak belian, yang dipakainya ketika dia berguna dan bisa membantu, tetapi dicampakkannya ketika dia tidak berdaya; tetapi tidaklah demikian dengan sang perwira ini, dia malahan hendak merawat dan mencari kesembuhan baginya.

Anehnya, dia tidak berani datang sendiri kepada Yesus. Ia meminta bantuan tua-tua bangsa Yahudi, karena memang dia bukan seorang Yahudi. Dia pun tidak berani dikunjungi oleh Yesus, karena memang dia merasa tidak pantas menerima kehadiran sang Guru. 'Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh, sebab aku sendiri seorang bawahan'.

Perwira ini memang orang yang sungguh-sungguh rendah hati dan tahu menempatkan diri. Dia tahu benar siapakah Orang yang datang kepadanya. Kerendahanhati menjadi tanda, yang sungguh-sungguh valid dan sah, bahwa seseorang mengenal Tuhan Allah. Sebab hanya kerendahan hati yang mampu membuat seseorang berani merundukkan diri di hadapan Tuhan. Seseorang memang sadar akan tugas dan pekerjaannya, dia mampu berperan dalam masyarakat, bahkan dia seseorang ahli yang dibutuhkan oleh jamannya, tetapi ketika berhadapan dengan sang Empunya kehidupan, dia merasa tak berdaya dan hanya bisa merundukkan diri.

Kemauannya mendapatkan jawaban pasti dari Tuhan Yesus. Hambanya mendapatkan kesembuhan. Ia mendapatkan jawaban pasti, karena memang dia percaya dan berserah diri kepada Yesus.



Hari ini secara istimewa keluarga Karmel merayakan pesta Santo Albertus dari Yerusalem, seorang uskup yang memberi regula kepada Ordo Karmel berdasar cara hidup yang mereka hayati. Albertus adalah seorang yang banyak tahu tentang kitab suci; demikian juga kerinduan para karmelit untuk menikmati hadirat Allah hanya bisa terpenuhi dalam menjalankan sabda dan kehendak Tuhan Allah; maka di sinilah titik temu antara Uskup Yerusalem ini dengan para karmelit. Mereka dipertemukan dalam mengenal Tuhan Allah melalui kitab suciNya yang kudus.

Kiranya pesta Santo Albertus kembali mengingatkan kita semua, bahwa mengenal Allah dan kerahimanNya hanya dapat ditemukan melalui kitab suci, sebab kitabNya yang kudus ini, tidak dapat disangkal, sebagai perjalanan manusia dalam mengenal Allah. Kitab suci yang satu dan sama inilah juga yang akan menyatukan banyak orang dalam mengenal Allah. Tentunya kita semakin bersatu padu dalam persaudaraan kasih,  bila memang kita bersandar hanya dalam sabda dan kehendakNya.

Regula Karmel bukanlah berdasar pengalaman seorang pendiri lembaga, karena memang Ordo Karmel muncul dalam sejarah, bukan berdasar kharisma seseorang, melainkan semata-semata hanya bersumber pada kitab suci, yang tak lain dan tak bukan adalah sabda dan kehendak Tuhan sendiri. Karena itu, benar bila dikatakan bahwa menghayati regula Karmel berarti hanya menghayati sabda dan kehendak Tuhan Allah sendiri.

'Katakan saja sepatah kata', juga akan selalu kita ucapkan karena keterbiasaan kita dalam mendengarkan dan melaksanakan sabdaNya. Kata-kata kitab suci akan selalu terpaut dalam hati dan budi kita.





Oratio:

Ya Yesus, kami ingin hidup selalu dalam kehadiranMu, yang memang hanya dapat kami kenal pertama-tama melalui sabda dan kehendakMu, sebagaimana tersurat dalam kitab suci. Ajarilah kami untuk semakin menjadi pelaksana-pelaksana sabda dan kehendakMu.

Santo Albertus, doakanlah kami kami agar kami mampu mengenal Yesus Kristus, Tuhan dan Allah kita. Amin.





Contemplatio:

'Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Indonesia!'.













Oremus Inter Nos, 
Marilah kita saling mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening