Kamis dalam Pekan Biasa XXVI, 4 Oktober 2012


Ayb 19: 21-27  +  Mzm 27  +  Luk 10: 1-12




Lectio:

Suatu hari Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. 

Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapapun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu. Tetapi jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah: Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat. Aku berkata kepadamu: pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu."




Meditatio:

'Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu'.

Yesus meminta para muridNya untuk meminta pekerja dan tenaga kepada sang Empunya tuaian, yakni Bapa di surga. Para pekerja hendaknya segera diutus, karena banyaknya tuaian yng harus dipanen. Jumlah pekerja yang sekarang ini tidaklah mencukupi dibanding dengan tuaian yang harus dipanennya. Inilah realitas pastoral Gereja sekarang ini. Kebutuhan akan tenaga-tenaga pastoral, khususnya para imam amatlah kurang. Gereja sebagai umat yang dikasihiNya harus selalu bermohon dan bermohon kepada Tuhan untuk semakin banyak mengutus para imamNya yan kudus. 

Permintaan Yesus ini adalah suatu ajakan untuk selalu berani bertanggungjawab. Kita hendaknya tidak pandai menerima dan menerima, tetapi juga berani berusaha. Permohonan ini sekaligus menunjukkan bahwa tugas penggembalaan itu berasal dari Allah dan adalah kemauan Allah. Tugas penggembalaan adalah kehendak Allah untuk menyelamatkan umatNya, bahwasannya seluruh umat manusia diundang untuk merasakan diri mereka sebagai milik Allah. Allah telah menabur, maka Allah sendiri sang Empunya tuaian. Dengan demikian, tugas penggembalaan boleh diartikan mengembalikan umat manusia menjadi milik Allah.

Atas dasar itulah, Yesus mengutus 'menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya'.  Mengingat intensi perutusanNya begitu berat: mengembalikan seluruh umatNya menjadi milikNya, maka tugas yang mereka terima itu sebagai perutusan 'seperti anak domba ke tengah-tengah serigala'. Suatu tugas perutusan yang amat berat dan menantang dan penuh resiko, bagaikan seekor anak domba ke tengah-tengah serigala; dan bukannya seperti seekor serigala ke tengah-tengah kawanan anak domba, yang pasti suatu tugas perutusan, yang  menakutkan mereka yang mendengarkan dan membinasakan.

Dalam perutusanNya itu, para murid diminta tidak membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan tidak memberi salam kepada siapapun selama dalam perjalanan. Mereka diminta tidak merepotkan diri dengan aneka perbekalan. Mereka harus lurus berjalan, tidak singgah di sana-sini. Setiap kali memasuki suatu rumah, sampaikan salam damai sejahtera bagi  mereka. Setiap orang harus menjadi pembawa damai bagi sesama. Jika mereka menerima, tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya dan janganlah suka berpindah-pindah rumah satu ke rumah lainnya, sembuhkanlah orang-orang sakit, dan wartakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat; tetapi jikalau mereka tidak mau menerima, pergilah dan kebaskan debu kota itu.

Yesus tidak mempunyai kepentingan apa-apa dengan karya perutusan itu, tetapi Dia amat serius dengan karya perutusan, yang semuanya demi keselamatan semua orang yang mendengarkannya. Ketidakmauan seseorang untuk mendengarkan sabda keselamatan menjadi perhitungan tersendiri bagiNya, dan ini berarti kebinasaan, di mana pada hari akhir, tanggungan Sodom akan lebih ringan dari pada kota itu. Sedangkan mereka, yang memang rindu akan keselamatan Allah, akan mendengarkan dan menerima dengan baik karya perutusan itu. Itulah yang pernah diungkapkan Ayub; walau dalam duka dan aneka kesulitan,  dia tetap menaruh harapannya pada Tuhan. 'Aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu. Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingkupun aku akan melihat Allah'.

Kiranya kita yang hidup dalam jaman ini tetap berani berdoa dan berdoa bagi karya penggembalaan, yang memang itu semua ditangani oleh orang-orang yang ada di antara kita. Semoga para gembala kita semakin berpaut kepada Yesus, sang Gembala agung, dan kita semua berani mendengarkan sabda dan melaksanakannya.




Oratio:

Ya Tuhan Yesus, karya penggembalaan Gereja adalah kehendakMu sendiri. Semoga kami berani mentaati dan menghormati karyaMu yang agung ini. Dan kiranya Engkau semakin melimpahkan rahmat dan kasihMu kepada para gembala kami. Amin.




Contemplatio:

Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. 












Oremus Inter Nos, 
Marilah kita saling mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening