Kamis Biasa XXIX, 25 Oktober 2012

Ef 3: 14-21  +  Mzm 33 +  Luk 12: 49-53

 

 

 

 

Lectio:

 

Suatu hari bersabdalah Yesus: "Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung! Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya."

 

 

Meditatio:

 

Api yang menghidupkan!

Itulah yang diharapkan Yesus. 'Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!'. Dia menebarkan kasih dan sukacita, sehingga hidup ini semakin hidup. Ada gairah, ada semangat, ada gelora yang menghidupkan. Api itu diharapkan tetap menyala, karena memang hidup tidak berhenti di dunia sekarang ini. Hidup terus tumbuh dan berkembang dalam kebersatuan dengan Empunya kehidupan itu sendiri. Hidup memang harus semakin terarah pada sang Pemberi hidup itu sendiri, dan saat itulah hidup penuh makna.

' Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung!'. Wajarlah penyataan Yesus sebagai seorang manusia sama seperti kita. Baptisan yang dimaksudkan adalah salib yang harus dipanggulNya. Dia merasakan lapar dan haus. Dia merasakan sukacita dan dukacita. Yesus memang sadar akan tugas perutusanNya. Dia sadar bahwa 'Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga' (Mat 16: 21), tetapi tentunya harus juga kita pahami, kalau kakiNya terinjak,  Dia pasti akan mengeluh. 'Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya' (Mat 26: 38). Ia berkata-kata demikian, karena Dia memang sungguh-sungguh seorang manusia. Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah (Luk 22: 44). Itulah yang terjadi ketika Dia berkanjang dalam doa.

 Semuanya terjadi, karena Dia ingin menjadi tebusan hidup bagi seluruh umat manusia. Apakah semua orang harus menerimaNya? Ya harus, demi keselamatan umatNya. Namun tak dapat disangkal, keselamatan adalah sebuah pilihan, walau diberikan secara cuma-cuma. Memang, 'Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang' (Yoh 3: 19), maka benarlah apa yang dinyatakan Yesus tadi: 'Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!', karena api, yang dilemparkan itu, akan memurnikan banyak orang untuk semakin berani mengambil pilihan yang tepat dan benar. Karena itu Yesus kemudian menegaskan: 'kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya'. Hidup adalah panggilan, keselamatan adalah pilihan.

Apa yang akan kita lakukan? Tentunya kita pasti akan memilih yang terbaik bagi hidup kita, dan kita siap untuk dimurnikan dan disucikan, walau tak disangkal aneka kecenderungan insani akan berontak dan melawan, bahkan secara sadar kita akan mendukung pemberontakan itu. Itu wajar. Itu tandanya: ada kehidupan dalam diri kita. Namun kiranya rahmat kasih Allah, hari demi hari juga akan tumbuh dan berkembang. Sebab Allah adalah kasih. Kita pun tidak sendirian. Ada banyak orang yang mendoakan kita, termasuk santo Paulus, sang pahlawan iman kita. Katanya dalam bacaan pertama: 'aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. Amin'.

Mari kita saling meneguhkan. Oremus inter nos, kita saling mendoakan.

 

 

Oratio:

 

Ya Tuhan Yesus, Engkau menghendaki agar kami memilih bagian yang terbaik bagi hidup kami, yakni keselamatan. Ajarilah kami menjadi orang-orang yang setia dalam pilihan hidup, sebab jujur kami akui kecenderungan insani amatlah kuat dalam diri kami.

Yesus, bantulah kami yang lemah ini. Amin.

 

 

Contemplatio:

 

'Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!'.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening