Jumat Biasa XXVIII, 19 Oktober 2012


Ef 1: 11-17  +  Mzm 33 +  Luk 12: 1-7

 

 

 

 

Lectio:

 

Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: 'Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi'.

Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas atap rumah.

Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia! Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekor pun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit".

 

 

Meditatio:

 

'Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi'.

Pernyataan Yesus ini mengajak para muridNya, kita semua, untuk selalu berhati-hati dan bertindak bijak. Kiranya tepatlah, apa yang kita renungkan dua hari yang lalu, bahwa kita pun ikut bersalah, bila kita memberi perhatian terhadap orang-orang bertindak mencari kehormatan diri. Kita harus berani berkata tidak terhadap mereka, agar mereka menjadi jera. Bila kita berani berkata  seperti itu, kita mengikuti Yesus. Kemunafikan memang akan berhenti, sebab 'tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui; apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas atap rumah'. Namun baiklah, kita tidak memberikan kesempatan sehingga tumbuh dan berkembang, baik dalam diri sendiri atau orang lain.

Kita harus berani berkata tidak terhadap mereka, agar mereka menjadi jera. Inilah tugas perutusan. Berat memang, bagaikan seekor anak domba berhadapan dengan serigala. Dalam keadaan jaman sekarang ini, kiranya semakin dipersulit oleh budaya hirarki-patriakal, konkritnya berkenaan dengan status-sosial yang ada di antara kita, yang begitu kuat mengikat. Yesus meminta kita untuk terus maju, tidak takut atau pun gentar. 'Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia!'.

Allah sendiri lebih banyak memperhatikan, karena memang kita umat yang dikasihiNya, kita adalah putera-puteri Bapa di surga. 'Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekor pun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit'.

Takut kepada 'Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka', tidaklah diartikan bahwa kita hidup dalam kegelisahan, jiwa merasa terancam dan harus menyembunyikan diri, sebagaimana yang pernah dilakukan Adam dan Hawa (Kej 3: 8-10), karena memang telah melakukan kesalahan dan dosa. Takut kepada Dia berarti taat dan takwa, merundukkan diri di hadapanNya, membiarkan diri dibimbing dan dipimpin olehNya, atau dalam rumusan Paulus dalam surat kepada umat di Efesus, sebagaimana dalam bacaan pertama, itu berarti 'hidup di dalam Kristus', dan bukannya hidup menurut kemauan dan kendali diri sendiri. Hidup di dalam Dia, lebih lanjut Paulus menambahkan, 'kita akan mendapat bagian yang dijanjikan, yakni keselamatan, boleh mendengarkan firman kebenaran, yaitu Injil, dan dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu, yang memang adalah jaminan untuk memperoleh penebusan, yang menjadikan kita milik Allah, dan memampukan kita memuji kemuliaan-Nya'.

Maka kiranya kita dapat memilih yang terbaik dalam hidup ini. Kepongahan dan kemunafikan, hendaknya tidak kita beri tempat dalam hidup pribadi kita ini, demikian juga dalam kebersamaan hidup. Kita harus berani berkata tidak terhadap kemunafikan, walau yang ada di depan kita adalah mereka orang-orang yang mempunyai kedudukan sosial lebih tinggi dari kita, termasuk mereka yang telah 'menduduki kursi Musa' (Mat 23: 2) dan juga mereka para penggantinya. Keberundukan diri, malahan hanya kita arahkan kepada Dia Sang Empunya kehidupan ini.

 

 

Oratio:

 

Yesus, Engkau mengutus kami juga untuk mewartakan kabar sukacita. Terima kasih Yesus, atas kepercayaan yang Engkau berikan kepada kami. Tambahkanlah iman kepercayaan kami, agar kami semakin berani mewartakan sabdaMu, sehingga kami semakin hari semakin siap berkarya di manapun dan kapan pun, sebagaimana anak domba yang pergi ke tengah-tengah serigala. Amin.

 

 

Contemplatio:

 

'Jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit'.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening