Minggu Biasa XXVIII, 21 Oktober 2012


Yes 53: 10-11  +  Ibr 4: 14-16 +  Mrk 10: 35-45

 

 

 

 

Lectio:

 

Suatu hari Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: "Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!" Jawab-Nya kepada mereka: "Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?" Lalu kata mereka: "Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu." Tetapi kata Yesus kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?" Jawab mereka: "Kami dapat." Yesus berkata kepada mereka: "Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima. Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan."

Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."

 

 

Meditatio:

 

'Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu'.

Inilah keinginan kedua orang murid Yesus, yang kemungkinan besar juga menjadi keinginan banyak orang, untuk duduk dalam kemuliaan Allah kelak. Suatu permohonan yang amat wajar untuk menikmati sesuatu yang lebih baik; dan terlebih lagi kedua murid ini ternyata adalah orang-orang yang bertanggungjawab. Bukankah, seperti dikatakan Tuhan melalui nabi Yesaya dalam bacaan pertama tadi bahwa: 'sesudah kesusahan jiwa, seseorang akan melihat terang dan menjadi puas', sebab memang seorang pekerja patut mendapatkan upah (Luk 10: 7); kedua murid berani meminta karena  mereka juga merasa telah mengabdikan dirinya. 'Hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul'. Permintaan kedua murid amatlah beralasan dan tepat sasaran. Mereka tahu bahwa Yesus adalah Hamba Allah yang dimaksudkan Yesaya tadi.

Kedua murid  tidak hanya berani dan pandai meminta, mereka adalah orang-orang yang siap sedia menerima tugas perutusan. 'Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?', tantang Yesus kepada mereka; dan mereka menyahut: 'kami dapat'. Cita-cita dan keinginan mereka untuk menikmati kemuliaan ilahi benar-benar menyemangati hidup mereka. Mereka siap diutus, dan mereka siap menderita. Inilah iman dan kasih.

'Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima', tegas Yesus; bukankah barangsiapa hendak mengikuti Dia, 'harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikutNya' (Mat 16: 24). Namun demikian, 'hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan'. Sepertinya setiap orang, yang mampu melakukan aneka kebaikan hidup, diminta untuk tidak melihat segala perbuatan baiknya itu, untuk memastikan dan  menjaminkan diri mendapatkan pelayanan istimewa dan anugerah-anugerahNya. Segala anugerahNya diberikan, karena kehendak dan kemauanNya, dan Dialah yang menentukan, dan bukan berdasar jasa baik seseorang. Kemurahan hati Tuhan tidaklah dibatasi dan ditentukan oleh kebaikan seorang umatNya. Beriman yang benar bukan do ut des (Latin: saya memberi supaya saya diberi). Saya akan meminum cawan yang diberikanNya, karena memang saya mau. Inilah cinta.

'Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya', tegas Yesus memurnikan kemauan setiap para muridNya. Semua orang diminta untuk melakukan segala sesuatu demi Allah sendiri, dan bukannya untuk mendapatkan jaminan. Yesus tidak hanya meminta dan meminta, tetapi juga melaksanakannya, sebagaimana dikatakanNya sendiri: 'Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang'. Yesus bukanlah seperti 'ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang menduduki kursi Musa, yang mengajarkannya, tetapi tidak melakukannya' (Mat 23: 2-3). Kehidupan Yesus adalah satu-satunya contoh utama untuk beroleh keselamatan, untuk duduk dalam kemuliaan Allah kelak.

 

 

 

Oratio:

 

Ya Tuhan Yesus, Engkau mengundang setiap orang untuk menikmati keselamatan, Engkau bahkan memberi kami bekal satu per satu, sesuai dengan kemampuan kami masing-masing. Semoga spiritualitas hidupMu menjadi spiritualias hidup keseharian kami, yang memang datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani.

Tuhan Yesus, berkatilah saudara dan saudari kami yang berkarya dalam bidang pelayanan sosial, terlebih mereka yang melayani orang-orang sakit, bukan mereka yang berada di rumah-rumah sakit mewah, tetapi mereka yang berada di daerah pedalaman, daerah konflik dan yang tidak mendapatkan perhatian umum. Amin.

 

 

Contemplatio:

 

'Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya'.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening